Bukankah Cinta itu Indah?

125 30 1
                                        

Seminggu telah berlalu sejak mereka melewati hari-hari penuh tekanan ujian semester di SMA Angkasa. Sekolah hari itu terasa hidup dengan cara yang berbeda: suara derap langkah kaki siswa yang terburu-buru keluar kelas, aroma serbuk kapur yang masih menempel di papan tulis, tumpukan kertas ujian yang tercecer di beberapa meja—semuanya menjadi semacam latar musik alami dari perjuangan akademik yang baru saja mereka lewati. Hari ini menandai ujian terakhir, dan bagi Aurina, Kalea, dan Sadara, ini adalah momen yang ditunggu-tunggu: bisa duduk kembali dalam satu ruangan setelah seminggu berpisah.

Meski bangku Aurina berada di ujung kelas, tepat di bawah pengawasan kamera CCTV, hatinya berdebar tidak kalah kencang dari detak jantung orang-orang yang baru saja menghadapi ujian terakhir. Matanya menatap catatan, tetapi pikirannya sesekali melayang, menyadari bahwa Zidan duduk persis di belakangnya. Ia mencoba mengabaikannya, menahan diri untuk tidak terlalu peduli, tapi sulit. Cara Zidan memperhatikan setiap geraknya—entah bagaimana—membuatnya merasa seakan ada magnet tak terlihat yang menarik mereka.

Zidan, dengan mata yang kadang menatap layar ponsel, lebih sering diam-diam mengamati Aurina. Ada sesuatu dalam caranya menulis catatan dengan tangan kiri, senyum tipis yang muncul ketika ia berhasil memecahkan soal, bahkan bibirnya yang sesekali bergumam sendiri saat berpikir, semuanya terasa begitu memikat bagi Zidan. Hatinya berdebar setiap kali Aurina menoleh, meski gadis itu berusaha bersikap biasa saja. Chemistry yang mereka bangun secara diam-diam terasa nyata, meski belum diungkapkan dalam kata-kata.

Suara guru di depan kelas memecah keheningan. "Keluarkan semua kunci jawaban kalian kalau ada yang kalian sembunyi!"

Beberapa siswa menoleh ketakutan, tapi Aurina hanya mengangkat alis tipis, menatap guru dengan ekspresi datar—tidak ada yang perlu disembunyikan, dan dia memang bukan tipe yang curang. Zidan menghela napas pelan, matanya tetap mengikuti setiap gerakan gadis di depannya. Ada sensasi hangat di dadanya—sebuah campuran antara kekaguman dan kekhawatiran, karena ia tahu Aurina bisa menjadi sangat serius bila menyangkut hal-hal yang ia pedulikan.

Suara bisikan dari belakang memecah ketegangan.
"Na, pinjem pulpen dong," bisik Zidan, suara lembut tapi cukup jelas bagi Aurina yang duduk tepat di depannya.

Aurina menoleh sebentar, menatap Sadara yang memberinya isyarat untuk menurunkan suara. Tanpa kata, ia mendorong pulpen ke arah Zidan menggunakan ujung jarinya. Tapi Zidan, entah sengaja atau tidak, menjangkau pulpen itu dan menarik tangan Aurina sedikit lebih keras. Tubuh Aurina ikut terdorong.

Pletak!

Kepala Zidan terkena lemparan pulpen. "Na! Sakit!" Zidan memegangi kepalanya sambil meringis, tapi ada senyum samar di sudut bibirnya—senyum yang hanya bisa dilihat Aurina.

"Lebih sakit mana daripada gue hampir jatuh!" balas Aurina, suaranya tegas, tapi di dalam hatinya ada rasa hangat yang aneh ketika melihat Zidan sedikit meringis. Chemistry mereka terasa seperti percikan listrik kecil yang menempel di udara—menggelitik, tetapi menghibur.

Guru di depan mengerutkan kening. "Zidan! Aurina! Keluar kalian berdua!" Bentaknya dengan tegas.

Aurina menatap Zidan sebentar, mata mereka bertemu, dan seakan ada komunikasi diam-diam yang tidak perlu diucapkan. "Untung gue udah selesai," ia mengejek dengan nada ringan, mencoba menutupi detak jantungnya yang sedikit tidak stabil.

"Tapi bu, Zidan ini belum selesai mengerjakan tugas yang ibu berikan," sahut Zidan santai, membuat beberapa siswa menahan tawa di balik meja mereka.

Guru menatap Zidan dengan tajam. "Keluar kamu, Zidan, atau ibu laporin ke guru BK!"

Zidan memberi hormat singkat, tersenyum tipis kepada Aurina, dan berlari keluar kelas mengikuti langkah gadis itu. Di luar kelas, udara sore terasa lebih segar, seolah menghapus tekanan yang menyesakkan di dalam ruangan.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang