Cahaya Bulan

94 18 0
                                        

Suara bel istirahat menggema di seluruh sekolah. Seketika kantin langsung berubah jadi lautan suara—gelas yang beradu, suara tawa, dan langkah siswa yang buru-buru cari meja kosong.

Seperti biasa, di meja pojok yang telah menjadi hak paten mereka, diatasnya sudah di penuhi beberapa makan dan minum yang baru disajikan. Ada nampan berisi ayam goreng, mie instan, dan jus warna-warni.

"Gila, rame banget hari ini," gumam Mahesa sambil menyeruput es teh. "Kayak semua orang tiba-tiba lapar bareng."

Rylan mengangkat sendoknya. "Itu tandanya, sekolah ini butuh dua kantin lagi."

"Dan, dua kantin itu bakal bangkrut karena lo suka kasbon," sahut Zidan santai.

Semua tertawa, termasuk Aurina. Tawa yang sudah lama tak selega itu.

Zidan melirik sekilas ke arah gadis di sebelahnya. "Kamu makan dikit banget, Na."

Aurina menatap piringnya. "Udah kenyang."

"Kok gitu, ini baru tiga suapan," ujar Zidan, namun tanpa banyak berpikir, ia mengambil potongan ayam goreng dari piring Aurina. "Ya udah, biar aku aja yang habisin," katanya sok cool.

Mahesa langsung berseru, "Woi! Nih orang baru jadian udah kayak sinetron!"

Aurina memukul lengan Zidan pelan, pipinya memerah. Zidan hanya terkekeh pelan. "Biarin aja, udah biasa dia iri."

Mahesa menunjuk Zidan dengan sendok. "Gue bukan iri, ya. Gue cuma khawatir. Soalnya kalau lo udah bucin, dunia bisa kacau."

Rylan ikut nimbrung. "Setuju. Beda banget sama Zidan yang dulu, dingin dan bodoamatan. Tapi sekarang, tiap lima detik mesti ngelirik Aurina."

Aurina hanya geleng-geleng, tapi senyum di bibirnya gak bisa disembunyikan. Suasana meja itu hangat, walau berisik riuh, tapi suasana seperti ini nyaman untuknya—kayak gak ada beban apa pun selain mikirin ujian dan rencana kelulusan nanti.

Sementara itu, Kalea duduk di sisi seberang, diapit oleh Sadara dan Rylan yang sibuk ngobrol berdua membahas seputar game. Ia lebih banyak diam, sesekali ikut tertawa saat Mahesa melontarkan candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil bikin semua orang tertawa.

"Kalian sebenarnya harus sadar, hidup ini kayak mie goreng abang-abang," kata Mahesa dengan nada sok bijak. "Gak bisa dimasak tanpa minyak."

Rylan langsung nyamber. "Terus siapa minyaknya, Hes?"

Mahesa menepuk dadanya bangga. "Gue dong. Gue yang bikin semuanya berkilau."

Semua langsung menyoraki, termasuk Sadara yang tertawa sampai nyenggol bahu Kalea. "Serius deh, dia tuh ngomong kadang kayak gak punya rem," ujar Sadara sambil menahan tawa.

Kalea menggeleng sambil tersenyum tipis. "Udah biasa. Mahesa itu definisi 'bocah kompleks yang suka asbun'."

"Eh, eh, kedengeran lho, Kalea!" protes Mahesa dari seberang meja.

Sadara menimpali cepat, "Emang sengaja biar lo sadar diri!"

Semua kembali tertawa. Kalea sempat menatap ke arah Zidan dan Aurina yang duduk berdampingan di seberang. Mereka tampak romantis, saling bertukar senyum kecil tanpa banyak bicara. Ada saat dimana Zidan mencondongkan badan sedikit, memastikan Aurina cukup ruang dan nyaman.

Kalea menatap meja di depannya sambil memainkan sedotan di gelas jusnya. Suara tawa teman-temannya memenuhi udara. Dari luar, semuanya terlihat biasa saja. Ramai dan hangat, layaknya suasana siang di sekolah. Namun, di dalam kepala Kalea, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa mengganjal. Bukan karena Aurina punya Zidan. Bukan. Ia cuma... terkadang heran, gimana caranya Aurina selalu punya orang yang peduli sama dia tanpa diminta.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang