Siang itu kampus sudah mulai sedikit lebih lengang. Setelah melewati seminggu yang penuh kegiatan ospek dan perkuliahan perdana, suasananya mulai kembali normal, masih ramai tapi tidak sepadat seperti biasanya. Beberapa mahasiswa terlihat duduk di taman belakang fakultas hukum, tempat yang teduh dengan beberapa pohon besar yang menjulang dan bangku beton yang disusun melingkar membentuk sebuah taman ditengahnya. Dikta duduk di salah satu bangku itu, membuka kotak makan berukuran kecil sambil sesekali menatap layar ponselnya. Ia sedang menunggu jadwal kuliah selanjutnya yang dimulai masih satu jam lagi. Di sela-sela waktunya, ia membuka galeri ponselnya berniat untuk mencari foto materi minggu lalu — hasil dokumentasi yang biasanya ia jadikan catatan belajar.
Jempolnya menelusuri foto demi foto sembari mengunyah beberapa suapan, melewati beberapa deretan foto tugas, tangkapan layar materi hukum pidana, dan beberapa foto teman sekelas yang tidak sengaja tertangkap oleh kameranya. Hingga akhirnya, langkah jarinya terhenti pada satu foto yang mencuri perhatiannya. Bukan pada foto materi yang sebelumnya ia cari, melainkan pada foto gitar milik Aurina, yang diulu diambil di ruang aula sebelum acara Dies Natalis dimulai.
Dikta menatap pemandangan di layar itu cukup lama. Ia bahkan hampir lupa bahwa ia pernah memotret benda tersebut. Saat itu dirinya sedang panik karena melihat senar gitar Aurina tiba-tiba putus, padahal sebentar lagi acara akan dimulai, untung saja ada beberapa senar cadangan di dalam tasnya. Tanpa berpikir panjang, Dikta segera memotret gitar Aurina untuk dokumentasi laporan kepanitiaan saat itu. Hanya saja saat ini, ketika ia kembali melihat foto itu, entah kenapa membuat dadanya merasakan sesuatu cukup mencurigakan. Ia kembali menatap foto itu lebih lama, sedetik kemudian ia mengerutkan kening. Dan, benar saja, setelah diperhatikan lebih detail, di dalam foto tersebut ada sesuatu yang terasa tidak biasa dan seharusnya tidak berada disitu.
Gitar itu terlihat tergeletak di atas meja panjang di dalam ruangan, berada di antara beberapa lembar kertas partitur dan kabel panjang. Cahaya dari lampu atas membuat bayangan jatuh samar ke sekelilingnya. Dan, tepat di pojok kiri bawah gitar itu, sesuatu berwarna biru muda menarik perhatiannya.
Dikta memiringkan kepalanya, lalu kembali memperbesar foto itu perlahan. Sebuah cutter kecil, berwarna biru muda dengan bentuk yang unik membentuk awan kecil. Ia menatap benda itu cukup lama. Otaknya kemudian berusaha mengaitkan dengan memori yang sudah lama terjadi. Cutter itu tidak asing baginya, seperti pernah melihat sebelumnya, pikirannya perlahan mulai menyusun potongan-potongan kegiatan itu, semuanya seolah berputar dengan cepat di kepalanya.
Dikta mengingat bahwa saat itu, di ruang OSIS meja penuh dengan kertas warna-warni untuk persiapan mading, suara gunting dan lem beradu menempel di dinding. Kalea duduk di seberangnya waktu itu, rambutnya diikat asal-asalan dan seragamnya sedikit kusut karena bersungguh-sungguh mengerjakan mading untuk acara Dies Natalis nanti.
"Menurut Kak Dikta ini lucu, gak? Bentuknya kayak awan gitu," kata Kalea sambil menunjukkan cutter kecil itu padanya.
"Iya, lucu," jawab Dikta sambil tersenyum. "Tapi, ukuran cutternya terlalu kecil, lo gak takut cutter itu hilang?"
"Makanya gak aku pinjemin ke siapa-siapa. Ini barang favoritku."
Benar. Adegan itu semakin berputar jelas di kepala Dikta. Cutter yang sama persis dari bentuknya, warnanya, bahkan beberapa goresan di gagangnya. Tapi kenapa, benda itu berada di sekitar gitar Aurina tepat saat senar gitarnya putus. Nafasnya perlahan mulai terasa berat. Bodohnya ia saat itu, kenapa tidak menyadari hal ini sejak lama, sebelum semakin banyak kejadian yang bisa membahayakan Aurina .
Dikta menatap layar ponselnya lama, perasaannya semakin campur aduk antara terkejut, bingung, dan sedikit takut. Karena artinya, seseorang yang ia kenal dengan baik bahkan bisa disebut sahabatnya dengan Aurina, ternyata mungkin ada hubungannya dengan beberapa insiden yang nyaris membuat Aurina dalam bahaya dan celaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Ficção Adolescente[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)