Suara koper yang diseret di lantai rumah sakit bergema lembut, berpadu dengan aroma kopi hangat yang baru saja dibuat ibunya. Cahaya matahari musim semi menembus tirai tipis, menyentuh rambut Dikta yang kini tumbuh sedikit lebih panjang dari sebelum ia meninggalkan Jakarta.
Ia tampak lebih segar, jauh berbeda dari beberapa bulan lalu ketika tubuhnya ringkih dipenuhi luka. Kini, wajahnya kembali berseri sehat, tatapan matanya hidup lagi. Namun, di balik senyum itu, ada sesuatu yang lain — perasaan yang sulit dijelaskan, seperti kerinduan yang telah lama disimpan rapat-rapat.
"Akhirnya..." gumam Dikta pelan sambil meregangkan tubuh. "Jakarta, I'm coming."
Ia melangkah ke meja kecil di pojok ruangan, tempat laptopnya masih menyala menampilkan sebuah laman pendaftaran universitas. Jurusan Hukum, di kampus yang sejak dulu ia impikan. Ia baru saja menekan tombol submit untuk data terakhir. Senyum kecil muncul di wajahnya, walaupun sempat tertunda, untung saja kampus ini membuka pendaftaran dua kali gelombang, keberuntungan masih berpihak padanya.
Pandangannya kemudian jatuh pada layar ponsel yang menampilkan satu notifikasi belum dibuka — dari Aurina.
Aurina: "Kabarin nanti ya, Kak. Gue tunggu di bandara. Safe flight!"
Dikta membaca pesan itu berulang-ulang. Ujung bibirnya terangkat, ia sangat merindukan sahabatnya. Ia bersandar di meja, memainkan ponselnya sebentar sebelum mengetik balasan.
"Oke, gadis manis. Jangan kesiangan, ya. Gue kangen banget sama mie ayam depan kompleks."
Pesan terkirim. Tapi bukan itu yang sebenarnya ingin ia katakan. Yang ingin ia tulis adalah: "Gue kangen sama lo." Namun jempolnya berhenti di tengah jalan, seperti biasa. Ia menghela napas, menertawakan dirinya sendiri. "Bego," gumamnya pelan. "Sahabat kok bisa segini denial-nya."
Sebenarnya, Dikta tahu — perasaan itu sudah tumbuh sejak lama. Sejak hari di mana ia tanpa menunggu Aurina di depan rumah setiap pagi, hanya untuk memastikan gadis itu tidak telat sekolah. Sejak malam di mana ia menjemputnya saat hujan turun, tanpa alasan lain selain ingin memastikan Aurina gak sendirian. Namun, ia selalu menolak untuk mengakui. Karena bagi Dikta, menjaga Aurina terasa lebih mudah daripada kehilangan sahabat karena kejujuran.
"Dikta, udah siap, Nak?" suara lembut ibunya memecah lamunannya.
Dikta menoleh, tersenyum hangat. "Iya, Bu. Tinggal beresin dokumen sama boarding pass."
Sang ibu menghampiri, menepuk pundaknya dengan lembut. "Akhirnya kamu bisa pulang juga, ya. Ibu bangga banget liat kamu sekarang sudah sembuh."
Dikta menatap wajah ibunya — perempuan yang menemani semua masa-masa sulitnya. "Kalau bukan karena Ibu dan ayah, mungkin aku gak bisa sampai di tahap ini."
Ibunya tersenyum, matanya sedikit berkaca. Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Aurina, melainkan Kalea.
Kalea: "Hey, Kak Dikta! Jadi hari ini landing jam berapa? Biar aku bisa ke bandara juga."
Alis Dikta langsung berkerut. Kenapa Kalea juga mau ke bandara?
Padahal, kalau memang ingin menyambut, seharusnya Kalea bisa berangkat bareng Aurina. Mereka selalu bareng ke mana pun. Tapi anehnya, pesan Aurina tadi tidak menyebut siapa pun. "Gue tunggu di bandara." Bukan kami, bukan aku dan Aurina.
Dikta menatap layar ponselnya lama. Ada sedikit firasat aneh yang sulit dijelaskan — sesuatu yang mengganjal di dada. Ia membalas cepat.
"Jam 9 pagi waktu Jakarta. Tapi gak usah repot-repot, Kal. Nanti juga ada Aurina."
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)