Gitar Listrik Merah

105 20 2
                                        

Matahari baru naik separuh, sinarnya menembus sela dedaunan yang memantul di jalan. Motor Zidan melaju pelan di jalan raya yang belum terlalu ramai saat itu. Aurina duduk di belakangnya, menggenggam tas di pangkuan. Rambutnya yang dibiarkan terurai sedikit beterbangan tertiup angin. Sudah lama berapa hari ia tidak berangkat sekolah pagi-pagi begini — rasanya kangen.

"Eh, Zidan..." panggilnya pelan. "Lo sadar gak, semua orang bakal ngeliat kita kayak pemandangan aneh nanti? Seorang Zidan yang bandel ini.. datang bareng Aurina si Diva sekolah."

Zidan tertawa kecil tanpa menoleh. "Biarin. Sekali-sekali lo harus jadi spotlight bareng gue."

"Spotlight apaan," Aurina mendengus. "Ntar dikira gue gatel sama cowok minta di anter."

"Kalau sama Dikta lo gak takut dikira gitu," sahut Zidan. "Atau.. kalau bareng gue, lo anggap sebagai moment spesial?"

Aurina mengernyit. "Spesial apanya? Biasa aja, tuh."

Zidan gak jawab, cuma tersenyum kecil. Tangannya kemudian merogoh kantong jaket, mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan diam-diam. Sebuah cokelat kecil dengan pita pink menempel di atasnya. Ia menyodorkannya ke belakang tanpa menoleh.

"Buat lo."

Aurina memandanginya bingung. "Apaan, nih?"

"Coba lo baca tulisan di pitanya."

Aurina menunduk, membaca tulisan kecil di note yang ditempel

Selamat pagi, yang ulang tahun tapi pura-pura lupa.

Aurina tertegun sejenak, lalu menatap punggung Zidan. "Lo... inget?"

Zidan terkekeh pelan. "Gue gak pelupa kayak lo, Na. Apalagi, orangnya spesial buat gue."

Aurina menunduk, pura-pura sibuk membuka bungkus cokelatnya. Tapi matanya berkaca sedikit, entah karena angin pagi atau sesuatu yang membuatnya happy saat itu.

"Eh, jangan nangis di motor gue ya. Ntar dikira gue jahatin lo," kata Zidan cepat, setengah bercanda.

"Siapa yang nangis!" Aurina menepuk bahunya pelan.

Udara pagi menerpa wajah mereka, membawa aroma daun basah dan roti panggang dari beberapa kafe di pinggir jalan.

"Gue kangen suasana pagi kayak gini," gumam Aurina pelan.

"Ya udah, mulai sekarang lo harus sering ngerasain lagi," balas Zidan. "Semangat ke sekolah, ketawa ceria, bahkan jadi nyebelin juga gak apa-apa."

Aurina tertawa kecil. "Gue emang gak bisa gak kesel sama lo, sih."

Zidan menoleh sekilas, matanya memantulkan cahaya matahari. "Nah, ini baru Aurina yang gue kenal."

Motor mereka terus melaju melewati deretan toko yang mulai buka, siswa-siswa lain berjalan berkelompok dengan seragam yang sama, beberapa teman melambaikan tangan ke arah Zidan dan Aurina. Perlahan, gerbang sekolah mulai tampak di depan—halaman sudah mulai ramai, langkah sepatu dan tawa siswa bercampur jadi satu, seolah menyambut pagi yang baru dimulai. Begitu motor Zidan berhenti di parkiran, beberapa temannya menoleh.

"Eh, itu Aurina!"

"Dia udah balik sekolah lagi, ya?"

"Bareng Zidan, woi? Wah, combo comeback nih."

Bisik-bisik kecil mulai terdengar. Tapi anehnya, kali ini Aurina gak merasa canggung. Justru, ia tertawa kecil sambil menunduk.

Zidan mematikan mesin motor, lalu menatapnya. "Tuh kan, lo langsung jadi trending topik."

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang