Puzzle

122 25 4
                                        

Kafe klasik di dekat taman rumah Aurina masih buka sampai larut malam. Lampu gantung bergoyang lembut tertiup angin dari ventilasi, memantulkan bayangan samar di wajah Zidan yang menatap layar laptop di depannya. Malam itu terasa panjang. Detik terasa lebih berat setiap kali jarum jam berdetak. Di luar, hujan baru saja reda.

Di sebelahnya, Rylan duduk gelisah, mengetuk meja dengan jari. "Bro, lo yakin mau liat ini sekarang? Gue belum pernah buka lagi sejak hari itu."

Zidan tidak menjawab, matanya tetap terpaku pada layar. Suaranya rendah tapi tegas. "Putar aja, Lan. Gue harus tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."

Rylan mengangguk pelan, lalu menekan tombol play. Rekaman dimulai dengan tawa-tawa mereka—Zidan, Aurina, Kalea, Rylan, Mahesa dan Dikta—semua tampak bahagia di aula sekolah malam itu. Kamera bergoyang, fokus berpindah-pindah, menyorot cahaya lampu gantung dan wajah-wajah yang berseri.

Namun beberapa menit terakhir, suasananya berubah. Dalam rekaman, tampak mobil hitam di ujung jalan kecil dekat parkiran. Suaranya samar tapi cukup jelas—ada suara mesin dinyalakan, ada juga bayangan seseorang yang tampak menunduk di balik setir.

Zidan mencondongkan tubuhnya, matanya tajam menatap layar. "Berhenti di situ. Mundurin dikit."

Rylan memundurkan video beberapa detik. Lalu menghentikannya di satu titik. Kamera sempat menyorot mobil itu dari jarak jauh—hanya sekilas, tapi cukup jelas menampilkan sosok di balik kaca depan.

Hening.

Zidan membeku. Wajahnya mendadak kehilangan ekspresi, darahnya serasa berhenti mengalir. "...Nggak mungkin."

Rylan melirik, bingung. "Kenapa? Lo liat siapa?"

Zidan mengatur napasnya, mencoba memastikan apa yang dilihatnya bukan sekadar ilusi. Ia memperbesar gambar—pikselnya sedikit pecah, tapi bayangan itu tak bisa disangkal. Rambut panjang diikat rapi, wajah pucat, mata yang tajam tapi kosong.

Bukan Kanaya. Bukan siapa pun yang pernah ia curigai.

Itu Bianca.

Bianca—siswi sekelas mereka. Pendiam, selalu duduk di barisan belakang, jarang bicara, selalu menunduk kalau dipanggil guru. Seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar mereka perhatikan.

Rylan mengernyit. "Bro... itu Bianca, kan?"

Zidan tak menjawab. Ia hanya menatap layar, pupil matanya bergetar. "Gue kira... gue kira Kanaya. Tapi kenapa... Bianca?" suaranya bergetar, antara marah, bingung, dan takut.

Ia mengingat momen-momen kecil: Bianca yang beberapa kali terlihat mengamati Aurina dari jauh, tatapan aneh di koridor, atau saat Bianca tiba-tiba izin pulang lebih dulu malam itu dengan alasan sakit kepala. Semua potongan kecil itu kini seperti puzzle yang baru saja disusun dengan sempurna—dan hasilnya membuat dada Zidan menegang.

Ia berdiri, kursinya bergeser keras mengenai lantai. "Rylan, kasih gue salinan videonya. Sekarang."

"Zid, tunggu dulu—kita nggak bisa asal nuduh orang, apalagi Bianca—"

"Tapi itu jelas banget, Lan!" potong Zidan, suaranya meninggi tapi gemetar. "Itu bukan Kanaya. Gue liat jelas! Gue pikir dia cuma anak pendiam biasa, tapi... kenapa dia bisa di situ, malam itu?"

Rylan menatapnya dengan wajah serius, mencoba menenangkan. "Kita cari tahu dulu. Mungkin ada alasan—"

"Tapi mobil itu yang nabrak Dikta!" bentak Zidan, matanya berkilat. "Gue nggak bisa diam, Lan. Gue janji bakal nemuin siapa yang nyakitin mereka berdua, dan sekarang gue udah nemu jawabannya."

Suasana hening kembali. Hanya terdengar suara hujan yang mulai turun lagi di luar jendela, lembut tapi menusuk. Zidan menatap layar terakhir kali, menatap wajah Bianca yang terekam samar di balik kaca mobil itu.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang