Kedai Roti

72 16 0
                                        

Aurina berdiri di depan cermin kecil di kamarnya, merapihkan poni dan menyatukan rambutnya ke dalam cepol sederhana. Ia menepuk ringan bedak di pipinya untuk memberi warna, menarik napas, lalu tersenyum pada bayangannya sendiri.

"Hari ini gue harus lebih semangat," gumamnya pelan.

Ketika ia keluar dari kamar, Sadam sedang mengikat tali sepatu di ruang tamu. Pandangannya langsung naik begitu melihat Aurina keluar membawa helm sepeda di tangannya.

"Na," panggil Sadam tiba-tiba. "Lo yakin masih belum mau kuliah, nih? Gak usah mikirin soal biaya, gue bisa bantu kapan pun lo mau."

Aurina menahan langkahnya, ada jeda sesaat sebelum ia menatap kakaknya sambil tersenyum kecil. "Makasih, Kak. Tapi gue beneran suka sama pekerjaan gue sekarang,  jadi nemu hobi baru, dan gue nyaman juga," jawabnya. "Lagipula jaraknya nggak terlalu jauh, tinggal naik sepeda."

Sadam memperhatikan adiknya beberapa detik. Ingin memaksa, tapi ia tahu Aurina bukan tipe yang mudah digoyahkan. Ia akhirnya mengangguk pelan. "Kalau gitu hati-hati di jalan," katanya.

Aurina mengangguk lalu mengenakan helm, mendorong sepedanya keluar rumah, lalu mengayuh pelan di sepanjang jalan kompleks. Angin pagi menampar lembut wajahnya, membawa aroma dedaunan basah dari kejauhan.

Tidak sampai lima belas menit, ia sampai di toko mungil dengan pintu kaca dan cat warna pastel, di depannya berdiri sebuah papan bertuliskan Crumb Bakery. Setelah mengunci sepedanya, ia masuk dan langsung disambut dengan wangi adonan yang baru dipanggang.

Aurina membuka pintu, membiarkan aroma manis yang tersisa menyambutnya. Setelah menyalakan lampu dan membuka tirai, ia segera menuju rak display. Roti-roti hangat yang baru dikeluarkan dari oven dipindahkannya satu per satu, beberapa croissant ia susun bertingkat, soft cookies ia jajarkan lurus, sementara pastry ia letakkan di bagian paling depan agar mudah terlihat.

Belum lama setelah ia menata roti terakhir di rak depan, bel pintu berdenting halus, tanda pelanggan pertama hari itu datang.

"Selamat pagi, mau pesan apa kak?" Aurina menyapa tanpa benar-benar melihat wajah pelanggan.

"Mau dua roti croissant cokelat."

Aurina tersenyum dan mengangkat kepalanya. Namun, saat tatapan keduanya saling bertemu, tubuh mereka refleks terlonjak kaget. "K... Kak Kanaya?" suara Aurina tercekat.

Setelah ikut terdiam sejenak, Kanaya akhirnya tersenyum halus. Rambutnya terlihat lebih pendek, dan wajahnya tampak lebih dewasa. Banyak yang berubah, termasuk pembawaannya lebih tenang daripada saat di SMA dulu.

"Hai... Aurina," sapa Kanaya ramah. "Lo kerja di sini sekarang?"

"Iya, kak. Baru masuk beberapa hari yang lalu."

"Wah, tempatnya lucu yah." Kanaya menatap sekeliling toko kecil itu sambil tersenyum lagi.

Aurina mencoba membalas senyuman itu meski gugupnya sulit disembunyikan. Ia mengambil roti-roti pesanan Kanaya dan memasukkannya ke dalam kotak kertas sambil berusaha tidak menjatuhkan apa pun.

Kanaya bersandar sedikit di meja kasir. "Kita udah lama banget ya nggak ketemu. Sekarang gue, Zidan, sama Dikta satu kampus, lho. Seru juga ketemu mereka lagi."

Kalimat itu menusuk Aurina seperti jarum kecil—tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa panas.

"Sama-sama di fakultas ekonomi bisnis, ya?" tanya Aurina pelan, mencoba terdengar setenang mungkin.

Kanaya mengangguk jelas. "Iya. Kalau Dikta beda fakultas, dia ambil hukum."

Aurina hanya menggumam paham, ada sedikit rasa aneh  yang muncul—bukan cemburu, bukan takut—lebih seperti ketidaknyamanan yang datang dari membayangkan bahwa ketiga orang itu kini menjalani hari mereka bersama, sementara ia di sini. Bekerja di sebuah bakery kecil.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang