Sejak kejadian mobil hitam itu, setelah satu bulan berlalu. Sekolah berjalan seperti biasa, tapi bagi Zidan, waktu terasa lambat—setiap detik berlalu tanpa jawaban.
Pagi itu, ia duduk di ruang OSIS yang sepi, meja dipenuhi catatan, print-out jadwal, dan diagram alur CCTV. Tangannya menatap layar laptop, menelusuri ulang rekaman dari hari-hari sebelum kecelakaan. Wajahnya letih, mata sembab karena kurang tidur, tapi tekadnya tak pernah pudar.
"Kenapa gue nggak bisa nemu siapa... siapa yang nyoba nyakitin Aurina?" gumamnya sendiri, hampir terdengar seperti mengutuk dirinya sendiri. Ia menepuk meja dengan frustrasi, lalu menatap ulang rekaman CCTV di halaman sekolah.
Namun, yang ia lihat hanyalah layar kosong, atau fragmentasi gambar yang rusak. Kamera di sisi koridor tempat Aurina terakhir terlihat sebelum pulang ke parkiran... sudah dirusak. Kabelnya terpotong, casingnya penyok. Zidan menekuk bibir, menahan rasa panik yang mulai menjadi amarah.
Ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap lapangan belakang. Angin sore menyusup, membawa aroma rumput dan sedikit debu. Semua terlihat tenang, seperti tidak ada yang pernah terjadi. Tapi Zidan tahu—bahwa ketenangan itu palsu. Sesuatu, seseorang, berada di balik semua ini.
"Gue nggak becus..." bisiknya pelan, hampir berbisik pada dirinya sendiri. "Udah satu bulan... dan gue nggak dapet apa-apa. CCTV rusak, bukti lenyap... dan Aurina tetap... terancam."
Tangannya meremas kertas, memikirkan semua kemungkinan. Siapa yang cukup berani melakukan ini? Siapa yang bisa mengatur sabotase dari gitar, makanan Aurina, sampai mobil hitam itu? Semua terorganisir, terencana. Dan satu hal yang jelas bahwa orang itu bisa saja orang terdekatnya.
Zidan menutup matanya, menarik napas dalam. Ia membayangkan Aurina tertawa di taman sekolah, mengirim foto kecil ke Dikta, atau sekadar menegur teman yang usil. Rasa bersalah mengganjal—karena ia merasa seharusnya bisa melindungi dia lebih baik.
Ia menyalakan kembali laptop, membuka catatan lama, terlihat daftar orang yang berada di sekitar Aurina dan Dikta saat insiden. Guru, staf kebersihan, satpam, bahkan teman sekelas yang mungkin melihat sesuatu. Setiap nama ia tulis di buku catatan, dengan kolom untuk motif, kesempatan, dan bukti.
"Gue bakal nyari siapa pun itu," Zidan bersumpah pelan, suaranya serak tapi penuh tekad. "Lo nggak bakal nyakitin Aurina lagi. Gue, nggak bakal gagal." Ia menunduk, menatap tangan yang menggenggam mouse.
***
"Eh, Na," suara Zidan memecah riuhnya lorong saat mereka keluar kelas. Nada suaranya ringan, tapi ada getar kecil yang tak bisa ia sembunyikan. "Makan siang bareng gue, nggak?"
Aurina menoleh, alisnya terangkat, setengah terkejut. "Makan siang? Sama lo? Gue kan udah janji sama teman gue," jawabnya, walaupun sambil menahan senyum tipis.
Zidan melangkah lebih dekat, menjaga jarak yang nyaman tapi cukup untuk menatap matanya. "Gue cuma... pengen ngobrol sebentar aja. Nggak lama kok, janji."
Aurina menghela napas panjang, matanya menatap Zidan sebentar. Ada sesuatu di sana—serius, tapi hangat. "Ya udah, sebentar aja."
Mereka berjalan beriringan ke kantin, langkahnya santai. Aurina sesekali membuka ponsel, membalas pesan singkat ke Dikta yang jauh di Swiss. Zidan memperhatikan diam-diam, dada sedikit sesak melihat itu. Bayangan Dikta selalu hadir, tapi ia menelan rasa sakit itu yang tidak sepadan dengan apa yang dirasakan Dikta. Saat ini, ia ingin fokus pada Aurina saja, menghadirkan kenyamanan yang bisa ia berikan.
Sesampainya di kantin yang agak sepi, mereka duduk di bangku panjang dekat jendela. Zidan menyerahkan cup minuman dingin. "Lo masih suka hazelnut, kan?" tanyanya ringan, menatap Aurina dengan mata yang agak berkilat.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Novela Juvenil[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)