Graduation Day & Farewell Class 12

128 30 3
                                        

Lapangan sudah ramai sejak matahari naik setinggi kepala. Musik dari pengeras suara bergema, bercampur dengan teriakan riuh dan tawa bahagia para siswa. Spanduk besar bertuliskan "Graduation Day & Farewell Class 12" tergantung di atas panggung utama, sementara di sekeliling taman belakang, deretan booth makanan berdiri dengan spanduk warna-warni.

Aroma sosis bakar, pastel goreng, takoyaki, dan boba manis memenuhi udara — menguarkan rasa hangat yang sulit dijelaskan. Aurina datang agak pagi. Ia mengenakan kemeja biru muda yang digulung di bagian lengan, dipadukan dengan jeans abu. Rambutnya diikat setengah, membiarkan sebagian jatuh menutupi pipinya yang sudah dipoles tipis bedak dan lip tint. Wajahnya bersinar, matanya berkilau menatap suasana yang ramai.

"Hmm... pengen coba rasa selain cokelat, deh. Antara Thai tea atau strawberry milk ya?" gumamnya pelan di depan salah satu booth minuman, jari telunjuknya menelusuri papan menu. Ia menggigit bibir bawah, bingung.

Dari kejauhan, seseorang ternyata memperhatikannya diam-diam.
Zidan — dengan kaus abu yang tanpa sengaja senada warnanya dengan jeans Aurina — berdiri di antara kerumunan siswa yang antre di booth sebelah. Dua cup minuman dingin ada di tangannya, dan entah kenapa langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Ia sempat ragu untuk maju, tapi akhirnya menarik napas panjang dan melangkah.

"Na," panggilnya, suaranya agak serak tapi tetap terdengar akrab.

Aurina menoleh cepat, sedikit terkejut. "Zidan? Lo udah dateng?"

Zidan mengangguk kecil sambil tersenyum. "Udah dari tadi. Nih, gue bawain ini. Hazelnut boba — lo masih suka yang ini, kan?"

Aurina berkedip, agak bingung tapi tersenyum samar. "Hah? Lo... masih inget?"

Zidan pura-pura mengangkat alis. "Ya iyalah, masa lupa? Lo dulu bisa ngambek cuma gara-gara menu ini cepet habis, inget gak?"

Aurina langsung menepuk bahunya pelan, pipinya memanas. "Ih, jangan diinget-inget dong! Malu tahu!"

"Hehe, iya deh," Zidan terkekeh pelan, ekspresinya ringan tapi matanya hangat. "Tapi lo masih sama sih, kalau haus jadi sensi."

Aurina menyilangkan tangan di dada, menatapnya dengan gaya setengah menggertak. "Lo tuh dari tadi nyindir mulu, ya?"

"Bukan nyindir," jawab Zidan datar tapi matanya berkilat nakal. "Cuma observasi ilmiah."

Aurina mendengus, tapi tak bisa menahan tawa kecil. "Observasi pala lo."

Keduanya tertawa bersamaan — ringan, canggung, tapi entah kenapa terasa nyaman.
Ada jeda kecil di antara tawa itu, seperti ada sesuatu yang perlahan tumbuh tapi belum berani diakui.

"Eh, eh! Ada apa nih!" suara Sadara tiba-tiba memecah suasana. Ia datang dengan langkah lebar, diikuti Kalea yang menenteng es krim vanila. "Zidan lo mulai lagi, ya? Jangan mainin perasaan sahabat gue, dong!"

Kalea tertawa sambil menyikut bahu Aurina. "Bener tuh! Aurina tuh gampang baper, lo jangan iseng!"

Aurina langsung memelototi keduanya. "Apaan sih kalian! Dia cuma pengen ngasih gue boba!"

Zidan terkekeh kecil, menatap dua gadis itu bergantian. "Tenang aja, gue nggak seberani itu, kok."

"Tapi lo segigih itu?" cibir Kalea, yang langsung disambut tawa dari Sadara.

"Duh, ribet amat nih para slay," Zidan menangkis sambil nyengir. "Baru ngomong aja udah disidang."

Aurina geleng-geleng kepala, menahan tawa yang nyaris pecah. "Udah deh, kalian berdua kalau udah bareng gini jadinya emang kayak dua polisi lagi patroli."

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang