Always By My Side

110 21 1
                                        

Cahaya matahari menerobos tirai ruang tamu yang separuh terbuka, menyorot pada dua sosok di lantai ruang tengah — Dikta dan Aurina.

Aurina hari ini mengenakan sweater abu-abu yang sedikit kebesaran—milik Dikta. Rambutnya diikat seadanya, wajahnya masih sedikit pucat, ceria di wajahnya belum kembali. Di depannya terdapat stik PS yang tergenggam dengan canggung, sementara Dikta yang duduk di sebelahnya sedang berusaha menahan tawa saat melihat betapa payahnya Aurina dalam game balapan mobil yang sedang mereka mainkan.

"Na, itu beloknya ke kanan, bukan nabrak trotoar," celetuk Dikta sambil tertawa kecil.

Aurina mendengus kesal, "Susah banget ini, Kak. Mobilnya gak mau nurut."

"Justru lo yang nggak nurut sama gamenya," sahut Dikta santai, mencondongkan tubuh untuk mengambil alih kontrol saat mobil di layar berputar di luar jalur. "Nah kan, kalah lagi. Masih mau main?"

Aurina menggeleng pelan. "Capek. Kalah terus."

Dikta menatapnya, menaruh stik di meja, lalu bersandar di sofa. "Kalau main game itu bukan soal kalah atau menang, Na. Kadang, kita main cuma biar nggak mikirin hal yang nyakitin kita."

Aurina terdiam. Pandangannya menerawang ke layar televisi yang masih menampilkan tampilan menu game. "Kak..." suaranya pelan, hampir seperti bisikan. "Kamu pernah nggak sih ngerasa... dirumah tapi rasanya malah takut?"

Dikta terdiam sejenak. Pertanyaan itu menusuk lembut di dadanya. Ia menatap Aurina, yang kini menunduk, menggigit bibir bawahnya seolah menahan sesuatu. "Kalau aku jawab iya, kamu percaya?"

Aurina mengangkat kepala pelan. Ada air bening di matanya, tapi senyum kecil juga ikut muncul. "Berarti kita sama ya, Kak."

Dikta tersenyum lembut. Ia mengusap pelan kepala Aurina. "Kamu harus selalu ingat, kamu gak pernah sendiri. Sekarang, istirahat dulu dari semuanya, ya?"

Aurina mengangguk, menatap layar kosong di depannya. Untuk pertama kalinya sejak kemarin malam, napasnya mulai terasa sedikit lebih ringan. 

Ponsel Dikta bergetar di atas meja. Notifikasi dari dua orang muncul hampir bersamaan.

Zidan.

Ta, bisa ketemu bentar? Di Kafe dekat rumah lo aja. Gue mau ngomongin hal penting.

Kalea.

Kak Dikta, aku boleh mampir? Aku denger Aurina di rumah kamu. Aku sama Sadara cuma mau lihat keadaannya sebentar.

Dikta menatap kedua pesan itu cukup lama. Tangannya sempat berhenti di udara, seperti menimbang sesuatu.

Aurina yang duduk di sofa pun memperhatikan ekspresinya. "Ada apa, Kak?" tanyanya pelan.

"Zidan mau ketemu," jawab Dikta akhirnya, "Terus Kalea juga mau datang ke sini."

Zidan. Sudah berapa hari ia tidak berkabar dengan lelaki itu, hingga rasanya ada sedikit rindu yang terpendam. Hanya saja, untuk saat ini Aurina tidak yakin apakah Zidan akan tetap berada di sisinya saat mengetahui latar belakang keluarganya.

"Zidan, dan... Kalea, ya?"

"Iya, sama Sadara juga, sih." Dikta mematikan layar ponselnya. "Lo nggak apa-apa kan kalau mereka datang?"

Aurina menunduk. "Nggak tahu, Kak. Gue cuma... belum siap ketemu siapa-siapa."

Dikta mengangguk paham. "Untuk sekarang lo istirahat aja. Gue minta mereka datang nanti malam aja, kebetulan nyokap bokap gak pulang hari ini."

Aurina menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan dan berdiri. Setelah Aurina masuk ke kamar, Dikta menarik napas panjang. Ia menatap ponselnya sekali lagi sebelum membalas dua pesan itu.

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang