Ujian yang Tak Ada di Kertas

134 30 9
                                        


Zidan duduk di kursi dekat jendela, pandangannya kosong menatap uap yang keluar dari cangkir kopinya. Ia datang karena pesan singkat dari Kanaya.

Temui aku sekali aja, setelah ini aku gak bakal ganggu lo lagi.

Ia tidak tahu kenapa masih menurutinya. Mungkin karena rasa iba. Mungkin juga karena rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang. 

Tak lama kemudian, pintu kafe berbunyi—Kanaya masuk. Rambutnya digerai rapi, senyum tipis di wajahnya, tapi matanya menatap Zidan dengan campuran getir dan sesuatu yang Zidan sulit pahami. Ia tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang katanya ingin berpisah baik-baik.

"Zi," sapanya pelan, duduk tanpa diminta. "Makasih udah dateng."

Zidan hanya mengangguk. "Lo bilang mau ngobrol terakhir kali."

Kanaya menatapnya, lalu menunduk, memainkan sendok di gelasnya. "Iya. Gue cuma pengen mastiin satu hal."

Zidan menunggu, tapi Kanaya malah menatap keluar jendela. Ia seolah memperhatikan sesuatu di luar sana, tapi matanya menyimpan kilat yang ganjil.

"Aurina..." bisiknya tiba-tiba.

Zidan menegakkan punggungnya. "Apa?"

Kanaya tersenyum samar. "Cewek itu, ya? Yang sekarang sering lo temenin di sekolah?" Nada suaranya terdengar datar, tapi tatapannya tajam. 

Zidan menghela napas pendek. "Kanaya, gue dateng bukan buat ngomongin dia."

"Gue tau," potong Kanaya cepat. "Tapi lucu aja. Dulu lo bilang gak mau deket sama siapa pun lagi, Zi. Lo inget gak?"

"Orang bisa berubah," jawab Zidan singkat.

Kanaya menatapnya lama, matanya sedikit berkilat. "Atau mungkin lo cuma butuh pelarian baru."

Zidan menatapnya balik, menatapnya tajam. "Kalimat lo mulai ngawur."

"Tapi bener, kan?" Suaranya bergetar. "Gue tau lo terlalu baik buat nyalahin gue, tapi—"

Zidan memotong dengan nada pelan tapi dingin. "Udah, Nay. Gue kesini karena lo bilang pengen nutup semuanya. Jadi tolong jangan buka luka lama lagi."

Kanaya menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum. Namun, senyum yang entah kenapa membuat Zidan merasa tidak tenang. "Oke," katanya pelan. "Kalau gitu... boleh gue minta satu hal terakhir?"

Zidan menghela napas. "Apa?"


"Lihat ke luar."

Zidan refleks menoleh, menatap keluar jendela. Terlihat di ujung sana — tepat di trotoar tak jauh dari belokan depan kafe — Aurina duduk bersama Dikta di pinggir trotoar. Mereka tertawa kecil sambil menikmati es krim, terlihat santai, tidak menyadari bahwa dua pasang mata sedang memperhatikan mereka dari balik kaca.

Dada Zidan terasa mengeras. "Lo sengaja ngajak gue ke sini?" tanyanya pelan, nada suaranya menurun menahan amarah.

Kanaya menunduk, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. "Gue cuma pengen lo inget, Zi. Dunia lo gak selalu manis kayak yang lo pikir."

"Lo udah tau mereka bakal lewat sini, kan?"

Kanaya mengangkat bahu. "Mungkin iya, mungkin enggak. Tapi yang jelas... gue pengen liat gimana lo bereaksi waktu liat dia bareng orang lain. Apalagi orangnya.. Dikta."

Zidan berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser dengan suara gesek yang keras. "Lo gila!"

"Gue realistis," balas Kanaya tenang, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Karena kalau dia beneran ada perasaan sama lo, harusnya dia ga jalan sama temen cowoknya, kan?"

AURINA [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang