"Zidan! Balikin itu, sini!" Suara Aurina menggema di antara pepohonan flamboyan yang menjatuhkan kelopak merah muda ke tanah.
Zidan berlari kecil di depan, memegang sebuah buku berwarna pink muda di tangannya — buku yang sudah sedikit lusuh di tepinya. Senyum nakal mengembang di wajahnya. "Santai, Na. Aku cuma penasaran. Ini buku yang dulu kamu tulis waktu kita masih nggak saling ngomong, kan?"
Aurina hampir berhenti di tempat. "Zidan! Jangan dibuka, please! Itu... itu cuma tulisan lama."
Cowok itu justru semakin terkekeh, melangkah mundur sambil menatapnya. "Tulisan lama, tapi kamu masih simpan sampai sekarang. Jadi... siapa orang yang kamu tulis di buku ini, hmm?"
Aurina mengepalkan tangannya kesal, wajahnya memanas. "Zidan! Aku serius! Itu buku pribadi aku!"
Zidan pura-pura membuka halaman pertama, matanya menatap isinya sekilas. "Wah... tulisan kamu masih sama kayak dulu. Rapi banget. Tapi ini ada tulisan—"
"Zidan!" jerit Aurina lagi, kali ini benar-benar berlari ke arahnya.
Zidan terus mundur selangkah, masih sambil menahan tawanya gemas. Namun, sebelum sempat melarikan diri lagi, Aurina sudah lebih cepat mengejarnya. Ia menarik ujung kemeja Zidan, membuat cowok itu setengah terhuyung ke belakang. Buku di tangannya pun terlepas dan jatuh di rerumputan, terbuka pada halaman yang terisi tinta biru yang samar.
Keduanya sama-sama terdiam beberapa detik.
Aurina membungkuk cepat mengambil bukunya, tapi kalah cepat dari Zidan lebih dulu jongkok dan memungutnya. Ia menatap halaman itu sebentar, mebaca setiap kata disana lalu tersenyum lembut — kali ini tanpa tawa yang nakal.
"Tulisan ini..." Sudut bibirnya terangkat tipis, matanya masih menatap halaman itu. "Kukira dulu aku yang lebih dulu jatuh cinta... tapi ternyata ada seseorang yang udah jatuh diam-diam dari gue, ya?"
Aurina menatapnya lama, pipinya mulai memanas. Ia buru-buru tertawa kecil sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. "Ih... ya siapa suruh kamu dulu nyebelin banget sih. Jadi jatuhnya... ya gitu deh," katanya cepat, suaranya setengah malu, setengah gemas.
Zidan menatap balik wajahnya, mata mereka bertemu. Tidak ada yang berkata untuk beberapa saat. Angin siang berhembus pelan, menggoyangkan bunga flamboyan di atas mereka.
"Aku bodoh waktu itu," kata Zidan akhirnya, "Aku cuma takut... nanti kalau aku ngomong, semua bakal berubah. Tapi ternyata, yang paling nyakitin kamu waktu itu justru sikapku". Ia tersenyum kecil, kemudian menyentuh ujung rambut gadis itu yang jatuh di pipi.
"Tuh," katanya lembut sambil tersenyum kecil. "Simpan lagi bukunya, tapi jangansembunyiin apapun lagi. Aku pengen tahu semua hal tentang kamu, bahkan yang paling kecil sekalipun."
Aurina tertawa pelan, menatapnya dengan pipi yang memerah. "Iya, tapi yang ini gak usah dibaca lagi, ya. Malu banget sumpah."
Zidan terkekeh, mengangkat kedua tangan pura-pura menyerah. "Oke, oke. Tapi janji, nanti kamu ganti isinya sama cerita yang bahagia."
Tawa mereka pecah pelan, ringan dan tulus. Hingga dari kejauhan, tiga suara lain memotong kehangatan itu — Sadara, Rylan, dan Mahesa sudah berdiri di pinggir taman, menatap mereka dengan senyum menggoda.
"Eh, kalian ngapain berduaan di taman jam segini?" seru Sadara sambil melambaikan tangan. Rylan dan Mahesa muncul di belakangnya, membawa botol minum dan wajah penuh menggoda.
Aurina spontan melangkah mundur sedikit, tapi pipinya jelas memerah. "Tau, nih! Temen lo iseng banget, deh."
"Iseng ngerayu, maksudnya?" celetuk Rylan cepat, disambut tawa lebar dari Mahesa.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Fiksi Remaja[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)