Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Langit siang saat itu terlihat cerah, sekolah dipenuhi warna-warni spanduk dan bendera kecil yang berkibar di setiap sudut lapangan. Musik dari speaker aula utama mengalun pelan, menyemarakkan Dies Natalis, acara tahunan yang selalu menjadi kebanggaan seluruh siswa SMA Angkasa.
Di antara hiruk-pikuk itu, Aurina duduk di kursi barisan depan aula, menunduk sambil merapikan tatanan rambutnya yang sudah di-curly dengan rapi. Gaun pink pastel berhiaskan bunga-bunga kecil menempel manis di tubuhnya, membuatnya tampak seperti peri kecil yang tersesat di tengah dunia manusia.
"Oh my God, Aurina! Demi apa, ini lo cakep banget!" teriak Sadara begitu melihat Aurina berdiri. Suaranya langsung menarik perhatian beberapa murid lain.
Kalea menatap dengan mata menyipit, seolah meneliti setiap detail dandanan sahabatnya. "Kan, aslinya memang udah cantik. Make up-nya cuma nambah poin aja."
Aurina menunduk, pipinya memerah. Senyum kecil tersungging di bibirnya. "Kalian lebay," gumamnya pelan.
Kedua sahabatnya itu bukan sekadar datang untuk menonton, tapi juga membantu menyiapkan semua keperluan Aurina—gitar, mic stand, bahkan air minum. Aurina tahu, tanpa mereka, mungkin ia sudah panik sejak tadi.
"Udah sarapan belum?" tanya Kalea tiba-tiba.
Aurina menggeleng. "Belum."
"Ya ampun! Gue aja yang penonton ini udah dua kali makan!" seru Sadara sambil menepuk dahi.
Aurina melirik jam di pergelangan tangannya—hampir jam satu siang. Ia menghela napas panjang. Kesibukan mempersiapkan penampilan membuatnya lupa tubuhnya juga butuh energi.
"Lo tunggu sini, gue ke kantin bentar," kata Kalea, berdiri cepat.
Namun langkahnya terhenti. Di ambang pintu aula, seseorang muncul dengan dua totebag cokelat besar di tangannya.
"Nih, makan. Lo bukan malaikat yang gak perlu makan."
Dikta berdiri di sana, rambut sedikit acak tapi wajahnya tetap tenang. Ia menaruh totebag di atas meja, matanya menatap Aurina hangat tapi menegur.
"Banyak banget?" tanya Aurina, setengah tak percaya.
"Sekalian kita semua makan bareng. Gue juga lapar." Dikta membuka isi totebag—empat nasi bento lengkap dengan air mineral.
Kalea dan Dara langsung bersorak kecil. "Sering-sering ya, Kak Dikta," ucap Sadara sambil mencomot sumpit.
"Lo udah makan tiga kali," sahut Kalea datar.
"Rezeki gak boleh ditolak," jawab Sadara, membuat Aurina tertawa kecil.
Di sela-sela tawa itu, mata Dikta beberapa kali menatap Aurina—lama. Seolah ingin menghafal setiap ekspresi, setiap senyum. Tanpa sadar, ia diam-diam mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera.
Ckrek.
Aurina spontan menoleh, wajahnya terkejut. "Kak Dikta! Hapus itu, cepet!"
"Siapa lo nyuruh-nyuruh?" sahut Dikta santai.
Kalea dan Dara saling pandang, mengangkat bahu. "Lanjut makan aja, kita nyamuk," celetuk Sadara, membuat keduanya kembali tertawa.
Tak lama kemudian, seorang anggota OSIS menghampiri. "Kak, giliran kakak tampil sebentar lagi. Sekitar dua puluh menit ya," katanya ramah.
Aurina mengangguk sopan. "Siap. Terima kasih."
Setelah memastikan semua alat siap, Aurina hendak mengambil gitarnya. Namun, tangan Dikta menahan pergelangan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)