Di sudut paling dekat dengan jendela, Zidan sudah duduk duluan di sana. Angin siang yang masuk lewat sela-sela kaca membuat helaian rambutnya sedikit berantakan, ia memejamkan matanya menikmati suasana tenang yang jarang terjadi ini. Dari ponselnya, lagu pelan terdengar samar — ritme yang membuat jarinya ikut mengetuk meja tanpa sadar.
Tak lama kemudian, Aurina masuk ke dalam kelas, menurunkan tasnya ke bangku kedua dari depan—tempat biasa ia duduk setiap hari. Suasana kelas belum terlalu ramai, beberapa teman kelas masih di luar, beberapa juga sibuk mengerjakan tugas yang belum mereka kerjakan semalam. Saat ia hendak duduk, pandangannya tanpa sengaja menangkap sosok Zidan di pojok ruangan, sedang bersandar santai di kursinya.
Aurina sempat ragu sejenak. Tapi entah kenapa, kakinya melangkah pelan mendekat.
Ringan saja, seperti gerak spontan yang bahkan tidak sempat ia pikirkan.
"Lo gak bosan dengerin lagu itu terus?" tanyanya sambil duduk di hadapan Zidan.
Zidan menoleh sekilas, senyum separuh terbit di wajahnya. "Enggak. Lagunya tenang, kayak lo."
Aurina hampir tersedak ludahnya sendiri. "Apaan sih," gumamnya, menunduk pura-pura sibuk membuka roti yang ia bawa dari rumah.
Jangan baper, Rin. Batin kecilnya menegur, tapi bibirnya sudah terlanjur tersenyum kecil.
Zidan menatapnya beberapa detik, lalu terkekeh pelan. "Eh, akhirnya senyum juga lo. Biasanya jutek banget."
Aurina melirik sekilas. "Mana ada, menurut lo aja kali."
Cowok itu tertawa kecil, lalu tiba-tiba merampas ponsel di tangan Aurina.
"Zidan! Lo ngapain sih?!" serunya spontan.
Zidan sudah keburu membuka kamera depan dan memiringkan kepala ke arahnya. "Senyum dulu."
Klik. Klik.
Beberapa foto tertangkap—Zidan menahan tawanya, Aurina ingin menahan malu tapi gagal. Semua terasa ringan dan berjalan begitu saja, pagi itu, seperti waktu kembali berhenti sebentar hanya untuk mereka berdua.
"Cieee, pasangan baru, siap-siap jadi obat nyamuk, deh." seru Rylan dari meja sebelah sambil menepuk pundak Zidan.
"Lo aja sana cari nyamuk sendiri," balas Zidan santai, tanpa melepaskan tawa.
Kalea mengangkat kepala sebentar dari buku tebalnya, lalu menggeleng. "Wah.. emang bener, kita disini cuma jadi topping dunia." Sadara pun ikut terkekeh melihat adegan pagi di kelas saat itu.
Zidan mengalah, atau mungkin karena dia ikut salah tingkah. Ia memberikan ponsel Aurina dan kembali duduk terdiam di bangkunya. Aurina juga melakukan hal yang sama, masih menyimpan sisa senyum yang sulit dinetralkan.
Seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di sekitar pikirannya. Tidak ada tugas yang menumpuk, tidak ada ocehan panjang dari Dikta yang biasanya memenuhi harinya. Oh, ya. Soal Dikta, cowok itu memang agak berubah belakangan ini. Sejak Aurina sering terlihat bersama Zidan, Dikta jadi lebih banyak diam. Tidak lagi banyak komentar soal hal-hal kecil yang dulu selalu ia perhatikan.
Mungkin, pikir Aurina, Dikta hanya sedang sibuk saat ini. Ujian nasional sudah dekat, dan ia pasti tengah mempersiapkan diri untuk masuk universitas impiannya.
***
Kantin sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa meja yang belum dibereskan. Zidan terlihat masih sibuk mengobrol dengan Rylan dan Mahesa, sementara disudut lain, Aurina juga masih duduk di tempatnya, bersama kedua gadis lainnya, menatap ponsel di atas meja.
Ia membuka galeri—foto-foto tadi. Setelah berpikir cukup panjang, ia memilih satu foto kemudian menekan post to story. Tidak pakai filter. Tidak pakai caption. Hanya sebuah momen yang memang ingin di abadikan. Beberapa detik kemudian, layar ponselnya berkedip.
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Teen Fiction[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)