Dulu, nama Zidan lebih identik dengan kenakalan, sering bolos, sering berdebat dengan guru, bahkan beberapa kali hampir diskors karena masalah kecil yang dibesar-besarkan karena Kanaya. Tapi semenjak bersama Aurina, semua itu perlahan berubah. Ia jadi lebih tenang, lebih fokus, nilainya mulai membaik, kehadirannya di kelas nyaris sempurna. Bahkan, guru BK yang dulu paling sering memanggilnya, justru sering memujinya di ruang guru.
Sore itu, saat mereka berkemas sepulang sekolah, Zidan menatap langit yang mulai berubah warna, sinar oranye keemasan memantul di kaca jendela. Ia mengembuskan napas pelan, lalu tersenyum kecil. Kakek pasti bangga kalau lihat gue sekarang, pikirnya.
Kakeknya masih mengurus bisnis di luar negeri dan kabarnya akan pulang bulan depan. Zidan berharap saat itu tiba, kakeknya bisa bangga padanya — tanpa lagi memaksakan kehendak. Pria tua itu adalah pemilik yayasan sekolah ini yang memang dikenal tegas, dan Zidan ingin menunjukkan bahwa ia bisa berubah dan menentukan jalannya sendiri.
Dan seperti hari biasa lainnya, ia berjalan berdampingan dengan Aurina, Sadara, Rylan, dan Mahesa menuju gerbang sekolah. Mereka bercanda ringan, tertawa kecil membahas tugas fisika yang belum selesai, tanpa tahu sore itu akan jadi awal dari sesuatu yang tak mereka duga.
Suara bel terakhir baru saja reda ketika suara mesin motor terdengar dari kejauhan. Satu motor sport berwarna hitam legam meluncur perlahan ke arah gerbang sekolah. Helm full-face dengan visor gelap menutupi wajah pengendaranya, tapi sosoknya...sangat familiar.
Dikta.
Suasana di depan gerbang langsung berubah. Beberapa siswa spontan berhenti berjalan, ada sebagian yang saling berbisik, sebagian lagi menatapnya kagum.
"Eh, itu Kak Dikta, kan?"
"Iya, gila, makin keren aja ya sekarang!"
"Ngapain yah dia ke sekolah lagi? Mau ambil ijazah?"
Aurina, yang baru saja sampai di gerbang, ikut menoleh. Detik itu, raut wajahnya tersirat bingung sejenak. Kak Dikta? pikirnya, matanya membulat.
Dan sebelum sempat ia mendekat, seseorang muncul dari arah koridor barat — berjalan santai, rambutnya dikuncir lebih rendah, dan wajahnya menampilkan senyum yang terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru beberapa hari ini mengasingkan diri.
Kalea. Ia melangkah pelan tapi pasti menuju Dikta. Suara langkahnya nyaris tenggelam oleh gumaman orang-orang di sekitar. Ia tampak sangat percaya diri, bahkan bangga, seolah sudah menunggu momen ini dari lama.
Sementara itu, Dikta menurunkan visor helmnya, lalu dengan tenang menyodorkan helm cadangan ke arahnya. "Kal, udah siap?"
Kalea tersenyum kecil. Ada sesuatu di matanya — rasa puas, seperti seseorang yang baru saja memenangkan permainan yang panjang. "Udah siap, Kak," jawabnya lembut.
Dan dalam sekejap, semua mata terpaku ketika Kalea naik ke motor itu. Beberapa murid langsung berbisik heboh, bahkan sebagian melongo tak percaya.
"Seriusan Kak Dikta jemput Kalea?"
"Wah, gak nyangka banget... bukannya Kalea tuh jarang deket sama siapa-siapa?"
"Gila, ini sih pasangan baru..."
Aurina terpaku di tempat. Sadara menatap ke arah yang sama, wajahnya lebih serius. "Rin... gue gak salah lihat, kan?"
Aurina hanya menggeleng pelan. "Enggak. Lo gak salah lihat."
Zidan berdiri di samping mereka, rahangnya mengeras. Ia menatap dua sosok itu dengan pandangan yang nyaris menusuk. "Dikta... lo tahu siapa Kalea sebenarnya," katanya pelan, "Dan kenapa lo malah deketin dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
AURINA [REVISI]
Ficção Adolescente[REVISI] "Jadi, kamu yakin mau coba jatuh cinta sama dia?" tanya Dikta penasaran. Aurina mengangguk. "Mungkin, iya... karena konon katanya jatuh cinta di masa putih abu-abu adalah kenangan terbaik yang pernah ada. Aku juga mau punya seseorang yang...
![AURINA [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/130122054-64-k10641.jpg)