Dan disinilah...
Leya berusaha menarik napasnya dengan senormal mungkin. Menahan diri untuk tidak mengedarkan pandangan hanya untuk menemukan nama pria itu di sampul-sampul souvenir dan beberapa dekorasi.
"Leya Kim."
Mendongak, menemukan Naomi yang tersenyum hangat ke arahnya. Naomi memakai gaun warna wine dengan perut yang membesar membuatnya semakin terlihat cantik.
"Senang bertemu denganmu, Naomi." balasnya ramah.
"Aku juga. Kau datang bersama dia ya?" Tanya Naomi sambil mengedipkan matanya.
Dia? Siapa? Menggeleng, Leya tersenyum kecil. Mengambil kesimpulan bahwa pertanyaan Naomi mengarah pada Henry. "aku bersama teman satu apartemenku," melihat Naomi celingukan, Leya menambahkan. "dia sedang mengambil minuman."
Mengangguk, Naomi kembali menyunggingkan senyum lebar. "Aku sedang menunggu Sean, dia sedang membantu mempelai pria di ruang tunggu pengantin."
Leya menahan dirinya sendiri supaya tidak tersungkur ke lantai dan membuatnya menjadi pusat perhatian. "mereka sahabat yang luar biasa."
Naomi menaikkan sebelah alisnya. "Sepertinya begitu," gumamnya tidak yakin. "aku masuk dulu ya, sebelum Sean sadar bahwa aku menghilang," ucapnya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"kau kenal nyonya itu?" Sohee yang sudah berdiri disampingnya memperhatikan punggung Naomi.
"yah dia istri dari sahabat Juna."
Mengangguk, Sohee menghela Leya ke pintu masuk tempat pesta pernikahan di langsungkan.
Leya memilih duduk di depan meja bundar yang membelakangi panggung kecil yang di sediakan untuk kedua mempelai. Mungkin ia hanya akan meliriknya sekali untuk mengucapkan selamat tinggal tanpa menoleh pada pasangan yang berbahagia pada hari ini.
Alunan musik dari piano yang mulai di mainkan membuat beberapa orang tersenyum senang, berbanding terbalik dengan Leya yang menggenggam kedua tangannya erat. Menahan diri agar air matanya tidak tumpah saat ini juga. Semuanya benar-benar sudah berakhir.
"bagaimana dia?"
"Aku bahkan tidak sudi melihat ke arahnya," gumam Sohee sinis.
Seharusnya Juna sudah berdiri di panggung saat ini namun Leya tidak akan sanggup untuk melihatnya.
Suara tepuk tangan menginterupsi dan Leya juga Sohee ikut berdiri menyambut mempelai wanita yang baru saja memasuki ruang pernikahan.
Sedikit menoleh untuk melihat seorang gadis yang sangat cantik terbalut gaun pengantin warna putih. Gadis itu menyunggingkan senyum cerah sambil mengedarkan pandangan. Matanya berbinar sama sekali tidak menutup-nutupi rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
Hanya sedetik Leya merasa gadis itu menatap kearahnya, namun ia tidak bisa bereaksi apapun sampai gadis cantik itu kembali mengalihkan pandangan.
Deg!
Apa dia mengenalku? bantinnya. Betapa tidak beruntung untuk Leya karena gadis itu pasti berfikir ia adalah simpanan calon suaminya di hari-hari terakhir masa lajang mereka.
"egh Leya..." gumaman Sohee membuat Leya kembali mendongak.
"Kita pulang sekarang."
"tunggu dulu," Sohee menahan tangannya yang hendak pergi. "coba kau lihat mempelai prianya."
Leya menoleh dengan susah payah menekan perasaannya. Matanya membulat sempurna demi melihat Pria yang berdiri untuk menerima tangan gadis itu, yang tersenyum dengan mata penuh cinta, dia... bukan Juna.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fated
Romantizm[END] [18+] Satu hal yang Leya inginkan saat ini adalah hidup normal dan tenang! Tapi saat mata gelap itu menatapnya, mulai mengaburkan segala hal yang Leya percayai dan kembali menawarkan impian semu yang mustahil. Detik itu juga hari-hari tenang L...
