"Maaf dok, ada yang bisa dibantu?" sapa salah seorang petugas administrasi IGD, saat Nabilla menghampiri bagian administrasi.
Nabilla yang menyadari sapaan itu pun, langsung mengarahkan pandangannya pada jas yang dikenakannya. Ya, dia lupa melepas jas kebangaannya. Memang biasanya, Nabilla hanya menggunakannya saat jaga di ruangan. Tidak untuk menunjukkan bahwa ia adalah dokter disana.
"Saya mau ambil hasil pemeriksaan penunjang atas nama anak Arsyilla?" pinta Nabilla pada salah satu petugas administrasi di IGD.
"Maaf dok, semua dokumen dan status kesehatan pasien atas nama anak Arsyilla sudah dikembalikan ke bagian rekam medik. Jika dokter membutuhkannya, dokter bisa meminta kebagian rekam medik." ungkapnya pada Nabilla.
"Baiklah, terima kasih pak." ucap Nabilla yang kemudian beranjak pergi dari bagian administrasi.
"Nabilla," sapa seseorang yang berhasil menghentikan langkahnya, saat Nabilla baru saja keluar dari pintu utama IGD.
"Elvan."
💘 Cinta Yang Beda 12 💘
"Jadi kamu ke IGD buat liat pemeriksaan penunjang Arsyilla?" tanya Elvan memastikan, saat mereka sudah berada disalah satu meja di kantin rumah sakit.
"Ya, El. Cuma udah dibawa ke bagian rekam medik." ungkap Nabilla yang terdengar kecewa, ia pun hanya memandang jus mangganya sambil mengaduk-aduknya dengan sedotan.
"Kamu tenang aja, kemarin aku sempet liat hasilnya. Hasilnya bagus semua kok, gak ada yang perlu kamu khawatirin."
"Alhamdulillah kalau emang bener, soalnya aku belum sempet liat hasilnya kemarin." Nabilla pun menatap Elvan sesaat, sebelum akhirnya ia membuang pandangannya sembarang.
"Ya aku tau, pasti kamu khawatir banget sama kondisi Arsyilla, apalagi traumanya dibagian kepala."
Nabilla hanya tersenyum tipis dengan sedikit menundukkan kepalanya kembali, mendengar ucapan Elvan yang dapat menenangkan sedikit kegundahan hatinya mengingat kondisi gadis kecilnya.
"Bil," Nabilla reflek langsung mengangkat kepalanya, saat mendengar namanya terpanggil.
"Boleh nanti sore, sepulang dari rumah sakit, aku main? Aku pingin ketemu Arsyilla? Itu pun kalau tidak menganggu,"
"Silahkan kalau emang mau ketemu sama Arsyilla, siapa tau dengan kedatangan kamu. Arsyilla bisa terhibur." ucap Nabilla penuh harapan, mengingat sikap Arsyilla semalam.
***
Goresan pelan dari tangan mungilnya, mulai mewarnai lembar putih dihadapannya. Lalu diambilnya warna biru, warna kesekian yang ia ambil, setelah ia merasa warna sebelumnya telah tuntas ia selesaikan.
"Silla gambar apa nak? Ini nenek bawakan jus alpukat kesukaan Silla," tanya Maryam, saat menghampiri Arsyilla yang tengah duduk dilantai dengan tumpuan pada meja untuk menggambar. Dengan membawa segelas minuman berwarna hijau pekat diatas nampan, ia memasuki ruang tengah.
"Sayang, itu gambar apa?" tanyanya lagi saat melihat gambar yang tengah digambar cucunya itu diatas sebuah kertas yang telah diberi beberapa warna.
Dalam gambarnya terlihat seperti seorang laki-laki dan dua orang wanita tengah bersama seorang anak kecil.
"Ini ayah, ibu, Nda, sama cilla nek." jawab Arsyilla dengan polosnya dan masih memfokuskan pandangannya pada goresan di kertas.
Suasana pun hening seketika, Maryam yang mendengar jawaban cucunya itu langsung terdiam. Ia berusaha menelan salivanya, saat mengingat kenyataan yang ada.
"Assalamualaikum," suara itu tiba-tiba memecahkan keheningan, menggema disudut ruang tengah yang tak bersuara itu.
Tak lama, terlihat Nabilla mulai melangkahkan kakinya memasuki ruang tengah yang dibatasi dinding antara ruang lain.
"Kesayangannya bunda lagi apa?" tanyanya, saat pandangannya mengarah pada Arsyilla yang saat itu tengah main bersama Maryam, Uminya. Sesampainya Nabilla di rumah.
"Walaikumsalam. Tuh Bunda pulang," ucap Maryam.
"Nda," teriak Arsyilla dan langsung menghampiri Nabilla.
"Sayang, Bunda ajak siapa tebak?" tanya Nabilla yang kemudian berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis kecilnya.
"Siapa Nda?"
"Taraa.." pekik Nabilla dan Elvan pun langsung muncul dari balik tembok yang memisahkan ruang tengah dengan ruang tamu rumah Nabilla.
"Om dokter," Arsyilla terlihat langsung menghampiri Elvan dan memeluknya.
"Cilla ceneng dehh, ada om. Om kecini pasti mau main ya sama Cilla?"
"Iya dong, om kan mau main sama Silla. Silla tadi sama nenek main apa? Om boleh ikutan gak?"
Arsyilla hanya menganggukkan kepalanya lalu menarik lengan Elvan menuju sebuah meja yang masih terdapat Maryam di sana.
"Cilla lagi gambar om," Arsyilla pun memperlihatkan gambarnya.
"Biar Umi buatkan minun dulu, sebentar." usul Maryam sedikif mencairkan suasana yang beberapa saat menjadi sepi, setelah gadis kecil itu menunjukkan gambarnya.
"Gak usah repot-repot bu,"
"Gak kok," balas Maryam sambil mengarah ke dapur.
"Ini siapa Silla?" tanya Elvan yang kemudian menatap Nabilla sekilas, sementara Nabilla terlihat menundukkan kepalanya.
"Ini Ayah, ini Ibu, ini Nda terus ini Cilla." jawab Arsyilla dengan lugunya menjelaskan maksud dari gambarnya. Gambar yang sama, dengan gambar yang dimaksud Maryam.
Elvan pun tak berkomentar, ia hanya menatap Nabilla yang masih menundukkan kepalanya.
"Silla, gimana kalau kita main yang lain? Silla punya mainan apa?"
"Cilla punya banyak om, om mau liat? Kita kamar yuk!"
Elvan pun langsung terdiam, ditatapnya Nabilla yang sejak tadi diam.
"Ayoo om, ayoo!" ajak Arsyilla yang terlihat menarik narik tangan Elvan.
"Kamu temanin dulu ya, biar aku bantu Umi sebentar di dapur." pinta Nabilla yang langsung bergegas ke dapur.
Arsyilla pun menarik Elvan sampai ke kamarnya. Sesampainya di sana, pandangan Elvan pun menyapu setiap sudut kamar dan pandangannya mengarah pada bingkai-bingkai mini, yang berjejer indah di kamar bernuansa pink dengan paduan gambar tedy bear pada wallpaper pada dindingnya itu.
Beberapa detik kemudian, pandangannya pun kian intens pada salah satu bingkai di sana.
"Om, tuh mainan Cilla." ucap Arsyilla sambil menunjukkan box mainannya yang tersusun rapih disudut ruangan itu pada Elvan.
Arsyilla pun meninggalkan Elvan yang masih ditempatnya, lalu membuka box mainannya. Mencari-cari mainan yang akan di mainkannya bersama Elvan.
Sementara Elvan terlihat mencoba mendekat kearah jejeran bingkai foto itu, lalu mengambil salah satu bingkai foto yang sejak tadi mencuri perhatiannya.
Elvan pun menatap foto itu cukup lama, foto seorang pria tengah tertawa renyah bersama seorang batita dalam gendongannya.
"Apa ini ayahnya Arsyilla?" gumamnya. Menerka-nerk sosok dalam foto itu.
To be continue!
Tasikmalaya, 10 Februari 2018
Jegerrrr! Hayooo yang nungguin, apa karakter ayahnya arsyilla perlu dikeluarin???
Kurang lebih imajinasi dalam foto yang diliat Elvan ada diatas, atau kalian punya imajinasi lain? Gak apa apa, bebas..
Jangan lupa votenya! Jangan lupa ya, wkwkwk.. Komentar, kritik, saran boleh juga, tulis dibawah ya.. makasihh.. 😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Yang Beda [END]
Spiritual'Love Story' -karena cinta memiliki jalan dan ceritanya masing-masing. Lalu bagaimana jika kalian dihadapi dengan kisah cinta yang berbeda. Ini bukan sekedar pasangan yang baik, hanya untuk pasangan yang baik. Seperi kata Allah dalam Al Quran sura...
![Cinta Yang Beda [END]](https://img.wattpad.com/cover/135415225-64-k112650.jpg)