No Rain

5.2K 514 19
                                        

"Didut! Bangun, woi! Katanya mau bantuin gue rapiin kelas!"

Sebuah suara cempreng membuyarkan mimpi indah Diaz. Lenyap sudah bayangannya sedang duduk berdua Chloe-Grace Moretz menyesap margarita di pinggir kolam renang.

"Ah elah, elo ganggu orang seneng aja," erang Diaz.

Suara parau yang keluar dari tenggorokan Diaz memang jauh berbeda dengan nada bersemangat yang khas dari siarannya. Namun, pernah Diaz dikerjai oleh salah satu penyiar senior di Radio Gara yang menyiarkan suara bangun tidurnya.

Tak disangka Diaz Lovaz, sebutan untuk barisan fans berat Diaz, jadi ikut tergila-gila. Bahkan, sampai ada seorang cewek yang berani menyatakan di sebuah telepon pada request line bahwa ia ingin ada langsung di samping Diaz setiap bangun tidur.

Lengan kekar Diaz memeluk guling dan kembali bergelung di balik selimut. Suara enam oktaf ala Mariah Carey ganti memecah pagi.

"Didut koplok! (1) Gue ngangkatin matras setumpuk satu-satu sampai encok, tahu enggak! Bukannya bantuin! Kalakah sare wae budak teh! (2)"

Diaz membuka mata. Hanya ada satu makhluk ngaco yang memanggilnya dengan sebutan "Didut" alias Diaz Gendut. Seraut wajah lonjong berambut ikal kecoklatan balas mendelik ke arahnya.

"Teh Tisa, kok ada di sini? Emang enggak ngajar?" tanya Diaz lalu menguap lebar sambil meregangkan tangannya ke atas.

"Ih, pake nanya lagi. Lihat tuh, udah jam berapa!"

Wanita dengan tank top biru muda dan celana yoga hitam mencengkram kedua pipi Diaz lalu mengarahkan wajah Diaz ke jam dinding di dekat pintu kamar.

Mata Diaz terbelalak. Jam menunjukkan pukul sembilan pagi kurang lima menit.

"Teteh kok enggak bangunin dari tadi, sih? Aaarrrgh! Diaz enggak jadi lari pagi, deh!" seru Diaz melonjak dari kasur.

Tisa, kakak kedua Diaz menggeleng-gelengkan kepala. Si bungsu yang usianya empat tahun lebih muda dari dirinya ini masih saja bertingkah seperti anak remaja. Melupakan janji, bangun kesiangan, lalu menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Benar-benar tipikal anak bontot yang manja dan haus perhatian.

"Emang elo pulang pagi? Clubbing sama cewek-cewek gaul Bandung, ye?" celetuk Tisa.

Lengan kuning langsatnya terlipat di depan dada. Bibir tebalnya sedikit maju dan sorot matanya tajam. Ekspresi khas Tisa tiap menginterogasi adik semata wayangnya yang doyan keluyuran.

"Apaan, sih? Mamah aja enggak segitu resehnya. Siapa elo? Malu tuh sama keriput, Teteh Calon Pengantin!"

Diaz melempar bantal ke arah kakak perempuan yang menurutnya manusia terjudes di dunia, kalau ada daftar dikeluarkan oleh On The Spot.

Tisa menangkis bantal dengan satu tangan seperti seorang pendekar kungfu. Sebuah seringai muncul dari mulutnya.

"Biarin, yang penting gue bukan jones kaya elo, Mr. So Hot and Popular But Always Single. Aku mau nikah sama cowok keren dan baik hati, walaupun bukan Pangeran Harry," kilah Tisa. Ia mulai berjoget-joget menggoyangkan pinggulnya lalu melayang seperti balerina.

"Karunya euy Kang Satria boga kabogoh gelo kieu," seloroh Diaz asal sambil berlari keluar kamar terbahak-bahak. (3)

Jeritan Mariah Carey menggema lagi, "Diduuuut! Awas ya elo! Dasar jomblo belegug!" (4)

Diaz menuruni tangga dengan langkah pendek-pendek. Sesampainya di bawah, sebuah gelas kosong disambarnya dari atas meja makan. Dalam sebuah gerakan cepat, gelas tersebut sudah terisi air mineral dari dispenser di sudut kanan ruang makan. Diaz menandaskan satu gelas dalam waktu kurang dari semenit.

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang