Glory Box

3.3K 365 9
                                        

"Good afternoon, Prince Didut. Ini Cinderella-nya udah siap buat pesta dansa."

Mobil Honda Jazz Teh Tisa yang memasuki parkiran Radio Gara membuat Diaz menahan diri untuk tidak melonjak-lonjak kegirangan. Datang juga Ibu Peri mengantarkan seseorang yang tengah dinantinya sedari tadi.

"Selamat datang di istana, my gorgeous lady"

Seiring pintu depan mobil terbuka, wajah berkulit pucat itu tersenyum kikuk.

"You look amazing."

"Gue cabut sekarang ya. Liam, jangan pingsan! Sayang dandanannya udah kece begitu!"

Wanita langsing itu memundurkan mobil dan berlalu dari pandangan sepasang insan yang tengah berpandangan.

"Ternyata, pilihanku tepat. Gaya ini emang cocok buat kamu."

Liam merasa bukan dirinya siang ini. Kemeja lengan pendek pas badan warna biru muda, rok A-line bahan katun motif garis-garis kecil berwarna senada, dan flat shoes klasik warna hitam. Rambutnya tergerai, dibuat ikal di bagian bawah, dan poninya terpotong rapi. Mata kucingnya jelas terlihat, tanpa ada kacamata bertengger di hidung mancungnya.

Sungguh Liam terkejut, Teh Tisa benar-benar menjemputnya di kampus seusai ujian hari terakhir seperti pesan WhatsApp-nya tadi pagi. Lalu, kakak perempuan Diaz itu membawanya ke rumah. Setelah menyantap makan siang, mulailah wanita cantik itu mendandani Liam.

Tadinya, Liam sudah menyiapkan pakaian sendiri untuk wawancara dengan Mas Erwin. Namun, ternyata Diaz punya rencana lain untuknya.

"Didut pesen, gue dandanin elo seperti ini," sahut Teh Tisa, menyodorkan ponselnya. Sebuah foto ada di sana. Seorang artis Hollywood yang mengenakan busana persis apa yang kini menempel di tubuh Liam.

"Hei, malah bengong!" Diaz mengibas-ngibaskan tangan di depan mata Liam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Hei, malah bengong!" Diaz mengibas-ngibaskan tangan di depan mata Liam.

"Aku malu," ucap Liam menundukkan kepala. Semoga riasan wajahnya tidak luntur dari keringat dingin. Termasuk bibir bersaput lipstik merah yang sangat ingin ia gigit kuat-kuat sekarang. Menurutnya, tampilan dirinya sekarang tak sampai seujung jempol Zooey Deschanel, si cantik dalam foto instruksi Diaz.

Genggaman tangan Diaz yang tiba-tiba mampir di telapak tangan dingin Liam, membuat gadis itu terkesiap. Refleks, ia ingin menaikkan bingkai kacamata. Namun, barulah ia tersadar, saat ini lensa kontak bening membuat kacamata kesayangannya tersimpan rapi di dalam tas.

"Enjoy the spotlight. Enggak usah takut, aku temenin."

Tas ransel yang semula tersampir di pundak Liam, kini berpindah ke tubuh jangkung di sampingnya. Menghela napas, Liam memasang senyum terbaiknya. Kakinya melangkah mengikuti Diaz yang makin erat genggamannya.

"Kita nunggu di ruang meeting aja langsung, ya. Mas Edwin ke sini setengah jam lagi. Lumayan ada waktu buat aku lihat dulu slide presentasi kamu."

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang