Don't Go Away

3K 440 14
                                        


"Yaz, sejelek apapun keadaanku, kamu selalu jadi bagian terbaik dalam hidupku."

Sepenggal kalimat yang terucap, pada suatu sore di kamar Calya, terpatri dalam ingatan terdalam Diaz. Hari di mana ia merasakan ada monster yang ingin mengamuk dalam tubuhnya. Mencincang cowok jangkung berambut kecokelatan, Aldo, kekasih dari sahabatnya. Sahabat yang juga jadi cinta pertamanya, gadis yang disayanginya diam-diam dan terucap dalam doanya setiap ia bersimpuh di hadapan Sang Pencipta.

Sore itu, Diaz memutuskan mampir ke rumah Calya. Ia ketua kelas sekaligus teman sebangku gadis mungil itu. Senyum hangat dan tawa ceria tidak ia jumpai selama empat hari. Entah sakit apa yang diderita Calya.

Tubuh Calya memang termasuk kurus, dengan kulit sepucat susu vanila dan kerapuhan menyapa dari kelembutan lisannya. Namun, ada sesuatu yang lebih besar di balik ringkihnya perawakan Calya. Pikiran yang jarang diliputi prasangka, kebaikan yang ditawarkan dengan tulus, dan tentu saja, kecantikan jiwa yang terpancar jelas dari setiap tingkah lakunya.

Heranlah Diaz dibuatnya, ketika Calya mau saja dipacari oleh Aldo, si bengal nan tampan, kakak kelas mereka yang berbeda satu tahun saja. Mungkin juga, kemampuan Aldo bermusik menghipnotis Calya, seperti halnya puluhan atau jangan-jangan ribuan cewek yang menyaksikan aksi panggung Aldo.

Padahal, kabar burung yang berembus kuat, Aldo bukanlah cowok badung biasa. Sudah beberapa kali Diaz mendapatkan laporan dari cowok-cowok di kelasnya. Mereka melihat Aldo bertransaksi narkoba di sebuah skate park. Tak tanggung-tanggung, Aldo menjalin hubungan dengan sang Iblis, begitu banyak orang menjuluki seorang cowok tinggi besar yang menjadi bandar di sekitaran Dago itu.

"Emang enggak ada cowok lain, Cal? Aldo itu enggak pantes buat kamu."

Tercetuslah kata-kata itu dari mulut Diaz kepada Adia Calya, gadis enam belas tahun yang ternyata punya harapan tinggi dan kekerasan hati luar biasa.

"Aku percaya, Aldo pasti bisa berubah, Yaz. Kamu enggak bisa menilai orang sekilas saja. Aku tahu semua sakit hatinya, masalah hidupnya. Aldo mungkin perlu waktu sedikit lebih lama untuk menemukan jalan lurusnya. Makanya, aku harus ada di sampingnya, memastikan dia enggak nyasar ke jurang."

"Tapi, kamu enggak perlu ngorbanin diri kamu, masa depan kamu buat cowok brengsek begitu, Cal. Gimana kalo ternyata serigala bakal tetap mau jadi serigala, bukan domba?" Diaz mulai putus asa meyakinkan Calya.

"Kita sudah hampir setahun ini temenan, Yaz. Aku percaya, kamu pasti siap nangkep aku, kalo aku tiba-tiba terjatuh. Ya, kan?"

Ah, mata cokelat dan bulu mata lentik itu. Diaz selalu tidak dapat menolaknya. Sorot mata sendu yang meminta uluran tangan sang penolong, kelemahan terbesar hati Diaz.

Jika cowoknya sendiri tak dapat menjadi pahlwan, biarlah Diaz yang menjadi ksatria abadi untuk Calya. Mengabdikan tubuh dan hatinya untuk melindungi gadis malang itu. Diaz tahu persis, tak ada sosok laki-laki lain yang bisa Calya jadikan tumpuan. Ia tinggal bertiga dengan Mama dan Omanya, dua wanita kuat yang menjanda tanpa bergantung pada belas kasihan lelaki.

Namun, sore itu, Diaz merasa Calya bukan lagi Calya yang ia kenal dan sayangi. Ia sama bodohnya dengan gadis-gadis yang tertipu bujuk rayu setan dalam wujud cowok blasteran Sunda-Jerman bergaya playboy tengil.

Entah ketololan macam apa lagi yang turut menular pada diri Diaz. Sampai ia mau saja mendengarkan semua kisah Calya. Kisah pedih yang seharusnya bukan untuk diketahui seorang cowok yang menyimpan perasaan begitu besar pada dirinya.

Cerita saat Aldo merenggut kesucian Calya, membuat gadis itu kesakitan sampai tidak masuk sekolah berhari-hari. Tumbuh dengan mama berlatar belakang medis, Diaz mendapatkan pendidikan seksnya sejak usia sangat muda. Cara Mamah dan Papah menanamkan nilai, membuat Diaz juga menyadari, hubungan semacam itu seharusnya masih ditunda hingga pasangan resmi menjadi suami istri.

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang