Lucky Man

4.3K 463 15
                                        


"Yaz, enggak usah repot-repot. Aku bisa pulang sendiri." 

Untuk kesepuluh kalinya Liam mengatakan kalimat yang sama. Lelaki harum di depannya ini sungguh keras kepala. Oke, badanku memang kurus, tapi kan aku bukan boneka porselen, gerutu Liam.

Sementara Diaz masih bergulat dengan kebimbangan. Bagaimana bisa ia membiarkan Liam naik angkot kemudian berjalan sendiri ke kosnya?

"Udah deh, aku cuma anterin pulang. Bukan mau nyulik," ujar Diaz. Dari saku celana, Diaz mengeluarkan sebuah kartu berwarna biru yang tersimpan dalam dompetnya.

"Tahan aja nih KTP aku. Kalau kamu kenapa-kenapa, tinggal lapor polisi dan datengin rumahku. Nanti kamu somasi, datengin infotainment, dan aku jadi hot news seminggu penuh di TV," seloroh penyiar Radio Gara itu.

Sontak Liam kembali terkikik. Cowok ini selain konyol, juga super impulsif. Bisa-bisanya ia menyamakan mengantar Liam seperti lapor satpam yang wajib meninggalkan KTP.

"Ya, udah. Asal kamu tahu ya, Pak RT itu tetanggaan sama kosku. Dia juga ngajarin Perisai Diri. Yah, bisa lah disejajarin sama Iko Uwais," Liam memasang muka sok serius. Jemari kanannya menaikkan kacamata yang melorot karena hidung berkeringat.

"Enggak apa-apa dong. Aku sama Joe Taslim juga sebelas dua belas," timpal Diaz. Bibirnya terkulum dan alis mata naik-turun menggoda Liam.

Tawa Si Cewek Kulkas kembali meledak. "Haduh, parah kamu, Yaz. Pede diabisin sendiri!" Liam memegangi rahangnya yang mulai pegal karena kebanyakan terbahak-bahak.

"Ya udah, bisa antar aku sekarang? Lama-lama aku ikutan jadi kaya Joe juga. Joe P-Project, botak sampai ke jidat," pungkas gadis berkulit pucat itu. Kemeja flanel kotak-kotak kini keluar dari dalam ranselnya.

Udara setelah hujan menusuk hingga ke tulang. Semilir angin sore dengan aroma petrikor membuai Liam sejenak. Mendadak Liam memejamkan mata dan menghirup udara segar. Rasa nyeri pada kakinya bisa lenyap sesaat seiring tubuhnya rileks.

"Yuk, Non. Supri udah siap anterin Non kemana aja," celoteh Diaz tersenyum geli. Diperagakannya gaya pengawal kerajaan membukakan pintu mobil untuk Sang Putri Es yang masih berjalan pelan-pelan itu.

"Terima kasih ya, Supri. Nanti tengah malam kamu kembali jadi tikus buncit. Puas-puasin jadi manusia," goda Liam kembali. 

Kenapa aku jadi kebawa gila kaya dia sih? Gumam Liam, sambil menahan senyum. Beberapa jam saja bersama Diaz, ia sudah merasa menjadi seseorang yang berbeda.

"Ini, masukin lokasi kos kamu," Diaz memberikan ponselnya. Aplikasi Google Maps sudah terbuka di iPhone 7 itu.

"Boleh juga sih kamu masukin nomor HP sekalian. Beneran nomormu ya, bukan nomor Pak RT," kerling Diaz. Mesin Honda CRV menyala dan Diaz menunggu sesaat hingga mesinnya cukup panas sebelum pergi.

"Enggak keberatan kan kalau aku hubungin kamu? Yah, buat atur jadwal latihan. Kamu perlu usaha ekstra buat kejar ketinggalan," ucap Diaz. Secara berbarengan, Diaz dan Liam memasang sabuk pengaman. Keduanya saling berpandangan kemudian tergelak bersama.

"Iya, boleh." Liam tak menampik. Karisma seorang Diaz terlalu menyihirnya hari ini. Ponsel Diaz kembali berpindah tangan. Kali ini dengan nomor Liam menjadi penghuni baru di laman Kontak dan peta menuju rumah kosnya terpampang pada layar.

"Let's go, Baby!" Diaz memasang muka tengil. Lagu Monkey Wrech dari Foo Fighters mengalun dari radio. Sejurus kemudian, meluncurlah mobil hitam itu keluar dari pelataran Shout Radio School.

***

"Kunaon maneh, Li? Cingkeud kitu digeleng ku Si Kasep?" (1)

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang