My Hero

4.1K 505 17
                                        

"Abis ini langsung pulang? Mau barengan?"

Diaz menghentikan langkahnya. Sesosok cowok dengan hoodie sweatshirt abu-abu mendekati Liam.

Eleuh eta Rio meni gercep! Gerutu Diaz memandangi salah satu muridnya di kelas tadi. (1)

Bagaimana ia bisa lupa? Di kelas tadi jelas Rio tertarik pada Liam. Pastilah usai kelas, ia akan langsung pepet cantik si Cewek Kulkas demi modus tebar pesonanya.

"Masih hujan. Enggak apa-apa duluan aja. Kosku deket sini kok," tolak Liam halus.

Seulas senyum kecil dilemparnya. Senyum yang Diaz tahu hanya sebuah usaha terpaksa demi kesopanan.

"By the way, gue juga anak Manajemen tingkat tiga. Tapi di Unisba sih, bukan kaum jenius kaya elo di Unpad hehehe," Rio nyengir.

"Boleh minta nomor WA? Siapa tahu elo bisa bantuin gue kerjain tugas. Atau bantuin cari topik tugas akhir buat semester depan juga boleh," todong Rio tanpa sungkan.

Gadis berkacamata itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Rasanya aneh ada seorang cowok yang tahu-tahu meminta kontaknya. Apalagi, aura Rio membuatnya tidak nyaman. Ada nada mendesak dalam bicaranya. Penolakan seperti apapun tidak akan membuatnya berhenti.

"Add LINE aku aja ya. Soalnya buat teman-teman biasanya aku pakai LINE. ID aku liamherenow," sahut Liam akhirnya.

"Ketik langsung aja di sini, gimana?" Rio menyodorkan iPhone 7 miliknya sambil mengambil tangan kanan Liam.

Liam terkesiap. Kenapa sih cowok-cowok hari ini main pegang-pegang aku enggak permisi dulu? Begitu jerit Liam dalam hati. Namun, apa daya, Liam terlalu lambat untuk merespons.

Ada tangan lain yang merebut iPhone Rio dan mengetikkan sesuatu di sana.

"Nih, udah Akang add sekalian sama LINE Akang juga, ya! Entar kalo mau latihan siaran bareng, tinggal kasih stiker aja, beres!" Diaz mengembalikan iPhone berwarna hitam itu ke tangan pemiliknya.

Rio terlonjak kaget. Mentor kelasnya mendadak nyelip di antara dirinya dan si anak baru yang menarik secara misterius.

Diaz memberikan senyum andalannya. Tetapi, kali ini ia tujukan untuk Rio dengan pesan berbeda. Minggir, Liam punya gue. Alis mata Diaz menaik.

Rio paham. Bukan sekarang saatnya mendekati Liam. Saingannya sangat berat kali ini. Dirinya tentu berbeda kasta dengan penyiar terkenal di Bandung dengan ketampanan dan kekerenan level nyaris sempurna.

"Liam, tadi Kang Ardi pesen. Kamu disuruh ke kantor lagi. Jangan pulang dulu, ya. Administrasi kamu belum selesai katanya," ujar Diaz.

Sesaat, melihat wajah kikuk Liam membuat hatinya iba sekaligus gemas.

Beneran deh, kamu enggak sadar kalau kamu itu menarik buat cowok. Diaz menghela napas pendek.

"Makasih ya, Yo. Sori kutinggal dulu ya, mau ke toilet." Liam memutuskan ini saat untuk pergi dari dua cowok yang sekarang bertatapan seperti serigala bertemu dengan singa gunung.

Tali sepatu sebelah kiri Liam sebenarnya mulai terlepas. Namun, Liam tidak mengindahkannya. Ia berjalan secepat kilat menuju pintu kantor SRS yang terletak di sisi belakang gedung. Menoleh ke belakang pun bukan pilihan bagi Liam. Meskipun ia takut, apakah Rio masih pantang menyerah lalu mengejarnya.

"Astaghfirullah!" Spontan Liam berseru karena dirinya tersandung tali sepatu.

BRUK!

Terlambat sudah, ia keburu jatuh di pelataran kantor. Untung saja, Liam langsung menopang badan dengan kedua telapak tangan. Kalau tidak, terjerembab akan membuat rasa sakit sekaligus malunya berlipat ganda.

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang