The Greatest View

3.5K 468 14
                                        

"Yaz, sekali lagi kamu colong-colong foto, aku cemplungin HP kamu buat camilan ikan, ya!"

Senyum dan tawa yang semula menghiasi wajah tirus itu sekarang lenyap. Cowok usil satu itu selalu saja impulsif mengambil keputusan.

Liam menghela napas. Bukan pertama kalinya ia menampik dan ngambek seperti ini. Wajahnya bukan tipe raut fotogenik yang akan bersinar di depan lensa kamera. Apalagi terakhir kali Diaz beraksi seperti ini minggu lalu, ia melontarkan ide gila : mengunggah foto Liam di akun Instagramnya.

"Ya udah, kamu aja atuh yang selfie," sahut Diaz cepat. iPhone 7 miliknya terjulur ke depan wajah Liam yang memandang dengan alis bertaut.

"Buat apaan? Di kos udah ada perangkap tikus, baygon, sama raket nyamuk. Enggak perlu fotoku buat nakut-nakutin mereka."

Tawa Diaz membahana. Senang rasanya, Liam mulai tertular virus ngomong asal seperti dirinya.

"Kamu tuh antik banget. Mungkin termasuk spesies cewek millenial yang alergi kamera dan media sosial. Ambil double degree di Ujung Kulon, Neng?" goda Casanova Cemen. Makin getol ia membuat cewek penggaris di sampingnya ini menggigit bibir saking kesalnya.

"Oh ya, aku bikinin kamu IG baru ya? Masa mau branding pakai IG yang isinya quotes doang, sih?"

Jemari Diaz lincah mengetik sesuatu di ponselnya. Tak sampai dua menit, ia menunjukkan apa yang baru saja dibuatnya.

Sebuah akun dengan nama liamherenow terpampang di Instagram. Liam merengut. Fotonya yang sedang melamun dari samping, dibuat dengan filter hitam putih, dipajang sebagai gambar profil.

Teringat kembali perdebatan konyol mereka di Comic World, sebuah tempat penyewaan komik dan spot nongkrong favorit Liam di dekat kampus, seminggu lalu.

Diaz diam-diam memotretnya ketika Liam sedang memikirkan lanjutan kata-kata untuk caption di Instagramnya. Tepatnya, akun kutipan lirik lagu rock yang ia buat untuk menyalurkan kegemarannya.

Sudah satu setengah tahun, gadis penggemar brit rock itu mengelola bittersweet.ballads di Instagram. Kadang Liam membuat gambar dengan aplikasi desain grafis sederhana. Ada pula saat ia mengambil foto hasil doodling dan hand lettering yang iseng ia buat di waktu luang.

"Liam!"

Begitu kepalanya menengok ke asal suara, ternyata Diaz sudah berpose, mengambil wefie dengan wajah Liam yang setengah melongo.

"Sedap! Bakal cetak pakai pigura ini buat di kamar!" Tawa Diaz terus berderai.

"Boomerang sekalian, yuk! Buat IG story aku. Pleaseeee!" Muka memelas seperti kucing kelaparan di belakang kantor SRS dipasang mantap oleh Diaz.

"Kamu mau aku dilindes angkot-angkot se-Bandung yang disewa sama cewek-cewek penggemar kamu itu?" desis si Cewek Kulkas.

Penyiar radio di depannya ini boleh saja lulusan cum laude waktu kuliah di Fikom Unpad dan selalu meraih rating tinggi dalam setiap program siaran. Tapi, herannya, memahami penolakan dan kata "tidak" dari Liam sepertinya tidak termasuk dalam cara memori otaknya bekerja.

"Sekali-kali rasain ada di bawah spotlight dong, Valia Mira. Kamu itu kapan mau sadar kalo sebenernya punya potensi jadi bintang?" decak Diaz gemas.

"Jangan sekarang, Yaz. Aku cuma mau lulus kuliah dengan nilai bagus dan dapet kerja yang oke. Eksis pasti bonusnya drama. I cannot handle that."

Mata kucing bermanik hitam itu menatap Diaz seperti anak panah menembus kertas sasaran.

Meneguk es teh manis dari gelas ukuran jumbo, cowok tinggi besar itu memilih diam. Namun, bukan berarti ia akan berhenti berusaha.

Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang