Diaz memandang lekat gadis yang duduk di hadapannya. There is something about this girl. Pikir Diaz seiring matanya menyorot satu demi satu fitur wajah Liam.
Poni yang terjuntai menutupi mata kucing bermanik hitam dari balik lensa kacamata. Bibir mungil yang membuka tak seberapa lebar ketika bicara itu bergerak mengeluarkan nada suara yang rendah. Kulit putih pucat yang tidak dilapisi rias wajah. Raut terpampang mulus tanpa jerawat atau bintik-bintik apapun menodainya.
Apa dia sadar sebenarnya punya wajah yang cukup menarik?
Lagi-lagi Diaz ingin memukul kepalanya yang sedari tadi melontarkan pikiran konyol. Lalu debaran jantung kembali menjadi lebih cepat.
"Liam, panggil saya itu aja, Kang." Liam baru saja mengoreksi ketika Kang Ardi memanggil namanya dengan sebutan 'Valia'.
Hampir saja Diaz tersedak mendengar ucapan Liam. Sebelum ia sempat berkomentar, Cewek Kulkas itu sudah memandang tajam Diaz sambil menambahkan, "Iya, aku punya kakak juga namanya Noel."
Diaz buru-buru menyedot es teh manis dalam gelas plastik bertutup. Sepertinya ia kembali membuat Liam kesal. Berarti, celetukan yang hendak Diaz sebut tadi memang jadi pertanyaan standar bagi mereka yang mendengar nama Liam.
"Meuni lada geuning ieu hayam teh!" (1)
Diaz pura-pura berlagak kepedasan. Sambil mendesah, Diaz memasukkan segenggam besar nasi putih langsung ke dalam mulut. Padahal, rasa pedas yang ia rasakan tidak sebanding dengan rasa kikuk yang menyelimutinya saat ini.
"Ceuk urang oge, lada tapi ngeunahna jawara, Yaz!" timpal Kang Ardi. (2)
Mulut pria gempal penuh dan mengunyah tahu goreng dengan semangat empat lima. Dalam hati, Diaz bersyukur ternyata Kang Ardi tak menyadari kebohongannya.
"Liam, nama kamu unik juga, ya. Terus suka musik brit rock juga karena dikenalin orang tua?" Kang Ardi melanjutkan pembicaraan.
"Kakak saya sih, sebenarnya yang banyak mengenalkan. Mama lebih suka musik Indonesia," jawab Liam. Tangannya perlahan menyingkirkan sambal ke pinggir piring.
Oh, enggak suka pedas ya? Diaz menyimpan rapat komentarnya dalam diam kali ini.
"Papa kamu? Suka musik juga?" Diaz refleks bertanya. Sebuah kesalahan fatal karena mendadak air muka Liam mendadak segelap langit mendung.
Ada jeda menggantung sebelum Liam memutuskan untuk menjawab. Mulut Liam mengunyah sangat pelan. Diaz mengambil kesimpulan cepat. Topik Papa ini membuat Liam tidak nyaman.
"Wah, Kang. Saya duluan ya, belum salat zuhur soalnya."
Diaz buru-buru mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit membereskan sisa makanannya dan membawa piring kotor ke arah dapur di bagian belakang kantor SRS.
Dengan sigap, cowok yang mulai kekenyangan itu membuang bungkus nasi ayam geprek dan mencuci tangan di tempat cuci piring. Baru saja ia berbalik, tahu-tahu sesosok tubuh kurus sudah berdiri di belakangnya.
"Haduh! Kamu kaya ninja, enggak kedengeran langkahnya!"
Saat terkejut pun, Diaz masih mencoba bercanda.
Liam melirik tajam. Bibirnya terkatup tanpa seulas senyum sedikit pun. Dengan gerakan perlahan, ia ganti membersihkan piring makan yang ternyata baru habis setengahnya saja.
"Sayang amat masih banyak begitu. Kasih ke kucing di luar aja, atuh!"
Dengan enteng, Diaz menarik lengan Liam dan membawanya keluar dari pintu belakang yang berdekatan dengan dapur dan musala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]
Roman d'amourApa jadinya kalau dua manusia takut komitmen tiba-tiba dipertemukan takdir dalam sebuah acara radio? Liam, si cewek gloomy yang enggan percaya akan ketulusan cinta. Telepon rutinnya setiap Minggu malam ke Radio Gara membuat sang penyiar terjerat si...
![Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/141232266-64-k889788.jpg)