Aku telepon sekarang, ya.
Layar ponsel Liam berkedip-kedip. Menghela napas panjang, gadis yang baru saja keluar dari ruang ujian Manajemen Stratejik dengan mata panda itu memasang senyum kecil demi menyapa sang penelepon.
"Hai, Yaz."
Seraut wajah dengan ekspresi cemas balik memandangnya.
"Udah ujiannya?"
Sebuah anggukan lemah membalas pertanyaan cowok yang nampak duduk di sebuah ruang kerja berwarna kuning dan oranye.
"Kamu pulang aja abis ini. Bobo cantik, biar enggak sakit."
"Aku mau ke perpus dulu. Aku mau baca dua buku lagi buat ujian besok."
"Sendirian? Nanti kamu pingsan di perpus, siapa yang mau nolongin?"
"Yaz, please. Aku enggak apa-apa."
"Vitamin yang aku kasih diminum enggak?"
"Iya, aku minum. Setiap kamu telepon ngingetin, langsung aku minum kok."
Tatapan nanar Diaz membuat telapak tangan Liam kini semakin berkeringat.
"Kamu udah belajar banyak dari kemarin. Udahlah, hari ini mending kamu istirahat. Review aja catatan seadanya."
Liam tertawa kecil. Sekarang Diaz sudah mulai masuk ke area akademiknya. Serasa punya dosen wali kedua di kampus. Pembicaraan ini masih akan berlanjut, Liam pun duduk di pinggiran anak tangga.
"Yaz, percaya deh, aku enggak apa-apa. Oya, aku ke perpus enggak sendirian. Tenang aja."
"Siapa yang nemenin kamu?"
"Rio sama temen-temennya mau dateng juga. Sekalian mau baca buku di sini, soalnya perpus kampus mereka kurang lengkap."
Nama itu lagi. Diaz mulai merasakan sebuah keinginan teleportasi ke kampus Liam sekarang juga.
"Perasaan kemarin baru ketemu. Sekarang udah nyamperin lagi."
"Yaz ...."
"Nanti malam aku ke kos, boleh?"
"Katanya aku disuruh istirahat. Kalo kamu dateng, yang ada kita ngobrol sampai pagi."
Gelengan kepala dari wajah tirus itu membuat semangat Diaz menurun hingga setengahnya. Merutuki mengapa dunia tidak adil, ia harus stuck di kantor dengan sederet pekerjaan dan agenda rapat. Sementara Rio bisa enak-enakan mendekati Liam. Pakai alasan belajar pula, sesuatu yang jelas tidak akan ditolak gadis serius itu.
"Kamu kan udah tahu semua jadwal ujianku. Kuat nunggu sembilan hari lagi kan? Kamis minggu depan, setelah jam sebelas siang, I'm all yours."
Tiga kata terakhir diucapkan Liam sambil menahan kegugupan luar biasa. Menggigit bibir, menunggu reaksi Diaz, semoga ia tidak terdengar seperti cewek murahan yang menawarkan diri. Ia tahu, tipe seperti itu biasanya membuat Diaz langsung ilfil.
Namun, sebaliknya, Diaz malah kembali berseri-seri.
"Siang abis ujian, kalo kamu ke kantorku buat interview sama Mas Edwin, mau ya!"
Terdiam, Liam kembali teringat akan tawaran yang Diaz ceritakan di telepon semalam. Magang di Glarity, agensi pemasaran digital, dengan Diaz sebagai atasannya. Menggoda sebenarnya, kalau Liam memandang kesempatan ini sebagai jalan untuk belajar bekerja secara profesional.
Namun, dengan faktor Diaz yang ada di sana, profesionalisme semakin mengabur. Liam sampai menghitung, waktu kebersamaan dirinya dengan Diaz akan semakin melonjak. Bisa jadi, ia hanya bebas dari Diaz ketika ada di kampus dan di kos. Selain kedua tempat itu, Diaz akan langsung mengisi tempat di sisinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]
RomansaApa jadinya kalau dua manusia takut komitmen tiba-tiba dipertemukan takdir dalam sebuah acara radio? Liam, si cewek gloomy yang enggan percaya akan ketulusan cinta. Telepon rutinnya setiap Minggu malam ke Radio Gara membuat sang penyiar terjerat si...
![Bittersweet Love Rhapsody [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/141232266-64-k889788.jpg)