Jaket dan sapu tangan merah. Entah kenapa, Airin malah cemberut sendiri melihat dua benda di depannya itu. Seperti ada wajah Sean yang sedang menyeringai di sana. Kenapa laki-laki itu sangat menyebalkan? Terlepas dari kebaikannya di mini market, juga sikap jantannya yang memberikan jaket pada Airin, dia tetap menyebalkan.
Tembus, ingusan, ileran, belekan. Setelah ini apa lagi yang akan membuat Airin semakin ingin menenggelamkan wajah saat bertemu Sean? Kenapa harus ada banyak hal memalukan?
Airin meraih jaket kulit berwarna hitam di tempat tidurnya. Sudah dicuci. Sapu tangan itu juga. Sekarang, dia punya tanggung jawab untuk mengembalikannya. Dan dia benci mengingat bahwa hari ini harus pergi mengerjakan tugas kelompok dengan Sean sepulang kuliah. Kenapa Pak Kumis seolah berkonspirasi dengan alam untuk membuat Airin dan Sean jadi sering bertemu?
Tiba-tiba perut Airin mules. Tamu bulanan membuat moodnya hancur di pagi hari. Entah karena alasan apa, dia malah ingin menjambak orang, siapapun itu. Dia menaruh jaket hitam itu di atas ranjang, kemudian berjalan menuju toilet untuk buang air kecil terlebih dulu sebelum berangkat.
10 menit kemudian, teriakan mamanya dari lantai bawah terdengar nyaring. "AIRIN! PAPA UDAH SIAP NIH! CEPET TURUN!" Seperti di pagi-pagi sebelumnya, suara mamanya yang cetar membahana mengisi rumah di jam-jam seperti ini. Hanya sekedar untuk memanggil Airin atau suaminya. Bawaan dari masa SMA, mantan anak paduan suara.
Airin segera keluar dari toilet dengan terburu-buru. Mengambil tas di meja rias, kemudian bergegas keluar dari kamar. Mendapati sang ayah sudah siap dengan setelan jas kantornya seperti biasa.
"Papa Sayang, titipan Mama jangan lupa ya." Rania mencium punggung tangan Eza sambil mengerling. Suaminya hanya tersenyum kemudian balas mencium keningnya.
"Siap, Sayang."
Airin yang berdiri di sana segera memisahkan kedua orang tuanya yang sudah bersiap akan berciuman. Dia menyambar tangan mamanya, kemudian mencium punggung tangan wanita cantik tersebut.
"Airin pamit, Mommy." Dia mengecup pipi mamanya. Kemudian segera menarik lengan Papa yang bersiap akan mengecup pipi mama juga.
"Hati-hati, Sayang." Rania melambaikan tangan dengan senyum mengembang.
Eza berjalan mundur, membiarkan lengan kirinya ditarik oleh sang putri, sementara tangan kanannya membalas lambaian sang istri lengkap dengan kissbye jarak jauh.
🌹🌹🌹
Bengong dengan mulut menganga. Itulah yang Airin lakukan sambil menatap laki-laki tinggi yang berjalan ke arahnya dengan kesulitan karena tumpukan buku di tangan yang menghalangi pandangan. Bukan itu yang membuat Airin menganga. Tapi, dua gelas minuman Starbuck di tumpukan buku teratas. Apakah lelaki itu sedang mencoba melakukan atraksi sirkus di depan Airin?
Sean menaruh tumpukan buku itu di atas meja dengan santai. Hebatnya dua minuman di atasnya tidak jatuh meski Sean menaruhnya asal. Seolah lelaki itu sudah terbiasa melakukan atraksi semacam ini. Airin masih diam menatap Sean, kemudian menoleh ke sekitar. Perpustakaan Umum ini memang tidak pernah sepi, tapi beruntung mereka duduk paling pojok.
"Lo gak takut dimarahin penjaga perpus karena bawa makanan?" Arin menautkan alis. Mereka datang ke sini untuk mengerjakan tugas, bukan makan. Kenapa tidak mengerjakan tugas di Starbuck saja sekalian?
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
Teen FictionSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
