"Truth or dare?" Sam menaik-turukan kedua alisnya sambil menyeringai ke arah Bayu saat ujung botol mengarah pada cowok sipit tersebut.
Bayu melotot horor melihat ujung botol itu. Menatap jengah ke arah Sam yang sepertinya sudah siap mengerjainya. Sementara Kaisar dan Chandra menahan tawa. Lain lagi dengan Sean yang hanya datar saja sedari tadi, juga Airin dan Mei yang duduk diam menyimak. Sedangkan Dion sama seperti biasanya, memilih sendiri bergulat dengan bukunya.
"Muka lo ngeselin amat dah," komentar Bayu.
"Yeee! Gak usah banyak ngemeng lo. Kualat nanti gue gak restuin sama Mei."
"Apaan dih!" Meinanda menyikut kakaknya.
"Biar lo gak ngerestuin, emang Mei mau nurut sama lo?" Bayu tak terima.
"Kalo main, ya main aja. Gak usah berisik." Dion merasa terganggu dengan suara cempreng Bayu. Membuat si sipit itu mendengus.
"Dia gak mau ikut main?" tanya Airin sambil mengedikkan dagu ke arah Dion yang duduk di sofa. Sementara mereka semua lesehan di lantai.
"Sean sama Dion itu sebelas-duabelas. Tapi, Dion udah kronis banget. Stadium akhir. Anggap Sean balok es, nah si Dion ini moyangnya gunung es di kutub utara." Bayu menjelaskan dengan tampang menyebalkan seperti biasa. Membuat Dion sempat mendelik, namun kembali pada bukunya lagi.
"Cepet, Bay." Kaisar memaksa.
"Yeee si buntelan kentut ini lagi. Gue pilih truth."
"Cemen lo ah." Chandra berkomentar dengan wajah songong andalannya. "Laki milih truth. Emang dasar otak lo ada di bibir. Suka lemes."
"Dare deh dare. Puas lo hah!!!" Bayu melotot ke arah Chandra. Membuat pria tinggi itu menahan tawa melihat ekspresi sebal Bayu.
"Oke, sekarang buka baju, terus keliling cottage sambil nyanyi lagu barunya Dewi Persik," ujar Sam dengan santainya.
"Apaan?"
"Udah lah lakuin aja. Buka baju lo." Kaisar menunjuk-nunjuk ke arah Bayu dengan wajah menyebalkannya.
"Malu ih. Lagi ada acara noh di luar." Bayu menunjuk ke arah pintu yang terbuka, dimana memang sepertinya ada acara birthday party. Ada yang sedang melakukan photo prewedding juga.
"Biasa malu-maluin juga pake malu segala." Chandra mencibir. "Cepet buka baju. Sekalian celana."
"Gak usah buka baju segala lah. Dikira gue gila nanti sama orang-orang di luar. Kalo gue lelepin di laut gimana?"
Airin dan Mei hanya menahan tawa melihat ekspresi Bayu yang sudah memelas. Airin melirik Sean yang sedari tadi sama sekali tak ikut andil dalam percakapan kawan-kawannya. Wajah dingin yang lelaki itu tunjukkan, seolah tak berminat. Kadang hanya tersenyum simpul. Tak lebih. Benar, mungkin jika Airin tak mengenal Sean, ia akan mengira Sean orang yang angkuh dengan wajahnya itu. Kenyataannya tidak.
Dilihat dari samping seperti ini saja, wajah tampan Sean mampu membuat Airin tak karuan. Diam-diam beristigfar dalam hati, sadar bahwa makhluk di dekatnya ini tidak bisa dikategorikan manusia. Terlalu tampan.
Sean yang sadar tengah ditatap lantas menoleh. Saat itu pula Airin kembali pada Bayu yang sekarang sudah tak memakai atasan, tinggal celana jinsnya saja. Pria itu melirik Meinanda agar gadis itu membantu, sayangnya Mei malah tertawa saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
TeenfikceSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
