ASEAN || 11. Ada Apa Dengan Sean?

3.3K 383 26
                                        

"AMPUN, BAPAKEEE! ADDOOO!!!"

Lelaki dengan surai pink itu meringis sakit sambil berteriak heboh saat telinganya ditarik dan tubuhnya diseret paksa memasuki kaffe oleh ayahnya sendiri. Membuat para pengunjung hanya menoleh sebentar, namun segera kembali pada makanan masing-masing.

"Mas, itu anak yang punya kaffe?" Seorang wanita bertanya pada salah satu pelayan yang tengah mencatat makanan di dekat mejanya.

Sosok tampan yang tengah mencatat makanan tadi lantas menoleh sebentar, kemudian hanya dapat merotasikan bola mata melihat temannya sudah diseret ke dapur oleh sang ayah.

"Iya," sahut si tampan itu dengan singkat. Tangannya masih setia memegang buku catatan. Dengan cekatan menulis apa yang dipesan pelanggannya.

"Kok masnya ganteng banget sih?" tanya teman dari wanita tadi. "Cocokan jadi Aktor atau Model tahu, gak?" ujarnya memuji.

"Makasih." Setelah selesai mencatat, lelaki tampan itu berlalu. Ia kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanan. Tak mempedulikan pujian wanita tadi. Sudah terlampau sering mendengarnya.

Dua wanita tadi hanya diam menatap kepergian pelayan berparas tampan itu. Dingin, namun membuat mereka semakin terpesona. Kebanyakan pelanggan dari kaffe ini selalu datang, hanya karena ingin melihat wajah tampan salah satu pelayannya. Yaitu, Sean.

Pak Yoga, Bos sekaligus ayah dari temannya-Tirta- selalu mengatakan agar Sean tersenyum pada pelanggan. Agar Sean bertutur manis pada setiap pembeli. Sayangnya, semua tak dihiraukan oleh pemuda berkulit pucat itu. Dan herannya, justru karena dia hanya memasang wajah datar, banyak pelanggan wanita berdatangan. Itulah alasan Pak Yoga memberikan gaji lebih dan tetap mempertahankan Sean di kaffenya. Sean harus bersyukur dikaruniai wajah tampan.

"Mas Sean, sakit nih!"

Sean yang sedang mengambil gelas minuman untuk ditaruh di nampan lantas menoleh ke arah Tirta yang sedang memasang seragam kerjanya. Bibirnya mencebik, tanda dia terpaksa menuruti ayahnya untuk membantu di kaffe milik keluarganya ini.

"Lo sih kelayapan." Sean tak peduli. Dia masih saja sibuk menaruh makanan di nampan.

"Ya abis bosen di sini. Gue kan anaknya." Tirta tersungut-sungut. Acara bersenang-senangnya di luar jadi batal.

"Justru karena lo anaknya. Makanya, disuru bantu kerja." Sean berlalu. Meninggalkan Tirta yang mendengus kasar.

Beberapa saat berkutat dengan pelanggan, ia kembali ke dapur. Ketika sampai, Tirta langsung menyodorkan sebuah ponsel hitam pada Sean. Ponsel Sean sendiri, yang memang ditaruh agar tak mengganggu pekerjaan.

"Ada yang nelepon."

"Siapa?" Sean menerima ponsel itu.

"Egitha gitu namanya."

Seketika ekspresi Sean berubah dingin.

"Udahlah biarin." Ia kembali menyodorkan ponselnya pada Tirta. Namun tiba-tiba ponselnya berdering kembali. Membuat Sean yang tadinya hendak berlalu, membalikkan tubuh lagi.

"Siapa lagi?" tanyanya.

"Airin."

Sean segera merebut ponselnya dari tangan Tirta. Membuat pemuda berambut pink itu agak kaget. Sean baru ingat bahwa dia ada janji dengan Airin untuk mengerjakan tugas kelompok. Dan juga baru ingat bahwa mereka sudah bertukar nomor ponsel, meski sebenarnya Sean sudah menyimpan kontak Airin duluan saat ponsel mereka tertukar.

ASEAN (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang