ASEAN || 32. Kenangan

1.8K 205 2
                                        

Ketika Sean mengatakan akan pergi ke suatu tempat, Airin pikir pria itu akan membawanya pergi ke kaffe tempatnya bekerja atau ke tempat biasa Sean menenangkan suasana hati. Kenyataannya, pemuda itu malah memarkirkan motor di pemakaman umum.

"Kuburan?" Airin ragu bertanya. Menatap Sean dengan tampang tak mengerti. Pemuda yang ditatap hanya tersenyum sambil membuka helm.

"Aku gak romantis ya? Ngajak cewek demam secantik kamu ke kuburan." Ia terkekeh sambil mulai melangkah kaki memasuki area pemakaman.

"Iya," jawab Airin langsung sambil ikut melangkah di belakang. Masih agak bingung, untuk apa pula Sean ke sini? Airin jadi kepikiran, ini malam jum'at atau malam selasa?

"Lagian, kamu yang maksa ikut." Sean santai saja menenteng jaketnya sambil masih tertawa pelan.

Airin mengerucutkan bibir. "Ya kan, kamu gak bilang mau ke kuburan."

"Gak mau?" Sean melirik sekilas dengan seringai menyebalkan. "Ya udah, pulang gih." Ia masih terkekeh, membuat Airin di belakangnya mendadak sebal.

Airin segera menyusul langkah Sean, mencubit pinggang lelaki itu ketika sampai di dekatnya. "Kamu udah berani ya gitu." Airin gemas sendiri.

"Akh! Sakit, ih." Sean segera menghindar. Mengusap-usap pinggangnya yang terasa panas. "Pedes."

Airin mendadak menghentikan langkah ketika Sean menghentikan langkah tepat di depannya. Menatap heran pada pria itu. "Kok pedes?"

"Iya, cubitan kamu pedes. Sakit." Sean masih dengan ekspresi meringis kesakitannya. Membuat Airin jadi merasa bersalah sendiri.

"Sakit? Yang bener?" Entah kenapa, Airin agak panik. Pasalnya, cubitannya memang terkenal sakit. Kulit Kaisar saja hingga membiru setiap kali dicubit olehnya. Lagi-lagi Kaisar yang menjadi korban.

"Iya ih."

"Sini aku lihat." Airin ingin menyingkap kaus yang digunakan Sean. Namun, urung saat mendengar komentar menyebalkan lelaki itu.

"Kamu mesum ya, mentang-mentang sepi." Sean menatap sekitar. Menarik sebelah sudut bibir

"Dihhhh." Airin segera menjauhkan tangannya dari ujung kaus yang digunakan Sean sambil memutar mata.

"Katanya kalo pedes dikasih yang manis, entar sembuh." Sean masih melanjutkan acara menggodanya.

"Itu kan kalo kamu kepedesan."

"Sama aja."

"Emang mau dikasih apa? Dioles selai vanila?" Entah kenapa, Airin masih saja menanggapi topik tak berfaedah itu.

"Enggak. Dicium aja."

Airin memutar mata. "Masa aku harus cium pinggang kamu?"

"Gak dipinggang."

"Terus di mana?"

"Di sini." Sean mencondongkan tubuh ke arah Airin. Membuat gadis itu menjauhkan tubuh karena wajah Sean yang sangat dekat.

"EKHEM!"

Sean dan Airin otomatis menoleh. Mendapati seorang bapak-bapak yang sepertinya merupakan penjaga di sana. Sean segera menjauhkan tubuh dan berdiri tegak. Agak kaget. Sejak kapan bapak ini ada di sana? Setahunya sedari tadi sepi.

"Jang, kalo mau mesra-mesraan jangan di kuburan. Ujangnya gak model ya, neng."

Airin ingin tertawa mendengarnya, sementara Sean mendadak masam. "Permisi, Mang." Setelah tersenyum ramah pada bapak tadi, Ia segera menarik lengan Airin menjauh dari sana.

ASEAN (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang