"Kalo gak suka pacaran, kita nikah aja."
Kata-kata itu terus menggema di telinga Airin. Wajah Asean saat mengucapkannya pun berputar-putar tak mau enyah dari pikirannya hingga membuatnya tak dapat tidur dari semalam. Hanya berguling ke sana kemari, bahkan makan pun jadi tak enak. Membuat papa dan mamanya bertanya-tanya apa yang terjadi pada putri kesayangan mereka.
Nikah katanya? Ternyata lelaki itu bermulut manis.
Dan entah apa yang terjadi pada diri Airin, Asean seolah tak mau pergi dari otaknya. Semacam terus mengusiknya sepanjang waktu. Hingga saat Airin harus belajar pun, di buku yang sedang di bacanya seolah ada wajah Asean. Semacam ada rasa ingin bertemu dengan Asean untuk waktu yang lebih lama, dan apa-apaan dengan rasa itu? Menyebalkan sekali, pikirnya.
Dalam hidupnya, sejak pertama kali membuka mata di dunia hingga saat ini menginjak dewasa, ia tak pernah merasakan hal semacam ini. Kalaupun iya, bukan wajah lelaki yang membuatnya terus kepikiran. Tapi, wajah galak dosennya ataupun tugas-tugas menumpuk yang seolah melambai-lambai. Kali ini berbeda, rasanya aneh sekali. Ia tak dapat mendekskripsikannya. Lebih sulit dari soal math bec yang diberikan Dosennya. Dan ini akan bahaya jika terus berlanjut.
Ia akan gila sebentar lagi.
"AAARGHHH!"
Windy yang duduk di dekatnya sambil meminum minuman isotonic hampir menyembur saat Airin tiba-tiba berteriak. Ia menoleh horor saat mendapati rambut sepupunya itu sudah acak-acakan dijambak oleh si empunya sendiri. Membuat Windy menganga, merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Lo kenapa sih?"
Jangan-jangan Airin kesurupan. Pasalnya, saat ini mereka duduk lesehan di bawah pohon, di taman belakang kampus. Dan katanya di sana ada penunggunya. Menurut Bayu sih begitu. Airin menoleh, dan Windy dibuat semakin bingung saat mendapati temannya itu seperti akan menangis.
"L-lo kenapa?" Windy jadi takut sungguhan.
"Gue bisa gilaaaa! Huaaa!" Airin kembali menjambak rambutnya frustrasi. Rasanya ia tak dapat berpikir apa-apa, selain suara Sean yang terus menggema. Ada apa ini?
"Rin, jangan bikin gue takut kenapa? Lo gak kesurupan, kan?" tanya Windy parno, sambil melirik sekitar. Ada banyak mahasiswa dan mahasiwi di sana. Setidaknya ia bisa berteriak jika ada apa-apa.
"Mungkin gue kesurupan. Gue butuh dirukyah. Rasanya gue bakal gila." Airin menjambak rambutnya. "Gue gak bisa tidur dari semalem." Ia menghempaskan tubuhnya ke pohon yang ada di belakangnya.
"Lo kenapa sih? Masalah tugas?" tanya Windy sambil meminum minumannya.
"Bukan. Ini lebih parah." Airin menutupi wajahnya dengan jaket yang sedari tadi pegangnya. Jaket Sean.
"Apa dong? Biasanya lo gila gara-gara tugas dari dosen." Windy sudah biasa mendengar keluh kesah Airin tentang tugas. Hampir setiap hari.
"Ini beda, Windy."
"Gara-gara sikap Yuan?" Windy bertanya takut-takut. Seketika eskpresi Airin berubah sedih. Temannya yang satu itu masih terus menjauhinya, bahkan langsung pergi saat Airin mengajaknya ke kantin bersama. Yuan pasti merasa Airin mengambil Sean darinya. Sekarang bagaimana caranya menjelaskan semuanya sementara Yuan tidak mau mendengarkan? Dan sialan pria bernama Sean itu.
"Ini mah gue gila beneran. Dia gak mau pergi dari pikiran gue. Bahkan, ucapannya pun seolah masih kedengeran di telinga gue." Suara Airin agak samar karena wajahnya tertutup jaket.
"Dia? Dia siapa? Yuan?"
"Asean."
"Asean?"
"Iya." Airin menurunkan jaket yang tadi sempat menutup wajahnya. Kemudian duduk tegak menghadap Windy. "Lo tahu gak sih itu cowok semacem jadi setan yang gentayangan di pikiran gue. Gue jadi gak bisa makan, gak bisa tidur, gak bisa ngerjain tugas, gak bisa ngapa-ngapain. Bahkan, pas gue buka kulkas aja rasanya ngelihat daging ayam tuh macem muka dia," curhat Airin menggebu-gebu. Sementara Windy di depannya hanya memberikan ekspresi datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
Fiksi RemajaSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
