ASEAN || 37. Teman Atau Musuh

1.8K 206 11
                                        

"Ngapa dah ini anak?" Chendrik baru saja datang langsung mengambil duduk di depan Sean yang tengah makan soto. Yang membuatnya bertanya bukan cara makan Sean atau kenapa anak itu berwajah datar, karena itu sudah biasa. Yang menarik di sini adalah wajah Kaisar di sebelahnya yang terlipat-lipat seperti pakaian belum disetrika.

Kantin ramai seperti biasa. Dion dan Sean anteng makan tanpa suara. Sementara Bayu juga baru datang. Duduk di dekat Kaisar. Baru saja duduk, dia langsung menabok pipi Kai.

"BANGSAT!" Kaisar membentak hingga membuat Dion tersedak kuah soto. Sean menoleh bingung dengan sendok masih menempel di bibir. Bukan bentakan canda seperti biasa yang Kai keluarkan, tapi lebih seperti marah.

"Sabar sabar." Chendrik langsung memeluk Kaisar dari belakang. "Bayu kan niatnya becanda." Dia menyengir sambil mengerling ke arah Bayu. Dan cowok sipit yang sempat mengalami syok kardio itu akhirnya ikut menyengir.

"Maap. Biasanya juga lo balik nabok." Iya, tapi sepertinya hari Kaisar sedang dalam mode danger and beware.

"Dia kenapa?"

"Abis nembak Yuan." Itu suara Dion. Akhirnya keluar juga suara keramat itu. Dion bisa seharian loh tidak mengeluarkan suara sama sekali. Gosipnya sih hemat tenaga karena suaranya merdu dan hanya dipakai ketika diperlukan.

Sean melirik Dion dan Kaisar bergantian, kemudian kembali memakan soto. Kenapa pula temannya itu berurusan dengan Yuan. Diam-diam Sean berharap Kaisar ditolak.

"Lah bagus dong. Terus kenapa muka lo kaya lemper begini?" Bayu melirik Kaisar yang sudah duduk tenang sambil memakan soto lagi. Hawa anak itu sudah tidak enak sejak tadi pagi.

"Ditolak." Dan harapan Sean terkabul duluan.

Chendrik dan Bayu melirik Kaisar. Anak itu kelihatan hilang semangat. Dia patah hati rupanya.

"Yuan masih suka sama Sean kali." Chendrik berujar tenang sambil meminum es teh Kaisar yang sejak tadi tak disentuh oleh pemiliknya. "Dulu kan dia ngebet banget tuh sama Sean," tambahnya lagi.

Sean mengangkat kepala dan menoleh tajam ke arah Chendrik, seolah memberi isyarat untuk tidak menyinggung masalah itu. Kaisar mendengus kasar.

"Ya gak usah sok galau segala lah, Kai. Muka lo jauh." Bayu sebenarnya kasihan pada Kaisar, tapi di kamus seorang Bayu tidak ada kata galau. Menurutnya untuk apa galau memikirkan perempuan? Kita bisa happy dan cari yang lain. Cewek kan bukan cuma sebiji.

Kaisar di sana masih tidak menjawab dan enggan membalas Bayu yang biasanya bisa setiap hari ribut dengannya. Hatinya sedang tidak baik untuk bercanda atau sekadar menanggapi Bayu.

"Oh ya, Chandra mana sih?" Chendrik menoleh ke sana kemarin, namun tidak menemukan cowok yang kelewat tinggi itu dimanapun.

"Lagi pacaran dia mah sama adiknya Kai," ujar Bayu. Seingatnya sahabat karibnya itu sudah lumayan waras sejak menggebet Windy, lebih waras daripada dirinya.

Bayu melihat sekitar, matanya menangkap dua sosok cewek yang celingak-celinguk mencari tempat duduk. Dimana-mana penuh. Maka, Bayu segera memanggil mereka. "Eh Neng! Sini ngumpul!"

Airin menarik Yuan untuk menghampiri sekumpulan cowok itu. Sean menoleh, tersenyum ke arahnya seperti biasa. Dia mengambil duduk di dekat Sean, dan Yuan duduk di dekat Dion. Namun, tiba-tiba Kaisar bangkit hingga menimbulkan deritan pada kursi yang didudukinya.

"Gue balik ke gedung fakultas gue ya," ucapnya datar, pamit pada teman-temannya.

"Kelas lo masih lama dah perasaan. Gak usah sok menghindar atuh, duduk hadap-hadapan. Mumpung ada orangnya ini-HMPT" Suara Bayu tertahan oleh gorengan yang disumpalkan Chendrik. Dia greget sekali pada Bayu yang tidak mengerti situasi.

ASEAN (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang