Dua anak adam berbeda jenis kelamin itu duduk bersampingan di kursi tunggu. Suasana canggung melingkupi keduanya. Si gadis yang sibuk dengan ponsel, sementara si pria yang bingung ingin memulai percakapan dari mana.
Memuji gadis di sampingnya ini amat cantik? Bukankah terlalu biasa dan terkesan sama saja dengan lelaki playboy di luaran sana? Membicarakan masalah cuaca? Oh ayolah, kuno sekali. Itu cara lama. Lalu apa? Rendra tidak ahli dalam urusan seperti ini.
Yang ia tahu, gadis cantik dengan rambut hitam legam di sampingnya ini bernama Airin. Teman sekampus Sean, mungkin. Bisa jadi pacar Sean. Itu yang sedari tadi Rendra pikirkan. Ah, kenapa tidak bertanya itu saja sebagai bahan percakapan? Daripada tidak ada bahan obrolan dan hanya saling diam menatapi lantai putih rumah sakit yang begitu mengkilat.
"Maaf, mbak pacarnya Kak Sean ya?" Rendra melirik dari ekor mata. Memainkan jaket di tangan kanan sambil menunggu jawaban Airin.
Airin menoleh, sepertinya agak kaget dengan pertanyaan Rendra yang tiba-tiba dan terlalu terus terang.
"Eh?" Gadis itu tersenyum kikuk. Namun sedetik kemudian wajah ayunya berubah sendu. "Bukan. Kami cuma teman," jawabnya lemah.
Diam-diam Rendra bersorak dalam hati, entah karena apa. Mungkin perihal status Airin. Jika kalian bertanya apakah Rendra tertarik? Oh tentu saja. Siapa yang tidak akan tertarik dengan seorang gadis cantik bak dewi seperti Airin ini? Mungkin ada. Tapi, bukan Rendra.
"Satu jurusan, ya?" Rendra. bertanya kembali. Mulai menghadapkan tubuh ke arah Airin.
"Iya, satu fakultas." Airin menjawab seadanya, tanpa menoleh.
"Mbak udah pacaran?"
"Eh?" Airin kembali dibuat agak kaget. Sepertinya adik Sean ini terlalu terus terang. Airin tersenyum kikuk sambil menjawab. "Belum. Belum pacaran."
Rendra tersenyum lagi. Sementara Airin terdiam. Sebenarnya, dibalik kata belum itu ada makna tersirat. Belum berarti akan. Ia masih berharap pada Sean, tentu saja.
"Oh ya, mbak udah semester berapa? Sama kaya Kak Sean?"
Dan percakapan panjang pun dimulai. 20 menit mereka habiskan dengan percakapan santai. Rendra yang lebih banyak bertanya, dan Airin hanya menjawab seadanya. Ia sama sekali tidak balik bertanya tentang Rendra meskipun pria itu seperti sangat penasaran dengan informasi seputar dirinya. Airin hanya berusaha seramah mungkin pada adik Sean meski sebenarnya kurang nyaman.
Sean masih belum datang. Sepertinya proses transfusi darah belum selesai. Diam-diam dalam hati, Airin masih merasa sangat jengkel pada Krish, bahkan membenci pria itu setengah mati. Begitu kurang ajar mengingat kelakuannya di mobil itu. Apalagi mengingat Sean yang memang terus terang menunjukkan sifat bahwa dia membenci kakak tirinya. Tapi, hari ini Airin melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Sean memberikan darahnya pada Krish yang sekarat di dalam sana. Entah Airin harus senang atau apa.
Kalau dilihat, Rendra sebelas duabelas dengan Sean. Sama-sama tampan, murah senyum dan ramah. Murah senyum pada Airin maksudnya, entah jika itu gadis lain. Pria ini selalu memancing Airin untuk menjawab, seolah begitu ketagihan mendengar suara lemah lembut si cantik. Sedang Airin malah berharap Sean segera datang.
Dan doanya terkabul sebelum ia memutuskan pamit ke kamar mandi untuk menghindari ketidaknyamanan dengan Rendra. Sean muncul dari belokan koridor Rumah Sakit. Menyampirkan jaket di pundak, dengan sebelah tangan menahan kapas di lengan, bekas suntikan tranfusi darah tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
Novela JuvenilSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
