"Sumpah ya, masih ada aja makhluk macam itu cewek di muka bumi. Gue kira udah punah, kena hujan meteor dulu." Yuan masih menggerutu sejak pulang dari kampus. Beberapa kali memukul stir kemudi mobilnya, kemudian mendengus kasar. Dia masih tidak terima dengan perlakuan cewek tidak punya otak yang tiba-tiba muncul itu. Kalau saja Windy tidak menahannya, mungkin kepala cewek itu sudah botak.
Airin memilih tak menyahut, dia duduk tenang di kursi penumpang samping Yuan, sambil melihat ke luar jendela. Windy sudah pulang dengan Kaisar seperti biasa, jadi dia tidak ikut Airin dan Yuan.
Kaffe tempat Sean bekerja menjadi tujuan mereka hari ini. Kebetulan ingin makan di sana, sekaligus mengerjakan tugas. Yuan juga berkata penasaran seperti apa kaffe yang katanya selalu rame dan tak pernah kehabisan pelanggan itu.
Tiba-tiba mobil berhenti di tepi jalan. Airin segera menoleh ke arah Yuan dengan ekspresi bingung. "Kenapa berhenti?" tanyanya.
Yuan memberengut seolah menahan kesal. "Mati, Rin," keluhnya mengusap wajah gusar.
Airin menghela napas. "Terus gimana? Bengsin abis kali."
"Full. Baru gue isi tadi pagi."
"Terus?"
"Mana gue tahu." Dari eskpresinya, Yuan kesal sekali. Hari ini sangat menyebalkan ternyata. Dia memukul stirnya lagi, cukup kencang. Airin hingga berjengit kaget.
"Coba cek deh." Airin sudah bersiap melepas sabuk pengaman, namun dengusan Yuan membuat Airin menoleh kembali.
"Gue kaga ngerti beginian, Rin."
"Kali ada bengkel sekitaran sini." Airin menyembulkan kepala ke luar jendela, melihat sekitar.
Yuan keluar dari mobil dengan dongkol. Tadi pagi diserang cewek gila, sekarang perutnya lapar dan mobilnya mati. Sialan sekali. Dia membuka kap mobil. Asap yang mengepul dari mesin mobilnya membuat Yuan terbatuk sesak.
Airin mendekat. Mengibaskan tangan di depan wajah ketika asap itu menyambutnya. Cukup membuatnya ikut berbatuk seperti Yuan.
"Kayanya bengkel jauh deh, Rin." Kemanapun Yuan melihat, dia tidak menepukan tanda-tanda ada bengkel atau apapun di dekat sini. Daerah ini cukup sepi dan sepertinya jarang ada kendaraan lewat.
"Kaisar nih yang ngerti beginian."
"Gue telepon kali ya?" Yuan mengeluarkan ponselnya dari saku celana, kemudian menekan tombol panggil pada kontak Kaisar.
Airin berdiri di dekat mobil. Menunggu Yuan yang sedang mencoba menghubungi Kaisar. Pasti akan lama. Hari sudah lumayan sore. Apakah Sean menunggu di sana?
Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di dekatnya. Airin menoleh penasaran, juga Yuan dengan ponsel masih menempel di telinga. Sosok dengan helm hitam itu menyapa ramah, sok akrab, seolah mereka saling kenal.
"Kenapa mobilnya, Rin?"
Airin tidak langsung menjawab. Dia sempat menatap bergantian antara mobil dan cowok dengan jaket hitam itu. "Mmm... mogok, Mas," ujarnya canggung. Dia tidak tahu siapa pria ini.
"Mau kemana?" tanya cowok itu lagi. Dia masih duduk di atas motornya.
"Kaffe Mytrip."
"Oh, tempat kerjanya Kak Sean?"
Airin terdiam saat nama Sean disebut. Siapa cowok ini? Bagaimana bisa kenal dengan Sean? Namun, detik berikutnya pertanyaan Airin terjawab saat cowok itu membuka helm kemudian tersenyum ke arahnya.
"Ini aku." Rendra menyisir rambut dengan jemarinya sambil tersenyum kecil. Sedangkan Airin akhirnya bernapas lega. Dia takut akan berhadapan dengan orang aneh lagi setelah apa yang terjadi padanya selama ini, dan tentunya tadi pagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
Teen FictionSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
