"Kurang."
Sean masih mencoba mencerna maksud dari ucapan Airin sambil mengerjapkan mata. Menatap gadis yang terlihat polos di depannya ini.
"K-kurang apa?" tanyanya hati-hati. Dan demi Tuhan, suaranya malah bergetar.
Airin menyengir lebar. "Kurang bubur." Dan detik itu napas Sean yang sempat ditahan, keluar juga melalui dua lubang hidung mancungnya.
"Gue lapar," ujar Airin sambil menggaruk tengkuknya merasa tak enak hati.
Sean hanya terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan itu. Lantas ia segera memanggil bapak tukang bubur di sana, kemudian memesan lagi untuk Airin. Mungkin pikirannya yang selama ini suci berisi ceramahan dari Ustad Somad yang sering ia dengarkan, kini mulai tercemar sedikit. Ya, hanya sedikit.
Diam-diam jauh dalam lubuk hati Airin, jantungnya hampir meledak. Suhu badannya telah meningkat drastis dan mungkin jika dicek, ia akan disangka demam. Ia hanya mencoba menghilangkan kecanggungan yang sempat melanda tadi, karena ia juga melihat Sean yang sepertinya merasa resah karena menciumnya tanpa ijin. Dan jujur, meski Sean akan selalu mencium seenaknya seperti ini tanpa persetujuan, Airin mau saja. Eh?
Ia meraba bibirnya sambil melirik Sean yang duduk tenang di sebelahnya. Pipinya merona kembali. Bibir pria itu masih terasa. Ah, ia bisa semakin gila.
🌹🌹🌹
Sehabis datang kuliah, bukannya pulang, kedua insan itu malah pergi jalan-jalan. Sean berkata ingin mengajak Airin ke suatu tempat. Entah kemana, Airin hanya menurut saja kemanapun Sean membawanya.
Duduk lesehan di bawah langit malam, di atas bukit. Menatap bintang yang bertaburan di atas sana, juga kerlap-kerlip lampu perumahan di bawahnya.
Heran, ini sudah malam. Tapi, Airin tak takut dibawa oleh pria yang bukan siapa-siapanya. Saat pergi dengan Kai saja, ia tak pernah merasa seaman ini. Meski Kai sepupunya, tak menutup kemungkinan ia merasa takut pergi berdua, apalagi malam-malam seperti ini.
Airin melirik Sean yang duduk di sebelahnya. Pria itu nampak menikmati angin malam yang menerpa wajah tampannya. Matanya terperjam dengan senyum kecil di sudut bibir.
Ah, bibir itu. Airin kembali teringat bagaimana rasanya saat bibirnya dan bibir Sean bertemu. Yang pertama karena ketidaksengajaan, yang kedua karena hukuman, dan tadi pagi benar-benar inisiatif Sean sendiri untuk menciumnya.
Jika diingat-ingat, mungkin pria lain akan mencium gadis yang ia suka di sebuah tempat romantis, seperti taman, restauran, atau semacamnya. Tapi, Sean menciumnya di warung bubur, di depan bapak-bapak penjual bubur yang menjadi saksinya. Lucu sekaligus mendebarkan.
Diam-diam Airin tersenyum tanpa sadar.
"Pernah ke sini, gak?" Suara lemah lembut Sean menginterupsi. Membuat Airin tersadar dari lamunannya. Mendapati Sean sudah membuka mata dan tengah menatap ke arahnya dengan sebuah senyuman.
"Eh?" Sedikit tak dengar karena sedari tadi Airin malah berfokus pada bibir Sean.
"Pernah ke sini?" Sean bertanya ulang sambil meluruskan kakinya yang semula ditekuk.
"Belum," jawab Airin sambil mengikuti posisi Sean. Meluruskan kaki, dengan tangan di kedua sisi tubuh sebagai tumpuan.
"Gue sering ke sini, biasanya sama Kai." Sesekali Sean melirik Airin yang tak lepas menatap wajahnya, namun ia kembali pada hamparan langit di atas kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASEAN (TELAH TERBIT)
Teen FictionSemula, kehidupan perkuliahan Airin Divyanita sebagai mahasiswa kedokteran baik-baik saja. Lurus dan terlampau datar. Namun, tiba-tiba merumit semenjak alam berkonspirasi dan mempertemukannya dengan Asean Baratha. Laki-laki itu, antara hitam dan pu...
