ASEAN || 7. Restu

3.4K 460 33
                                        

"Sean?"

Lelaki itu hanya tersenyum simpul sebagai jawaban.

"Bawa masuk, Rin. Biar mama siapin handuk dan teh hangat. Kasihan kehujanan. Kayanya perlu penting sampe rela hujan-hujanan begini." Rania berlalu, meningalkan Airin dan Sean di ambang pintu.

"Masuk, yuk?" ajak Airin canggung.

Sean hanya mengangguk sambil melepas jaket kulitnya. Lalu mengikuti langkah Airin masuk ke dalam.

Ketika sampai di ruang tengah, sapaan ayah Airin yang pertama kali menyambut Sean. Diikuti dengan senyum ramah pria paruhbaya itu.

"Eh, temennya Airin ya?" sapa Eza sambil menaruh remot TV di samping tubuhnya.

"Asean, Om." Sean mencium punggung tangan ayah Airin dengan sopan.

"Duduk, nak."

"Makasih, Om." Sean mengambil duduk. Airin pun mengambil duduk di samping Sean.

"Ini handuknya buat ngeringin rambut kamu." Rania menyampirkan handuk putih di pundak Sean. "Ini tehnya juga." Kemudian meletakkan secangkir teh di depan pemuda berkulit pucat tersebut.

Sean mulai menggunakan handuk yang diterimanya untuk mengeringkan rambut. Rania mengambil duduk di dekat suaminya. Mengamati Airin yang fokus menatap Sean sambil menggenggam ponsel pria itu. Tak sadar bahwa mama dan papanya saling melempar senyum jenaka.

"Diminum tehnya, nak." Eza mempersilakan pemuda di depannya. Asean mengangguk sopan dengan senyum simpul. 

"Makasih, Om." Sean menyeruput teh hangat buatan mama Airin, lalu menaruh kembali gelas itu di depannya.

"Ada apa ya hujan-hujan begini kamu datang menemui Airin? Sepertinya penting sekali," ujar Eza sambil menatap Sean dari atas ke bawah. Menilai tanpa sepengetahuan orang yang dinilai. Tapi, kemudian tersenyum sendiri menyadari betapa tampan anak muda di depannya ini.

"Oh iya." Sean mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Saat itu mata Airin berbinar. Itu ponselnya. "Ini handphone Airin, Om. Hp kami ketuker tadi." Sean menaruh ponsel berwarna hitam itu di meja tepat di depan Airin.

"Oh ya, ini handphone lo." Airin juga mengembalikan ponsel Sean. Lalu mengambil ponselnya sendiri.

"Kok bisa ketuker?" tanya Eza penasaran.

"Gini-"

"Kalian ini temen atau pacar?" Pertanyaan Rania sukses membuat Airin dan Sean reflek menoleh secara bersamaan pada wanita yang masih tampak awet muda tersebut.

"Temen," jawab Airin tajam.

"Gak usah ngegas dong," ujar Eza terkekeh.

"Emang temen kok."

"Temen apa temen?" Rania menaik-turunkan alisnya. Menggoda sang putri.

"Masih temen, Tante." Sean yang sedari tadi memilih diam akhirnya menyahut juga. Airin sempat mengangguk, namun akhirnya mengerutkan kening saat menyadari ada hal yang ganjil.

"Masih?" Eza menaikkan alisnya. "Berarti sewaktu-waktu bisa naik pangkat dong," lanjut Eza sembari terkekeh. Sean tersenyum, menggaruk belakang kepalanya. Sementara Airin mendadak menatap tajam pada pria di depannya.

ASEAN (TELAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang