Sepuluh menit berlalu, mereka tiba di bangunan tidak jauh dari gedung Cort Theater berada. Galih menyebutnya dengan rumah.
"Apa Ibu tirimu ada di rumah?"
"Aku tidak tahu, mari berharap semoga wanita tua itu tidak ada di dalam."
"Apa Ibu tirimu punya anak? Maksudku, apa kamu punya saudara tiri?"
"Tidak." Galih melepas seatbelt. "Mari, aku tidak sedang mau membahas Ibu tiri."
Keduanya sama-sama turun lantas memasuki pintu setelah melewati tangga kecil. Rumahnya nampak tidak terawat, meski begitu tetap kelihatan layak untuk dihuni. Sopie di bawa menuju ruang keluarga dan mendapati Sady di sana memangku kaki, membaca koran sambil menyesap sepuntung rokok. Lalu arah mata Sady menangkap kedatangan mereka.
"Whoa, whoa Galih." Sady berdiri. "Dan Sopie."
"Halo, senang bertemu lagi," kata Sopie kikuk.
"Dimana Ayah?"
"Aku pikir Ayahmu masih mengurus acara itu?"
"Jadi belum datang?"
"Aku disini, kenapa cari yang tidak ada." Sady melipat koran dan mematikan rokoknya. "Sini duduk."
"Kakek kapan kesini? Galih bilang kakek ada di Bogor? Kakek sendiri?"
Sopie duduk bersebelahan dengan Sady disusul Galih. Sambil terbatuk-batuk Sady menjawab. "Kemarin, ya, aku sendiri. Sudah biasa untuk pulang pergi sendiri, kadang aku rindu almarhum istriku, saat seperti ini aku harus duduk sendiri."
Sopie perlahan membelai lembut pundak Sady. "Ada aku dan Galih disini."
"Aku senang ada kalian."
"Kelihatannya kakek tidak sehat."
Sady mengusap kerokongannya. "Kerokonganku sering gatal belakangan ini." Buru-buru lanjut bicara saat raut Galih dan Sopie berubah khawatir. "Cuma gatal biasa, tenang."
Sopie melirik Galih. Sady bisa menangkap sinyal itu. "Granpi tidak lihat pertunjukan orkestra Ayah?"
"Terlalu ramai, aku tidak suka, jadi aku memilih pulang."
"Tadinya aku dan Sopie mau bertemu Ayah, kalau Ayah belum pulang, yasudah mungkin besok atau nanti."
"Liburanmu di New York pasti sebentar lagi habis? Benar begitu Sopie? Kalau boleh, besok aku mau mengajakmu ke suatu tempat, kamu mau?" Sady tersenyum, kerutan disekitar matanya kentara terlihat. "Tidak bersama Galih."
"Granpi!"
"Tidak boleh? Kamu masih bisa bertemu Sopie lain kali di Indonesia, tapi aku sepertinya memilih tinggal di Queens lagi beberapa bulan bersama Ayahmu, tidak apakan?"
"Aku tidak boleh ikut?"
"Kalau kamu mau, kita jalan bertiga."
"Begitu dong."
Sopie memandang seorang kakek dan cucunya dengan gemas. "Besok, kek?"
Sady mengangguk. "Ya, besok."
Sopie ikut mengangguk.
Suara bel rumah terdengar, lantas mereka bertiga mengarahkan pandangan pada dua orang yang baru tiba memasuki rumah setelah menutup pintu. Heri Santiano disana berdiri menjinjing koper bersama dengan seorang wanita disampingnya.
"Lusi?" Suara terkejut Galih terdengar ke telinga Sopie.
"Aaaaaa, Galih? Omg, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu?" Lusi segera memeluk Galih sementara Heri Santiano menatap bingung keberadaan Sopie, karena pasalnya wajah Sopie asing untuk sebuah peetemuan inu. "Kamu tidak bilang-bilang mau ke New York, aku jadi menyusul, jangan salahkan aku jika aku nekat seperti ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Desember
RomanceCopyright©2017-All Right Reserved by Seha. All Plagiarism Will be Snared. "I love you." "Oh, I see?" "You know that?" "Of course." "Why do you know? May be I've not had time to say and probably will never tell you." "From your gaze." "You love me?" ...
