Bunyi sepatu itu kian lama semakin jelas terdengar olehku dan teman sekelasku.
Dan sampailah di depan pintu. Seorang pria yang umurnya paruh baya dengan memakai kacamata yang bertengger di hidungnya serta kumis tebal itu menambah kesan galaknya guru tersebut.
Coba tebak siapa dia?
.
.
.
.
.
Dia adalah pak Bro. Sebenarnya nama beliau adalah Subroto Kemo, tapi kebanyakan mahasiswa di sini memanggilnya dengan sebutan pak Bro.
Keren yah!😁
Beliau adalah pemilik kampus ini. Jadi you knowlah, semua orang takut padanya dan hormat padanya.
Dengan ekspresi terkejut, karena pasalnya beliau jarang masuk ke kelas-kelas seperti saat ini. Membuat semua mahasiswa bergidik ngeri menatapnya.
Hanya satu yang terlintas di pikiranku saat ini,
"Apa tujuannya datang kemari?"
Pak Broto pun memberi salam,
"Selamat pagi semua!!" ucapnya dengan nada datar.
Kami pun serempak membalas salamnya, "Selamat pagi, pak??"
Tanpa basa-basi pak Broto akhirnya menyampaikan maksud dari kedatangannya ke kelas kami.
"Saya kemari hanya ingin memberitahukan bahwa pak Bimo hari ini tidak dapat mengisi pelajaran di kelas kalian karena saya baru saja menyuruhnya untuk menghadiri rapat dadakan di luar kota."
Sempat terbesit dalam hati, bahwa aku sangat senang karena guru killer itu gak ngajar hari ini. Tapi di sisi lain aku juga agak kesal karena susah payah aku pergi ke kampus untuk mengikuti pelajarannya tapi ternyata semua sia-sia.
"Oh, tau gitu.. aku tadi mending nggak ngampus aja. Lebih baik tidur nyenyak di rumah!" pikirku.
Setelah memberi pengumuman tersebut, pak Broto akhirnya meninggalkan kelas kami. Dan tak lupa memberi salam tentunya.
Kami semua bersorak senang di dalam kelas. Akhirnya kami bisa pulang kuliah lebih awal. Karena jadwal mata pelajaranku untuk hari ini hanya satu yakni Sejarah.
"Kara!!" panggil Intan sembari menepuk pundakku.
Aku memutuskan untuk menoleh ke belakang dan menatapnya.
"Iya, kenapa, Tan?" jawabku.
"Kita kan pulang kuliah lebih awal nih!? Lo mau gak ikut pergi ke Mall bareng kita?" ucap Intan sambil menoleh ke teman-temannya yang lain.
Akupun berpikir sejenak dan kujawab, "Uhm.. sorry!! Gue nggak bisa ikut, siang ini gue ada les musik. Gue takut telat soalnya," Akupun memasang wajah memelas pada mereka.
Sebenarnya aku sangat ingin ikut pergi bersama mereka karena ada suatu barang yang ingin ku beli juga di Mall. Aku sangat tidak senang mengikuti les musik ini. Terlebih juga karena aku tidak bisa bermain alat musik dengan baik. Tapi entah mengapa tante Vika memaksaku untuk mengikuti ekstra tersebut.
Mengenai tante Vika, dia adalah adik kandung Alm. Ayahku. Sejak Ayah dan Bunda tiada dialah yang merawatku, namun saat aku memasuki usia dua belas tahun, tante Vika menyuruhku agar tinggal di rumah Ayah sendiri karena mengingat aku ini sudah besar.
Di rumah itu aku tidak sendirian, hanya ditemani oleh lima pembantu rumah tangga, tiga tukang kebun, dua satpam rumah, dan dua supir pribadi yang siap mengantarku kemanapun aku pergi.
"Oke baiklah, kalau begitu kami duluan ya? Daahhh," ucap Intan sebelum pergi meninggalkanku sendiri di dalam kelas.
"Daahhh!" seruku sambil melambaikan tangan dan kulihat mereka telah pergi keluar meninggalkan kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
PianoQuarium(END)
Mystery / Thriller[Mystery x (minor)Horor] #1 on Girls Fantasy Series(GFS) Ada yang bilang, bahwa karma akan terus berjalan sampai ke keturunan terakhirnya. Sampai semuanya habis tak tersisa, dendam yang sungguh mengerikan. Kesalahan di masa lalu membuat seorang roh...
