#5. Flashback (Kilas Balik)

115 30 10
                                        

"Tante akan cerita, dulu ayahmu adalah seorang pianis. Ayahmu mulai meniti karirnya sejak lulus SMP, dia memiliki bakat bermain piano sejak dia berusia delapan tahun. Karena ekonomi di keluarga kami saat itu kurang mencukupi, jadi ayahmu mulai bekerja setelah lulus SMP untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kakekmu dulu sakit keras dan nenekmu jadi sedih karena penyakit kakekmu yang tak kunjung sembuh. Hingga lama-kelamaan nenek menjadi gila, kami semua terpaksa mengurungnya di lantai atas rumah yang kau tinggali saat ini. Dan pada akhirnya diapun meninggal. Kegilaan nenekmu itu cukup parah, dia bertidak seperti seorang Psychopat. Menculik anak-anak kecil di sekitar rumahmu untuk diambil darahnya dan diberikan kepada kakekmu, nenekmu sangat mempercayai hal-hal mistis seperti itu. Dan tak lama setelah nenekmu meninggal kakek juga ikut menyusulnya. Aku dan ayahmu sangat bersedih saat itu. Tapi sebelum kakek meninggal, beliau menulis surat untuk kami berdua. Saat itu tante masih berumur dua tahun dan belum mengerti apa-apa mengenai surat tersebut. Dan apa kau ingin tahu apa yang ditulis oleh kakekmu dalam surat tersebut?" Tante memberi jeda sejenak untukku mulai berpikir dan menduga-duga apa isi dari surat itu.

"Apa yang kakek tulis?" tanyaku yang masih dalam keraguan.

"Dia menulis,.......

Jetis, 1969

Untuk Mahendra putraku,,

Ayah tahu bahwa kau sangat berbakat memainkan piano, maaf karena ekonomi di keluarga kita kurang mencukupi sehingga impianmu terpaksa tertunda. Tapi, sekarang kau bisa mewujudkan impianmu itu. Untuk menjadi seorang pianis, kau sangat memerlukan piano bukan?

Ini, Ayah tinggalkan uang yang sudah Ayah tabung untukmu dan adikmu, Vika. Kau harus menjaga Vika dengan baik, jangan biarkan dia menangis. Vika pantas untuk bahagia.. Kau harus menyekolahkan Vika sampai ke Perguruan Tinggi, agar hidupnya bisa lebih baik.

Kau bisa memakai uang itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan ya? Kau juga bisa membeli piano dengan uang tersebut. Maaf karena selama ini ayah belum bisa membahagiakan kalian berdua.

Semoga hidup kalian bisa lebih baik daripada sekarang :v


Ahmed Mahesian,

Begitulah isi dari surat tersebut."
Tante menghela nafas panjang setelah menunjukkan sebuah surat lusuh nan kotor seperti habis dimakan tikus itu padaku. Aku sempat tak percaya bahwa Tante ternyata masih menyimpan surat dari kakek sampai saat ini.

Akupun bertanya, "Tante, apa hubungan semua ini dengan piano yang Tante maksud? Apakah ayahku jadi membeli piano waktu itu?"

"Iya, setelah kakekmu tiada, kami melanjutkan hidup berdua di rumah besar yang telah kau tinggali saat ini. Namun cerita tak putus di situ. Setelah dua bulan kemudian, Ayahmu membeli sebuah piano,"

•~•

Flashback,,

"Kakak pulang, Pika!" teriak Mahendra pada adik kecil kesayangannya itu.

"Asikk! Kakak bawa apa? Es klim ya?" tanya gadis kecil nan polos yang langsung memeluk Mahendra erat.

"Iya, kakak tadi beli es klim banyak. Tapi kakak juga punya kejutan lain loh buat Pika?" ujar sang Kakak sembari mencubit gemas pipi adiknya.

"Mana kejutannya?" tanya gadis kecil itu.

"Ini dia kejutannya," teriak sang Kakak sambil menunjukkan sebuah piano hitam yang indah dan berkilau di ruang tamu itu.

PianoQuarium(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang