"Sudah genap dua minggu, Nona tak kunjung bangun," jawab Bik Anna sembari tertunduk lesu. Dia terlihat sangat mengkhawatirkanku selama ini.
"Dua minggu?" teriakku. Setelah mendengar hal tersebut, lantas seketika aku merasa heran sekaligus bergidik ngeri.
"Aku tertidur selama dua minggu? Bagaimana bisa?! Misteri yang aneh," batinku ragu.
"Iya, sejak kemarin kami semua berharap-harap cemas. Kami kira Non Kara tidak akan selamat. Kami semua di sini selalu mendoakan kesembuhan Non Kara, berharap agar Non Kara segera bangun." Kulihat bulir-bulir sebening kristal itu mulai jatuh membasahi wajah keriput Bik Anna. Dengan hanya melihatnya saja, aku jadi merasa sedih sekaligus tak tega.
"Maafkan aku semuanya. Karena sudah membuat kalian khawatir begini," Hanya itu saja yang bisa kukatakan saat ini.
"Jika aku bisa tertidur selama itu, lantas apa yang terjadi padaku saat itu?" tanyaku polos.
Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada seseorang yang sedang dalam keadaan seperti itu. Apakah jasad mereka hanya beristirahat sejenak atau roh mereka yang justru pergi meninggalkan jasad tersebut. Kini aku sedang menanti jawaban itu dari mereka.
"Sebenarnya, saat itu kami berpikir hendak membawa Non Kara ke rumah sakit, sebab kami mengira kalau Non Kara itu sakitnya parah seperti sudah berada di ujung kematian. Tapi akhirnya kami semua sepakat untuk membiarkan Non, tetap berada di kamar ini hingga sekarang," jawab Pak Jhon, si tukang kebun rumahku.
"Apa alasannya? Kenapa kalian membiarkanku tetap berada di sini! Kenapa pula kalian semua tidak berusaha untuk membuatku terbangun dari tidur panjang ini?" Aku terus memberondong mereka dengan banyak pertanyaan yang masih tersimpan jelas di pikiranku.
"Karena selama dua minggu Nona tertidur... " Aku tidak tahu persis kenapa ucapan Pak Jhon tiba-tiba menggantung, sepertinya ia tak sanggup untuk mengatakan kalimat selanjutnya dari kalimatnya tadi.
Sementara aku, aku masih terus setia menunggu jawaban dari kalimat selanjutnya. Aku merasa semua fakta ini masih terasa abu-abu buatku. Belum ada kejelasan. Aku sendiripun masih setengah sadar, setengah ingat. Aku hanya mengingat sebagian saat berada di alam roh, lebih tepatnya tentang kebenaran kakek waktu itu. Dan sisanya lagi, memori itu masih terbungkus kabut putih yang samar.
"Lalu apa? Ayo tolong katakan!" Karena Pak Jhon masih belum mau mengatakannya, aku pun mulai geram.
"Bik Anna, ayo kasih tau Kara! Apa yang sebenarnya terjadi?" rengekku meminta penjelasan karena aku tidak terlalu mengingat kejadiannya.
Satu tarikan napas panjang Bik Anna cukup menjelaskan bahwa mungkin cerita ini tidak patut untuk kudengar, apalagi dalam kondisiku yang kurang sehat seperti sekarang. Tapi apapun itu ceritanya, aku selalu setia menunggu kelanjutannya dengan penasaran.
"Baiklah, Bibi akan cerita. Malam itu tepatnya pukul sebelas malam saat Bibi ke kamar mandi, Bibi mendengar sesuatu atau benda jatuh dengan keras dari arah gudang. Awalnya Bibi takut untuk melihat suara apakah itu? karena saat itu semua sudah sepi, jam-jam di mana semua orang sudah tidur. Bibi pikir mungkin ada maling yang masuk ke dalam rumah ini, jadinya Bibi memanggil satpam di luar dan menyuruhnya untuk memeriksa ke gudang. Dan alangkah terkejutnya Bibi saat pintu gudang itu dibuka, Bibi menemukan Non Kamara sedang terbaring pingsan di dalam sana dengan keadaan yang cukup buruk."
"Hah?!" pekikku terkejut.
"Bibi sempat heran, bagaimana Non Kara bisa terkunci di dalam gudang?" lanjutnya.
Aku mulai mengingat kejadian awal, di mana aku bertemu hantu yang menyerupai Bik Anna saat makan malam hari itu.
"Itu... aku ingat! Aku diseret sama hantu sampe ke gudang. Terus Bik?" Aku menyuruh Bibi agar melanjutkan ceritanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PianoQuarium(END)
Mystery / Thriller[Mystery x (minor)Horor] #1 on Girls Fantasy Series(GFS) Ada yang bilang, bahwa karma akan terus berjalan sampai ke keturunan terakhirnya. Sampai semuanya habis tak tersisa, dendam yang sungguh mengerikan. Kesalahan di masa lalu membuat seorang roh...
