#9.(2) Mengundang-Nya Datang?

87 18 1
                                        

Kamara POV

Malas sekali aku hari ini harus mengikuti ekskul piano lagi, dan lagi. Padahal aku tidak terlalu berbakat, tapi tante Vika selalu memarahiku jika aku bolos ekskul piano.

Ditambah lagi, Pak Kepsek bilang kalau guru les pianonya diganti. Haduh, malas sangatt!!

Kata teman-teman, guru baru itu sebenarnya juga seorang Mahasiswa di kampus ini, hanya saja dia sudah kuliah semester tiga. Itu artinya dia masih kakak kelasku. Mereka juga bilang kalau dia itu jago main piano dan sering menang dalam beberapa kontes musik yang diadakan tingkat Kampus di kota.

•~•


Saat ini aku sudah sampai di depan ruang musik, aku segera masuk ke dalam dan ternyata ruang musik ini masih sepi. Hanya ada beberapa Mahasiswa lain dan aku saja yang sudah datang, bahkan guru baru itu juga belum datang. Aku segera duduk di tempat favoritku, yakni di bangku paling belakang. Entahlah, aku sangat senang duduk di belakang karena bagiku tempat itu lebih tenang dan tidak mengganggu. Aku benci keramaian. Dengan duduk di belakang membuatku lebih bisa rileks dan fokus saat bermain piano.

Sudah setengah jam kami semua berada di ruangan ini sambil menunggu guru itu datang, tapi sepertinya guru tersebut tak kunjung datang. Bosan dan perasaan kesal mulai melanda diriku. Sepertinya guru baru itu tidak akan bisa on time, ingin sekali ku memaki-maki dirinya saat dia datang nanti.

Aku saja yang malas mengikuti ekskul piano bisa on time, tau gitu lebih baik aku bolos saja tadi. Tidak peduli dengan amukan tante Vika nanti, daripada aku harus menunggu lama di sini.

Tak lama kemudian datanglah seorang pria dengan aroma maskulin yang khas menyeruak di seluruh ruangan ini. Aku sangat yakin dia pasti guru baru itu. Aku sudah sangat marah dan segera membuang muka, tanpa memandang wajahnya terlebih dahulu. Aku melihat dari pelupuk mataku, saat ini dia sedang berdiri tegak dihadapan kami semua. Dia memberi sedikit senyuman sebelum berbicara.

Aku tahu dia terlambat, dia sengaja memberi senyum sebagai tanda permohonan maafnya karena terlambat datang. Enak saja dia! Sudah datang terlambat dan dengan mudahnya dia cengengesan. Lalu berharap agar semua orang memaafkannya begitu!!
Tidak akan pernah aku maafkan dia. Benar-benar menjengkelkan.

"Hai semua, kakak adalah mentor baru di sini. Kakak ditugasin buat ngajar piano. Dan untuk alat musik yang lain, mentornya tetep kok! Hanya kelas Piano aja yang ganti mentor. So, salam kenal semuanya," katanya sembari memulai pembicaraan.

"Nggak usah basa-basi kali, langsung aja napa? Lagipula semua orang juga tahu kalau dia itu mentor baru di kelas piano ini!!" keluhku dalam hati.

"Hai kakak gantengs? Namanya siapa??" tanya Siska si cewek centil yang duduk tepat di depannya.

"Nama saya kak Tama, kuliah di sini juga, semester tiga." jawab mentor baru itu.

Setelah dia menyebutkan nama, entah mengapa aku merasa familiar dengan suara dan nama itu, aku segera menoleh ke arahnya. Dan benar saja, dia adalah Tama yang sama dengan yang pernah kutemui di taman dan di mall waktu itu. Jadi dialah guru baru di kelas piano kami. Akupun melongo dibuatnya, bisa-bisanya aku bertemu dengannya lagi, dunia ini memang sempit.

"Kakak kuliah di sini, kok Risa nggak pernah tau yah? Kalo punya kakak kelas keren kayak kak Tama," sahut Risa yang duduk di pojok kanan. Yang langsung dihadiahi oleh sorakan dari teman-teman.

"Huuuuuuuuuuuh!!" teriak semua mahasiswa di ruangan ini.

Si Risa ini memang Famous di kampusku. Dia juga sok akrab dengan kakak kelas, ya karena dia cantik dan anggun. Banyak kok yang naksir sama dia, tapi jelas dia pilih-pilih kalau cari pacar.

PianoQuarium(END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang