#15. Si Nenek Sihir

61 21 0
                                        

Jangan lupa klik Bintang yes!

"Kalau lo mau, ambil aja Kris!" terangku pada Kristy seraya menyerahkan semangkuk baksoku padanya.

"Thank's ya! kamu pengertian deh." Dengan segera Kristy langsung melahap seporsi bakso itu.

Aku terus terdiam dan merenung. Tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirku. Setelah Kristy selesai menghabiskan baksoku, ia kembali bersuara dan bertanya-tanya -lebih tepatnya kepo- tentang apa yang sedang terjadi padaku.

"Kara! lo kenapa sih? bengong gitu kayak orang galau deh. Lagi mikirin apaan coba?" tanyanya penuh selidik.

Aku bingung pada diriku sendiri, apakah aku harus bercerita dan meluapkan semua kegundahan ini pada Kristy atau tidak. Tapi ini semua masih belum jelas kronologis kejadian perkaranya, jadi untuk sementara, aku akan memendamnya sendiri dan berusaha memecahkan misteri ini terlebih dahulu. Setelah semuanya matang, baru aku akan cerita padanya.

Aku menghembuskan nafas berat, "Aku nggak kenapa-napa kok! lo-nya aja yang terlalu baper.. huh!" ledekku sambil menarik hidung mancung miliknya itu.

"Iiihh!! Lepasin gak? Jangan narik-narik dong. Mentang-mentang situ hidungnya mancung ke dalem, seenak jidatnya aja narik-narik hidung orang," ujar Kristy sembari mengusap-usap hidungnya.

"Halah... cerewet deh! Gue tinggal ke kelas dulu ya," Aku segera pergi meninggalkan Kristy tanpa menunggu jawaban darinya terlebih dahulu.

Aku berjalan di lorong koridor kampus sendirian tanpa menghiraukan mahasiswa lain yang juga berpapasan denganku. Aku semakin mempercepat langkah kakiku menuju ruang kelas. Karena aku ingin segera bersantai di sana meskipun kelas akan dimulai setengah jam lagi.

"Udahlah Kamara, lupakan semua beban dan pertanyaan-pertanyaan yang saat ini sedang melayang-layang tidak jelas, seperti roh-roh yang berkeliaran di dalam pikiranmu itu. Yang perlu dilakukan sekarang adalah fokus pada kehidupan nyata pribadimu sendiri, jangan pikirkan mengenai yang lain terlebih dahulu!" seruan dari lubuk hatiku yang terdalam.

"Fokus, fokus, fokus!" ucapku pada diri sendiri guna mengusir semua pikiran ini dan berfokus pada satu tujuan. Karena tergesa-gesa saat berjalan dan sibuk menenangkan pikiranku, tanpa disengaja aku telah menabrak seorang wanita hingga semua kertas lembaran yang dibawanya tadi jatuh berserakan di lantai koridor.

"Mmm, maaf Mbak. Saya nggak sengaja," ucapku gugup dan segera berjongkok untuk membantunya mengambil lembaran-lembaran kertas yang berserakan di lantai ini.

"Maafkan saya ya, Mbak! Saya benar-benar tidak sengaja menabrak mbak tadi. Mbaknya nggak kenapa-napa kan?" tanyaku dengan rasa penuh penyesalan sambil membantunya berdiri karena tadi dia juga sempat ikut jatuh di lantai.

Setelah wanita itu berdiri dan merapikan rambut serta barang bawaannya, ia lalu melihat kearahku -lebih tepatnya menatap- dengan raut muka kesal dan penuh kebencian.

"Heh, sepertinya aku mengenal siapa wanita ini. Wajahnya seperti tidak asing. Kurasa aku pernah bertemu dengannya sebelum ini, tapi di mana tepatnya... aku sendiri lupa," batinku menerka-nerka.

"Kamu? Dasar wanita perebut pacar orang! Makanya, kalau jalan liat-liat dong! Jangan ngelamun mulu!! Punya otak itu dipake mikir!" ujar pedas dari wanita itu yang tidak lain adalah Yara, wanita yang pernah menguyur air jus padaku di Kafe saat bersama Tama.

"Eh, mbak! Siapa juga yang merebut pacar orang! Saya nggak pernah merasa seperti itu. Dan ya! Bukannya saya sudah minta maaf karena sudah menabrak, Mbak? Saya juga sudah mengatakan bahwa saya tidak sengaja kan?" balasku tak kalah sewot dengannya.

PianoQuarium(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang