#6. Rumah Dharma No.13

91 23 4
                                        

Tak terasa sejak tante Vika bercerita tadi, entah mengapa aku mendadak sedih sekaligus tidak percaya. Sungguh rahasia di keluargaku cukup rumit untuk dipahami. Semua ini sukses membuatku berkaca-kaca, sebenarnya aku juga ingin bercerita pada tante Vika mengenai hal-hal aneh yang aku alami beberapa hari ini. Tapi apakah mungkin kalau tante Vika akan percaya padaku. Aku takut dianggap orang lain sebagai gadis aneh ataupun gila karena bercerita mengenai hal yang ilusi.

"Oh ya tante, Kara mau cerita boleh?" Akupun akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara.

"Boleh, memangnya Kara mau cerita apa?"

"Begini tante, sejak dua hari ini Kara banyak mengalami kejadian aneh yang di luar akal manusia gitu," Aku sedikit gugup saat bercerita.

"Lalu?" tanya tante Vika penasaran.

"Apakah itu hanya halusinasiku saja ataukah kenyataan?"

"Menurutmu?" Tante Vika balik tanya padaku.

Aku terdiam sesaat sembari berfikir.

"Itu nyata kok," ucap tante Vika singkat.

"Hah?" Akupun terkejut mendengar ucapan singkatnya itu.

"Kurasa memang benar, arwah piano itu sudah kembali."

"Apa maksud ucapan Tante?"

"Tunggu saja nanti malam di rumahmu, saat kau mendengar bunyi dentingan pertama dari piano itu,"

Akupun bergidik ngeri setelah mendengar ucapan Tante barusan. Tak terasa waktu sudah semakin sore. Aku segera berpamitan pada Tante. Aku harus pulang cepat karena ada janji dinner malam ini bareng Kristy, teman dari kelas musikku.

"Tante aku balik dulu ya? Udah mau malem nih. Buru-buru Tan, lagi ada janji ama temen?" ucapku pada Tante.

"Temen?" tanyanya sambil mengodaku.

"Iya tante Vika yang cantiik..   Temen cewek kok," jawabku.

"Oh ya udah ati-ati, kamu tadi kesini nggak bawa mobil?"

"Enggak. Kara tadi kesini nebeng temen. Kara bisa naik taksi kok, Tante gak perlu khawatir. Dadahh?" Aku melambaikan tangan padanya dan bergegas keluar.

Yah, lagi-lagi harus nunggu taksi. Tapi syukurlah kali ini ada sebuah taksi yang lewat. Aku segera menghentikan taksi tersebut.

"Pak!!  Pak!!  Berhenti!!!" teriakku sambil melambaikan tangan pada supir taksi itu.

Setelah taksi itu berhenti, kubuka pintunya dan segera duduk di kursi penumpang. Taksi itu segera melaju meninggalkan pekarangan rumah tante Vika.

"Mau kemana, Non?" tanya pesupir taksi itu.

"Anterin saya ke rumah Dharma Nomor 13 di Jalan Kenanga Blok 5 yah?" kataku pada Pak supir dengan ramah.

Seketika taksi itu berhenti mendadak. Aku yang terkejut, tanpa sengaja kepalaku membentur kursi kemudinya.

"Rumah Dharma nomor 13?" tanya Pak Supir itu lagi untuk memastikan apakah dia tidak salah dengar.

"Iya Pak,"

"Setahu saya rumah itu tidak ada, Non?" kata pesupir itu.

"Tidak ada, maksud Bapak?"

"Iya Non. Maksud saya rumah itu sudah tidak berpenghuni sejak tahun 1967 karena pernah terjadi kebakaran di rumah tersebut. Bahkan pemerintah juga sudah menghancurkan rumah tersebut dengan Buldoser. Katanya rumah itu berhantu, tapi sekarang rumah itu sudah tidak ada dan musnah," tutur pesupir itu yang membuatku semakin penasaran mengenai rumah tersebut.

PianoQuarium(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang