4 - Bayangan Hilang

2.5K 204 5
                                        

Hari ini hari Sabtu, Airin menunggu Anggia didepan gerbang rumahnya. Airin melihat sekelilingnya dengan keadaan hening. Airin menutup matanya dengan pelan.

"Muncullah, beritau aku apa yang harus ku lakukan"

"Pergi kerumah yang ku tuju! Aku hanya ingin orangtuaku sadar dan mengakui kesalahannya"

"Siapa namamu?"

"Gita"

Mata Airin sontak terbuka lagi mendengar teriakan dari Anggia yang baru saja datang kerumahnya.

"Airin!" Airin melihat ke arah suara tersebut, Lalu menghampirinya.

"Kita kesana naik apa?"

"Kereta"

"Sekarang?"

"Iya"

***

Sesampai ditempat yang dituju, Airin dan Anggia lalu menuruni kereta tersebut dan mencari alamat yang tertulis di selembar kertas.

Cukup lama berkeliling, Bahkan hampir 30 menit mereka tak mendapat alamat tersebut.

"Permisi Bu, Alamat ini dimana ya?" Tanya Anggia kepada seorang wanita yang lewat disana.

"Tinggal lurus, Terus belok kanan"

"Terimakasih Bu" wanita itu lalu tersenyum mengangguk dan pergi dari hadapan Anggia dan Airin. Mereka lalu berjalan ke arah yang dituju ibu tersebut.

Tok...tok...tok...

"Permisi ibu" ketok Anggia sekali lagi, Kali ini lebih keras ketukannya dari sebelumnya

"Kayaknya gak ada orang" ucap Airin menatap Anggia

"Iy--"

SKRETT!!!

Seorang wanita berparuh baya memakai daster berwarna hijau dengan wajah kusutnya.

"Ada apa kalian kesini?" Tanya wanita tersebut.

"Apa benar ini rumah orang tua Gita?" Tanya Anggia, Membuat raut wajah wanita itu berubah.

"Tidak! Kalian salah orang" jawab wanita itu berbohong, Lalu ingin memasuki rumah tersebut sayangnya, Tangannya ditahan keras oleh Airin.

"Jangan berbohong!" Cetus Airin

"Kalian siapa!? Saya tidak mempunyai anak!"

"Jangan berbohong! Sudah saya bilang!" Airin semakin memperat pegangannya di tangan wanita tersebut. Wanita tersebut lalu bersontak kesal.

"Lepas!!! Sudah saya bilang pada kalian, Rumah ini bukan rumah orang tua Gita!"

"Ibu, Kami mohon, Ayo bicarakan baik baik" bujuk Anggia.

"Apa mau kalian?"

"Saya hanya ingin ibu mengakui pembunuhan yang terjadi pada anak ibu"

"Pembunuhan? Apa!? Jangan coba coba ya fitnah saya"

"Ibu, Setidaknya sedikit aja ibu merasa bersalah membunuh anak ibu. Dia anak kecil, Bahkan tak pernah merasakan kasih sayang. Anak itu darah daging ibu, Kami tidak perlu apa apa, Kami hanya perlu ibu memgakui semua ini. Apa ibu tenang dalam kebohongan ini?" Cetus Airin menjelaskan.

"Masuklah!" Pinta wanita tersebut, Airin dan Anggia lalu tersenyum kecil dan memasuki rumah sederhana tersebut.

"Kenapa ibu membunuh anak ibu? Apa dia mempunyai salah besar?" Tanya Anggia

"Tidak, Ini hanya karena berantem nya saya dengan suami saya" jawab wanita tersebut lalu menundukkan kepalanya kebawah, Matanya berkaca kaca seakan menahan tangisannya.

"Suami ibu?" Ucap Anggia

"Ah, Karena pertengkaran itu membuat suami saya emosi. Ia mengambil pisau, Niatnya memang membunuh saya, Tanpa sengaja pisaunya tertuju pada perut Anak saya. Dia lalu pergi, tidak mungkin jika saya menyerahkan pada RT, bisa saja saya dikira pembunuh" jelas Wanita, Ibu Gita.

"Saya kesini, Hanya ingin ibu mengakui apa yang sudah ibu perbuat, Tidak salah kan kalau ibu hanya mengakui?" Cetus Airin

"Saya tidak mau dipenjara, Yang membunuh itu adalah suami saya! Bukan saya!!" Protes Ibu Gita, Anggia memutarkan bola matanya dengan malas.

"Baiklah, Dimana suami ibu?"

"Suami saya sudah bersama wanita lain, Tolong jangan penjarakan saya" mohon ibu Gita

"Kami tidak memenjarakan ibu, Mungkin ini hanya sidang yang akan dibuat. Ibu hanya perlu mengaku kesalahan" ucap Anggia, Ibu Gita lalu mengangguk pelan.

***

Polisi mengambil jazat Gita yang berada dibelakang rumahnya. Mayat tersebut sudah busuk bahkan tidak didoakan saat dikubur.

Memang saja, Ibu Gita sering mengalami hal aneh, Menurutnya itu hanya imajinasinya karena lelah.

Tanpa basa basi, Karena waktu hampir menjelang malam, Airin dan Anggia pulang kerumahnya masing masing. Airin masih saja merasakan ada yang aneh pada dirinya.

"Rasa apa ini?" Airin berjalan menaiki tangga rumahnya dan memasuki kamarnya. Ia menatap ruangannya yang begitu dingin, Padahal AC/kipasnya tidak pernah dibuka.

"Airin~~" panggil seseorang melalui bisikan dekat dengan telinga Airin. Airin lalu merinding dan memegang lehernya dengan kedua tangannya

"Siapa kamu?" Dengan berani, Airin berteriak menatap sekelilingnya.

"Aku Gita, Aku hanya ingin berterima kasih sebelum aku pergi menjauh dari bumi" Gita lalu memunculkan dirinya sambil memegang boneka nya, Ia menatap Airin dengan tersenyum kecil.

Wajahnya masih berlumuran darah, Rambutnya masih berantakan dan bersebaran darah. Airin lalu menatap gadis itu dengan senyum kecil terukis di bibirnya.

Perlahan lahan, Bayangan gadis itu menghilang dari hadapan Airin. Airin terdiam lalu melambaikan tangannya depan pelan.

Airin lalu merebahkan tubuhnya ke kasur, Dirinya sangat lelah dengan aktivitas dihari ini.

Hatinya campur aduk, Antara bahagia dan lelah. Bahagia karena semua masalah telah kelar, Umm.. mungkin tidak semua, Atau mungkin akan ada yang baru lagi?

Dan lelah karena tidak dapat beristirahat dari pagi hingga sore. Ia hanya berjalan terus saat berada disana.

Airin juga menjadi saksi sidang tersebut untuk kesekian kalinya, Menerima minta maaf dan terimakasih sudah biasa untuk Airin. Ia tak sombong untuk memamerkan kelebihannya, Malah ia senang membantu orang.

Dan malah ia tidak akan menyakiti orang yang membencinya.

***

A/n : hayo, Ada ga sih sifatnya yang kayak Airin. Baik<3

FEARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang