Karena Dia Temanku

117 11 7
                                        

Bel sudah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar untuk pulang. Bagi yang punya kegiatan eskul, mereka harus tinggal untuk kegiatan. Yuga keluar kelas terlebih dahulu. Dia memutuskan untuk bolos eskul. Ini pertama kalinya dalam hidup, Yuga bolos sebuah kegiatan.

Yuga pergi menuju ruang musik. Para murid yang ikut eskul musik hari ini sedang keluar untuk berlatih ditempat yang lebih besar. Yuga kemudian masuk dan melihat-lihat. Sebuah piano menarik perhatiannya.

Dibukanya penutup piano itu. Kemudian dia duduk dan mulai menekan tuts piano. Yuga memainkan sebuah lagu.


Yuga memainkannya seperti seorang pianis handal sambil menyimak lagu yang ia mainkan.

Stella yang sedang mencari Yuga tak sengaja mendengar sebuah lagu. Lagu itu enak didengar. Tapi kalau disimak, terdengar sedih juga. Stella memutuskan mengikuti suara itu. Ternyata berasal dari ruang musik.

Dia melihat, Yuga yang sedang memainkan lagu itu. Entah kenapa, setelah melihat Yuga, lagu ini terdengar menjadi lebih sedih. Itu yang ada dipikiran Stella. Dia mendengarkan lagu itu sampai habis. Setelah selesai, Yuga kemudian menatap Stella.

"Lo gak eskul? " Tanya Yuga.

"Lo sendiri? " Stella malah balik bertanya.

"Gue lagi mau nenangin diri. " Yuga menatap keluar jendela. Ada. Klub baseball yang sedang berlatih.

"Kalo lo suka, kenapa lo lepas? " Tanya Stella. Terjadi keheningan beberapa saat.

"Kadang, ada saatnya gue harus berkorban sesuatu demi sesuatu. " Ucap Yuga. Ucapan Yuga kali ini agak aneh, menurut Stella.

"Maksudnya?" Stella masih belum mengerti. Yuga menghela nafasnya.

"Lo tau gak? Gue suka film Spongebob. " Yuga mengganti topik.

"Hah? " Stella merasa tau sesuatu yang baru dari Yuga.

"Gue suka Patrick. " Lanjut Yuga.

"Kok Patrick? Dia itu kan binatang yang paling bodoh. " Stella bingung.

"Ya, dia memang bodoh. Tapi dalam persahabatan, dia sungguh luar biasa. " Jelas Yuga.

"Luar biasa gimana? "

"Dia pernah bilang gini. 'Pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu.' Gue suka waktu dia bilang gitu. " Terlihat kalau Yuga sedang tersenyum.

"Jadi? " Stella masih juga belum mengerti.

"Lebih baik jadi idiot daripada kehilangan sahabat. Mungkin sedikit mirip sama gue. " Yuga menggantungkan ucapannya.

"Lebih baik mengalah daripada kehilangan sahabat. " Lanjutnya. Stella tertawa.

"Lo ngomong apaan sih? Ngaco tau gak. " Stella tertawa makin keras. Yuga memang orang yang tidak bisa berkata bijak. Itulah yang menurut Stella sangat lucu.

Stella tiba-tiba terdiam. Dia seolah sedikit mengerti tentang ucapan Yuga.

"Lo ngerelain Shiro sama Mekichi karena-"

"Karena dia temanku. " Yuga memotong perkataan Stella sambil tersenyum. Stella diam kemudian menangis tersedu-sedu.

"Lo kenapa kuat banget sih? Kenapa? Kenapa lo lebih milih persahabatan daripada percintaan. Kenapa lo lebih mikirin orang lain daripada diri lo sendiri. " Stella menangis makin jadi.

"Karena, kalian semua berharga buat gue. Gue ga sanggup kalo harus kehilangan teman yang berharga lagi. " Yuga berdiri dan mendekati Stella. Dia mengelus kepala Stella. Stella kaget dan terdiam lalu menatap Yuga.
"Gue yang patah hati kenapa lo yang nangis sih. " Yuga tertawa kemudian mengusap air mata Stella. Stella kembali menangis lalu memeluk Yuga.

"Gue janji! Gue bakalan bikin lo bahagia! Gue bakalan bikin lo gak pura-pura tersenyum saat sakit! Gue bakal bikin lo tunjukin muka lo saat sedih! " Stella makin kuat memeluk Yuga. Yuga tersenyum dan membalas pelukan Stella.

"Oke, gue pegang kata-kata lo. " Bisik Yuga pada Stella. Stella merasa bahagia. Senang sekali.

Diluar, terlihat Naru dan Steven yang mendengar ucapan mereka. Mereka berdua pun pergi kearah yang berbeda. Sakit, itulah yang dirasakan Steven dan Naru saat melihat Yuga dan Stella.

Selamat, gadis yang kucintai -Steven

Berbahagialah, pria yang kucintai -Naru.

Naru kemudian pergi. Ada Ryuu yang menunggunya. Ryuu melihat mata Naru yang basah karena air matanya.

"Anu, karena Shiro pulang bareng Mekichi, gue jadi sendiri. Mau pulang bareng? " Tanya Ryuu ragu.

Naru tersenyum, padahal dia sedang menangis. Itu membuat Ryuu sedikit sedih.

"Iya! " Jawab Naru. Ryuu datang dan memberikan sapu tangan pada Naru.

"Hapus dulu air mata lo. Gue sedih ngeliatnya. " Wajah Ryuu terlihat memerah. Naru menerima sapu tangan itu dan mulai mengelap air matanya.

"Terima Kasih! " Wajah Ryuu makin memerah melihat Naru.

"A-ayo pulang! " Ryuu membelakangi Naru dan berjalan duluan. Naru pun mengikutinya.

**

Steven turun dari tangga. Dilihatnya ada Hanabi yang menunggunya. Segera dia mengelap air matanya.

"Kakak kenapa? " Tanya Hanabi.

"Ah, yah... Gue baru aja dicampakkan. " Steven memegang tengkuk lehernya. Hanabi terkejut, timingnya sungguh tidak pas.

"Dia memang pantas bahagia sama cowok yang dia suka. Daripada sama gue yang aneh kayak gini. " Steven tersenyum pada Hanabi. Hanabi diam, tak tahan melihat Steven yang sedang berpura-pura.

"Suka.. " Gumam Hanabi.

"Apa? " Steven merasa kurang jelas mendengar perkataan Hanabi.

"Gue suka sama lo!" Perkataan itu meluncur mulus dari mulut Hanabi. Steven terkejut.

**
Hari itu, semua berubah. Kisah persahabatan mereka perlahan-lahan berubah menjadi percintaan. Inilah kenapa disebuah persahabatan selalu dilarang adanya cinta.

Pengorbanan, merelakan, sakit hati, semua sudah dirasakan oleh delapan sahabat ini. Demi menjaga keutuhan hubungan mereka.

Kisah mereka akan diceritakan satu persatu agar menjadi jelas. Pernyataan Hanabi, usaha Ryuu yang ingin melihat Naru bahagia. Dan yang lain. Mungkin akan diperjelas nanti.

***TBC***

BFF Story [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang