Bab 4 - Sekretaris?

341 42 11
                                        

Kathryn mulai terbangun saat ada orang yang mengguncangkan tubuhnya. Dia mengedipkan matanya berkali-kali. Kathryn memosisikan tubuhnya dengan duduk. Dia menatap orang yang selalu membantunya dengan menyipit. Nyawanya pun terasa belum terkumpul sempurna.

"Mck. Kenapa kau tidur siang-siang begini?" tanya Daniel sambil berkacak pinggang. "Oh ya, aku sudah bilang ke tante Myra, kalau kau tidak perlu bekerja di kafenya. Kau aka..."

"Kau sudah gila ya?!" bentak Kathryn.

"Ha?" tanya Daniel menaikkan salah satu alisnya, bingung.

"Aku butuh pekerjaan, dan kau..." ucap Kathryn menggantung. Dia menaruh jari telunjukkan tepat di depan wajah tampan Daniel. Kini, Kathryn sudah berdiri dari duduknya, "Kau ini aneh. Kau membawaku ke kafe tante Myra untuk bekerja. Dan sekarang, kau malah tidak memperbolehkanku bekerja di sana?!"

"Eitss..." ucap Daniel sambil menyingkirkan jari Kathryn. "Dengarkan aku dulu, gadis ribet!" perintah Daniel, membuat Kathryn berdecak kesal. "Kau akan menjadi sekretaris di perusahanku!" ucap Daniel sombong. Dia menaik-turunkan kedua alisnya.

"Apa?!" ucap Kathryn terkejut. "Kau gila?! Aku tidak pernah kerja di perusahan. Dan apa kau bilang tadi? Aku menjadi serektraris?" tanya Kathryn yang memang tak mengerti dengan urusan perusahan.

"Sekretaris, bodoh!" ucap Daniel sambil mendorong dahi Kathryn, kesal.

"Nah itu lah. Aku tidak mengerti urusan perusahaan. Kau kan tahu kalau aku berasal dari desa," ucap Kathryn.

"Sekretarisku itu banyak, bukan kau saja. Dan... Kau sangat beruntung bisa menjadi sekretarisku. Karena, kau hanya perlu membantuku dan mamaku tidak akan tahu latar belakangmu," ucap Daniel santai.

"Membantumu? Maksutnya?" tanya Kathryn yang memang tidak mengerti dengan ucapan Daniel.

"Dengar baik-baik!" ucap Daniel yang di balas anggukan oleh Kathryn. "Aku akan bilang, kalau kau dari desa dan merantau ke kota ini. Kau sudah tidak memiliki orang tua, kau hanya memiliki adik yang seumuran dengan adikku. Dan aku mengenalmu, karena kau menjadi sekretaris baruku. Kau berhasil memikat hati es-ku," ucap Daniel panjang lebar. Daniel sangat jarang berbicara panjang lebar. Atau mungkin tidak pernah, setelah putus dengan mantannya.

"Sekarang aku mengerti dengan permainanmu. Baiklah. Jadi, besok lusa aku mulai bekerja?" ucap Kathryn yang sudah mulai mengerti dengan permainan Daniel. Kathryn juga sudah punya rencana untuk permainan Daniel.

"Baiklah! Kalau begitu, besok aku akan datang ke sini lagi untuk menjemputmu. Kita akan ke rumah sakit sebelum Grae di operasi. Dan, Brace memaksa untuk ikut dengan kita," ucap Daniel. Dia sebenarnya tidak suka kalau adiknya itu ikut. Pasti adiknya itu akan banyak bertanya dan tidak akan bisa diam.

"Ok. Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Kathryn.

"Ini kan apartemenku. Kau lupa? Dan kenapa kau memanggilku dengan kamu?"

"Eh iya, aku lupa. Maklum habis bangun tidur. Hehehe," ucap Kathryn sambil menggaruk-garuk tengkuknya. "Kan kita sepasang kekasih. Jadi, kita harus membiasakan untuk berbicara dengan aku-kamu, bukan aku-kau!"

Daniel hanya mengangguk. Sekarang, urusannya sudah selesai. Dia harus kembali ke kantornya. "Ingat! Pakai baju yang aku belikan tadi!" perintah Daniel yang dibalas anggukkan oleh Kathryn.

Daniel berjalan keluar. Bukan keluar dari apartemennya, tetapi dari kamarnya yang sudah menjadi milik Kathryn. Dia ingin mengambil air putih karena tenggorokannya mulai kering. Berbicara dengan Kathryn, membuatnya sangat haus.

Daniel keluar dari dapur. Dia dapat melihat Kathryn yang sedang duduk di depan sofa sambil mengotak-atik ponsel barunya. Daniel berdecak kesal karena Kathryn sangat tidak modern.

Don't Trust LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang