Bab 2 - Penyakit kambuh

418 55 4
                                        

Kathryn terbangun dari tidurnya, bukan karena suara ayam yang berkokok, melainkan suara adiknya yang mengeluh kesakitan. Grae terkena penyakit leukimia saat umurnya masih 15 tahun. Sudah tiga bulan lebih dia terkena penyakit itu.

Flashback on

Kathryn sedang berjalan santai ke rumah. Dia sangat senang setelah mendapatkan uang karena kerja kerasnya dalam perlombaan melukis. Uang itu dapat dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat Kathryn tiba di rumah, pertam yang dia lihat adalah Grae yang berdiri. Tangan kanannya memegang hidung yang mimisan dan tangan kirinya memegang kepala karena pusing.

"Grae! Kau kenapa?" ucap Kathryn yang sangat khawatir dengan keadaan Grae.

Grae jatuh pingsan di dekapan Kathryn. Kathryn yang melihat keadaan Grae langsung menelepon Kristel untuk meminta bantuannya. Sepuluh menit kemudian, Kristel datang dengan mobilnya. Kahtryn langsung membawa Grae ke dalam kursi penumpang.

Kathryn memboponh Grae masuk ke rumah sakit yang memang agak jauh dari rumah kecilnya. Kristel memanggil suster untuk membantu Grae. Setelah Grae masuk ke ruangan untuk di periksa, Kathryn dan Kristel duduk di depan ruangan dan berdoa agar tidak terjadi apa pun pada Grae.

Dokter keluar. Kathryn langsung menanyakan keadaan Grae. Kemudian, dokter menyuruh Kathryn untuk bicara di ruangannya.

"Jadi, kamu siapanya pasien?"

"Saya kakaknya, Dok. Bagaimana keadaannya? Dia sakit apa, dok?" tanya Kathryn yang sangat khawatir.

"Adik kamu terkena penyakit Leukimia."

"Apa, Dok? Tidak mungkin!" ucap Kathryn, terkejut. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang di katakan dokter.

"Penderita leukimia saat masih dalam stadium awal biasanya akan sering mengalami mimisan atau pendarahan dari hidung. Penyebab mimisan nya pun berbeda dengan yang dialami oleh orang normal yang tidak sakit leukimia. Pada umumnya mimisan bisa diakibatkan karena suhu badan yang sangat tinggi. Waktu terjadinya pun biasanya hanya singkat dan darahnya akan segera berhenti keluar," ucap dokter yang bernama Dokter Rifki itu. Dokter Rifki tidak tega melihat perempuan yang ada di hadapannya ini menagis. "Akan tetapi pada penderita leukimia, mimisan akan sering terjadi dan tidak cepat berhenti, selain itu peristiwa mimisan ini akan disertai dengan rasa pusing yang sangat luar biasa," lanjut Dokter Rifki.

"Hiks, Hiks, bagaimana agar adik saya sembuh, dok?" tanya Kathryn terisak.

"Operasi atau bisa juga dengan kemoterapi. Kalau tidak ada biaya, bisa dengan obat," ucap Dokter.

"Berapa biayanya, Dok?"

"Saya tidak tahu, kamu bisa tanyakan pada dokter senior di sini. Karena saya masih baru di sini," ucap Domter Rifki. Dokter Rifki tidak henti-hentinya tersenyum untuk menyemangati Kathryn.

"Apakah sangat mahal, Dok?" tanya Kathryn yang sudah lebih tenang.

"Itu pasti."

"Baiklah, Dok. Saya permisi. Terima kasih," ucap Kathryn pada Dokter Rifki. Dokter Rifki terus tersenyum hingga punggung Kathryn sudah tak terlihat.

Flashback off

Kathryn langsung mencari obat yang ada di kotak obat yang terbuat dari kardus bekas indomie. Kotak itu di buat sendiri oleh Grae. Grae memang sangat kreatif, tapi dia harus putus sekolah setelah lulus SMP.

Kathryn tidak menemukan obat yang dia cari. Dia tak tega melihat Grae yang meringis kesakitan dan mimisan. Kathryn memeluk Grae dengan penuh kasih sayang, berharap sakit yang diderita Grae perlahan menghilang. Grae menangis karena rasa sakit yang dia alami. Seharusnya, kemarin Grae meminum obatnya, tetapi obat itu habis.

Don't Trust LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang