Daniel menatap wajah ayahnya. Dia masih berpikir untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak menyangka kebohongan yang telah dilakukannya akan serumit ini.
"Apa ini tentang pernikahanmu atau perusahaan?" tanya Reza mengerutkan dahinya. Dia duduk di sebelah anak sulungnya.
Daniel memosisikan tubuhnya menghadap ayahnya. Gejolak yang ada di hatinya membuatnya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalahnya. Dia menghela napas. Reza masih setia untuk menunggu penuturan dari anak sulungnya itu.
Reza ikut menghela napasnya. Sudah hampir lima menit Daniel menundukkan kepalanya. Dia tidak kunjung mengatakan sepatah kata pun. Reza menepuk punggung anak sulungnya.
Daniel mendongakkan kepalanya. Tanpa sadar, dia meneteskan butiran air dari pelupuk matanya. Dia sadar dengan kesalahan yang dia lakukan. Tapi, kenapa keluarganya mendesaknya untuk menikah? Padahal, dia sudah menuruti kemauan orangtuanya untuk menjalankan bisnis keluarga. Apa itu tidak cukup?
Daniel manusia yang normal. Dia juga punya cita-cita. Dia ingin menjadi aktor terkenal. Namun, impiannya itu harus dia kubur dalam-dalam, mengingat dia harus meneruskan perusahaan keluarga. Sekarang Daniel sudah nyaman dengan aktivitas yang dijalankannya. Meski awalnya dia tidak suka, tapi dengan bekerja lama di kantor dapat mengurangi beban yang dia hadapi saat itu. Beban untuk melupakan Liza.
"Maaf, Ayah. Sepertinya aku telah memalukan Ayah. Aku tidak bisa menjadi anak yang membuat Ayah bangga. Aku-"
"Tidak. Daniel, anakku," tukas Reza sambil mengelus punggung anaknya. "Siapa bilang Ayah tidak bangga kepadamu? Ayah sangat bangga padamu. Bahkan, kau berhasil membuat perusahaan kita menjadi melejit. Meski keadaan sekarang sudah berubah dan perusahaan keluarga kita hampir rugi, tapi tetap saja kau adalah kebanggaan Ayah."
Daniel tidak bisa membohongi keluarganya lagi. Dia sangat merasa bersalah telah membohongi keluarganya.
"Ayah, sebenarnya...." Daniel menghentikan kalimatnya ketika dering telepon berbunyi.
"Hallo?"
"Kau sibuk?
"Tidak. Kenapa?"
"Em, sebenarnya barusan mamamu menghubungiku."
"Apa?!"
"Tidak usah teriak begitu.
"Ck, dia bicara apa saja padamu?"
"Em, ya kau pasti tahu. Sudahlah, aku mengantuk. Selamat malam."
Daniel meletakkan ponselnya kembali. Daniel memandang ayahnya. Reza mengerti dengan keadaan anak sulungnya itu.
"Kau belum siap sepertinya. Kau masih ingin lebih mengenalnya kan? Kalau begitu lanjutkan saja ngobrolnya. Apa kalian sedang bertengkar? Ayah harap, kamu bisa mengatasinya."
Reza pergi begitu saja dari kamar anaknya setelah mengucapkan selamat malam. Senyuman Reza menghilang semenjak pintu tertutup. Daniel merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menutup kedua matanya.
Daniel membulatkan matanya setelah menyadari sesuatu. Dia telah melupakan sesuatu. Daniel mengacak rambutnya frustasi. Padahal, tadi dia sudah menemukan kalimat yang pas untuk mengatakan pada ayahnya.
"Bodoh!" umpat Daniel pada dirinya sendiri.
Daniel mengacak rambutnya hingga rambutnya berantakan. Daniel memutuskan untuk keluar dari kamar dan mengejar ayahnya. Namun, dia tidak mendapati ayahnya di luar. Saat Daniel ingin masuk kembali ke kamarnya, dia mendengar suara orang menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Trust Love
Любовные романыHighest : 1 - #lizquen [21 Agustus 2018] 1 - #danielpadilla [23 Agustus 2018] 1 - #kathrynbernardo [23 Agustus 2018] 1 - #kathryn [23 Agustus 2018] 1 - #dj [4 September 2018] 1 - #kathniel [8 September 2018] 1 - #lizasoberano [8 September 2018] Dani...
