Baju putih dan rok abu-abu sudah melekat sempurna di tubuh Liza Soberano. Perempuan berdarah Amerika-Phillippines itu sedang menatap pantulan bayangannya di cermin.
"Kamu sungguh sangat cantik, Liza Soberano. Kamu seperti putri di dongeng yang menunggu pangeran tampan berkuda putih untuk menjemputmu. Hahahah..." ucap Liza dengan mengubah suaranya.
Liza berjalan mendekat ke arah dapur saat mencium aroma masakan mamanya. Tubuhnya berlenggak-lenggok bak model yang berjalan di catwalk. Sungguh aneh, memang. Memakai seragam SMA dan memakai polesan makeup tipis sudah membuat Liza membayangkan dirinya berjalan di catwalk.
Liza mendaratkan pantatnya di kursi kayu. Di sebelahnya sudah ada John Castillo Soberano--ayahnya--yang memandangnya penuh kebahagiaan. Anaknya sudah kelas 3 SMA. Hari itu, adalah hari pertamanya masuk sekolah sebagai siswi kelas 3 SMA.
"Kau akan kuliah di mana?" tanya Mr. Soberano tanpa menghilangkan rautan kebahagiaan di wajahnya.
"Aku ingin kuliah di Amerika, tapi aku tidak bisa meminggalkan Da... Maksutku, sahabat-sahabatku. Aku juga akan merindukan kalian. Jadi, aku akan kuliah di sini saja," jawab Liza.
"Terserah kau saja!" jawab Mr. Soberano.
Liza memakan sarapannya dengan tenang. Setelah memakan sarapannya, Liza berpamitan untuk berangkat sekolah. Seperti biasa, dia berangkat dengan teman sekelasnya. Liza dan temannya itu, sering sekali dibilang pacaran. Padahal, dia dan temannya itu hanya tetangga. Dan temannya itu juga sudah memiliki pacar. Untungnya, pacar temannya itu tidak cemburu padanya karena Liza sudah menjelaskan kalau dia tidak memiliki perasaan apa pun.
"Liza!" panggil teman Liza dari depan rumahnya. Rumah mereka saling berhadapan.
"Iya, sebentar!" jawab Liza.
Liza dan temannya itu berangkat dengan sepeda motor milik teman Liza. Sepeda motor itu memiliki tempat duduk penumpang yang kecil dan tinggi. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih, tapi di antara mereka hanya sebatas teman dan tetangga.
"Zaki, jangan ngebut yak!" ucap Liza memperingati Zaki agar tidak ngebut. Yak, teman sekelas sekaligus tetangganya itu bernama, Zaki Meigantara. Pria tampan dari sebuah komplek perumahan mewah itu memiliki banyak fans. Dari mulai siswi-siswi sekolah hingga ibu-ibu komplek, adalah fansnya. Tak heran, setiap Zaki berangkat sekolah, ibu-ibu yang sedang berbelanja sayur selalu menyapanya.
"Siap!" jawab Zaki mantap.
Lima belas menit kemudian, Zaki dan Liza sudah tiba di sekolah. Banyak pasang mata melihat mereka dengan kagum. Liza yang terkenal dengan gelar wanita tercantik dan Zaki yang mendapat gelar pria terhebat di cabang olahraga, terutama Voli.
Liza berjalan mendahului Zaki. Liza sudah tahu, kalau Zaki akan menghampiri pacarnya, yang juga teman satu kelasnya. Anita, lebih tepatnya Anita Ajeng Rahayu.
"Liza!" panggil seseorang di dekat lorong.
"Daniel?" ucap Liza tak percaya. Pria yang dia cintai sejak awal masuk SMA itu sekarang berada tepat di hadapannya. Pria itu berbeda kelas dengannya, tapi kelas mereka masih berdekatan.
"Hai?" sapa Daniel.
"Hai!" sapa Liza dengan canggung. Bagaimana dia tak canggung saat pria yang dia cintai menghampirinya dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Apakah Daniel akan menyatakan perasaannya?
"Mau ikut aku ke rooftop?" tanya Daniel yang sebenarnya ingin Liza ikut dengannya ke rooftop untuk memudahkannya mengobrol.
Liza menjawab dengan anggukan dan hal itu sudah membuat Daniel senang. Daniel menarik lengan kanan Liza dan menuntunnya ke rooftop.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Trust Love
RomanceHighest : 1 - #lizquen [21 Agustus 2018] 1 - #danielpadilla [23 Agustus 2018] 1 - #kathrynbernardo [23 Agustus 2018] 1 - #kathryn [23 Agustus 2018] 1 - #dj [4 September 2018] 1 - #kathniel [8 September 2018] 1 - #lizasoberano [8 September 2018] Dani...
