Bab 22 - Penasaran

214 28 11
                                        

"Terkadang, rasa penasaran dapat merusak semua rencana yang telah disusun rapi. Kemudian akan menimbulkan bekas yang tidak akan hilang, walau dengan usaha keras."

—o0o—

"Jangan pernah kau getar, jangan pernah menyerah. Sesuatu dapat terjadi dalam kehidupan ini. Tak perlu disesali, tak perlu ditakuti, ayo kita hadapi, ayo kita hadapi..." Brace bernyayi mengikuti soundtrack kartun Kiko yang dia tonton.

"Brace..." teriak seseorang dari belakang Brace, mengganggu acara menonton Brace.

"Mark?! Woyyyyy...." Brace berlari memutari sofa untuk bisa memeluk Mark.

Sementara Brace dan Mark sedang melepas rindu, Daniel berjalan santai menuju ruangannya. Pikirannya sekarang sedang tidak tentu arah. Liza, Enri, dan Kathryn sedang memenuhi pikirannya saat ini.

Daniel tidak peduli dengan adik dan sepupunya itu. Sebenarnya dia memiliki satu sepupu lagi. Namanya, Nash Aguas. Dia adalah keponakan dari mama Daniel. Jika Brace, Mark, dan Nash disatukan, maka dunia terasa hancur bagi Daniel. Nash yang suka selfi, Brace yang banyak bicara, dan Mark yang tidak bisa diam. Rasanya, yang paling waras di sini adalah Daniel, Grae, dan Kriss.

Daniel merebahkan tubuhnya di tempat yang paling nyaman. Pandangannya terfokus ke atas, menatap atap kamarnya. Mencoba mencari jawaban dan solusi untuk masalahnya.

Tidak terasa, sudah dua bulan menjalani hidup bersama Kathryn. Tidak dipungkiri, Daniel sedikit tertarik pada Kathryn. Karakter Kathryn yang lembut, penuh kasih sayang, perhatian, dan hangat, mampu menarik perhatian Daniel. Satu bulan lagi, kontrak Kathryn sebagai pacar pura-puranya habis.

Tiba-tiba ingatan percakapan singkat bersama Kathryn saat di London muncul. Waktu itu, Daniel menghampiri Kathryn yang sibuk menyisir rambutnya. Daniel memberikan map yang berisi surat perjanjian. Sejak saat itu, Daniel memutuskan untuk tidak ingin terlalu jauh menanggapi perasaanya. Dia tidak ingin mencintai wanita mana pun, kecuali mamanya dan Liza.

Daniel memosisikan tubuhnya menjadi duduk. Dia rasa, dia butuh mandi. Ayah dan mamanya akan pulang sore nanti. Dia akan menyari solusi pada ayahnya. Ayahnya memang tidak pernah memaksa Daniel untuk menikah. Apalagi, usia Daniel masih terbilang muda. Empat bulan lagi, usianya baru 25 tahun. Jadi, dia tidak ingin buru-buru untuk menikah.

"Apa Ayah akan marah, jika aku menceritakan yang sebenarnya?"

—o0o—

Kathryn bersama Grae dan ibunya sedang berjalan-jalan di mall. Sebenarnya, mereka ingin pergi jogging, tapi Kathryn mengurungkan rencana itu karena dia harus mencari gaun untuk dia kenakan di resepsi pernikahan James dengan Nadine.

Grae dan ibunya sedang memilih pakaian. Mereka juga akan datang ke resepsi pernikahan James dengan Nadine. Saat Kathryn berjalan mengitari pakaian, dia melihat Enri dengan Liza.

"Eh? Bukankah itu Enri? Dia kan sedang ada di Surabaya untuk mengurus cabang perusahaan Daniel. Mengapa dia bersama Liza. Ada apa dengan mereka?" ucap Kathryn sambil memandang kedua insan yang tengah asyik memakan ice cream.

Ketika Kathryn akan menghampiri Liza dan Enri, Grae memanggilnya. Kathryn berjalan ke arah Grae. Kathryn sesekali melirik Enri dan Liza. Tanpa disangka Enri melihat Kathryn yang sedang meliriknya.

Enri dan Liza menatap Kathryn dengan tatapan aneh. Kathryn segera memalingkan tatapannya pada deretan baju dan mencoba sibuk memilih baju.

Don't Trust LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang