Bab 17 - Rumah Nenek

255 27 31
                                        

Terlambat memang lebih baik dari pada tidak sama sekali, tapi jika kita terlambat menyadari tentang apa yang kita rasakan, hal itu hanya menimbulkan penyesalan semata.

—o0o—

Daniel dan Kathryn sudah sampai di Amsterdam beberapa menit yang lalu. Mereka menunggu jemputan di depan Amsterdam Airport Schiphol. Tentu saja yang menjemput adalah asisten dari Daniel. Kakek dan Nenek Daniel menetap di Amsterdam dari delapan tahun yang lalu. Jadi, Daniel tak perlu memesan kamar di Hotel.

"Setelah ini, kau harus selalu bersamaku! Jangan pernah jauh-jauh dariku! Kalau kakek dan nenekku bertanya tentang siapa dirimu, jawab saja kau adalah tunanganku. Mengerti?" ucap Daniel seraya berjalan dengan menarik kopernya.

Kathryn hanya mengangguk menanggapi celotehan Daniel. Dia mengikuti Daniel dengan berjalan santai.

Kathryn sudah tahu apa yang akan dia lakukan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kathryn sudah tahu apa yang akan dia lakukan. Jadi, tidak perlu menanggapi celotehan Daniel itu. Kathryn rasa, Daniel memang tidak ada bedanya dengan Brace.

"Hello, brother! Sudah lama kita gak bertemu ya? Kau ke sini ada urusan pekerjaan. Jadi kita gak bisa jalan-jalan deh. Hm..." ucap pria itu seperti anak kecil. Tak lama, pria itu langsung menarik tubuh Daniel ke dalam dekapannya.

"Mck, lepaskan! Nanti kita dikira gay," sergah Daniel.

"Hehehe, maaf. Kau tidak merindukanku ya?" Daniel hanya menggelengkan kepalanya melihat pria kekanak-kanakan itu. "Hm, by the way, perempuan di belakangmu tuh siapa? Pacar?" tanya Mark, sepupu Daniel.

"Bukan," jawab Daniel singkat sambil mentup matanya, entah untuk apa.

"Hai, namaku Mark, sepupunya Daniel." Mark dan Kathryn saling berjabat tangan. Daniel datang dan langsung memutus tautan tangan mereka karena berjabat tangan terlalu lama.

"Dia tunanganku! Jangan macam-macam! Kalau kau macam-macam, aku akan membunuhmu dan membuang mayatmu ke jurang!" ancam Daniel sambil memeluk tubuh Kathryn dengan erat.

"Wah, sejak kapan kau bertunangan? Bukankah setelah curhat tentang mantanmu itu kau tidak ingin mencintai seseorang lagi, ya?" ucap Mark dengan ekspresi menggoda. Yap, dia memang memiliki karakter yang hampir sama dengan Brace.

Daniel melepaskan pelukannya perlahan. Dia teringat dengan Liza. Apa kabar dia? Kenapa Enri tidak memberi tahu, kalau Liza sudah kembali. Kenapa mereka bisa berada di rumah sakit bersama? Kenapa mereka terlihat begitu akrab?

"Ayo pergi! Aku sangat merindukan nenek dan kakek," ajak Daniel sambil berjalan menuju mobil, mendahului Kathryn dan Mark.

"HEI! KAU HANYA MERINDUKAN MEREKA, HA?!" teriak Mark dengan kesal seperti orang gila. Kathryn langsung berlari untuk mengejar Daniel. Nanti dia ikut disangka gila, kalau dekat dengan Mark.

Don't Trust LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang